
Mendengar dan melihat secara langsung bicaranya Alika yang begitu dingin membuat Diandra tidak habis pikir. Harusnya wanita itu malu ketika bicara dengan nada seperti itu di hadapannya.
Tapi mungkin seperti itulah orang miskin, ketika dia sudah berhasil mendapatkan apa yang dia mau maka hilanglah etika yang dia punya.
"Astaga, kenapa bicara mu seperti itu? aku jelas datang dengan baik-baik," balas Diandra.
Dan Alika sungguh muak dengan wanita tersebut, di dalam hati wanita ini ada iblis yang bersarang, namun yang ditunjukkan seolah adalah malaikat.
"Cukup, aku tidak mau basa-basi lagi, jika kedatangan anda ke sini hanya untuk memintaku berpisah dengan Mas Ryan aku tidak akan melakukannya, paham?" balas Alika, kalau mau berdebat ayo berdebat sekalian, tidak usah sok baik, itulah yang ada di dalam pikiran Alika.
"Astaga, aku sungguh tidak menyangka kamu seperti ini Alika? jika Ryan tahu, dia pasti akan sangat kecewa. Ryan begitu mendambakan seorang wanita yang lembut," balas Diandra.
Alika langsung tersenyum ketika mendengar kalimat itu.
"Terserah kamu mau bilang apa, aku tidak peduli," jawab Alika pula.
__ADS_1
"Jika tidak ada hal lainnya lagi yang perlu dibicarakan lebih baik anda pulang saja, Aku tidak ingin membuang-buang waktu untuk hal tidak penting seperti ini, lebih baik aku mempersiapkan diri untuk pernikahanku," timpal Alika lagi. Jadi lebih berani dengan sendirinya.
Pasalnya dia begitu muak dengan sikap munafik Diandra.
"Aku akan memberikanmu penawaran sekali lagi, kamu mau uang kan? berapa? 1 miliar? 2 miliar? katakan, tidak usah malu-malu," ucap Diandra, dia masih belum menyerah, yakin dengan menyebut jumlah uang seperti ini maka Alika akan tergiur.
"1 miliar? 2 miliar? aku bahkan bisa mendapatkan lebih ketika menikahi mas Ryan," balas Alika, lengkap dengan bibirnya yang tersenyum miring.
Sebuah jawaban yang membuat emosi Diandra jadi mencuat. Namun wanita itu selalu bisa menjaga sikap untuk tetap telihat anggun. Membalas dengan ucapan yang menusuk.
"Bagus, memang itu lah yang ingin aku dengar dari mu, gadis licik tidak akan pernah bisa menyembunyikan kelicikannya," jawab Diandra, dia tertawa pelan, lalu mematikan alat perekam suara yang sejak tadi dia genggam.
"Rekaman ini tidak hanya akan sampai pada Ryan, tapi juga kedua orang tuanya, kakek Agung dan Oma Putri. Aku hanya perlu sedikit memutar balikan kata, maka habislah riwayat mu," ucap Diandra diantara tawa kecilnya yang terdengar, terus saja bicara dengan suara yang lembut namun menusuk hati Alika.
"Maaf ya Alika, sepertinya pernikahan mu dengan Ryan akan batal, hanya akan jadi angan-angan mu saja," timpal Diandra lagi.
__ADS_1
"Aku pamit," kata wanita itu mengakhiri pertemuan mereka.
"Berikan padaku!!" pekik Alika, dia menarik tangan Diandra dan hendak merebut perekam suara tersebut. Mendengar nama Oma Putri dan kakek Agung disebut membuat Alika tak bisa berpikir jernih.
Dia sungguh takut mengecewakan kedua orang tua itu.
"Lepas!" pekik Diandra pula.
Tak lama kemudian supir Diandra turun dari dalam mobil dan menyelamatkan sang majikan, supir itu mendorong Alika hingga jatuh di lantai teras tersebut.
Brug!
Dan saat itu Diandra pun segera pergi dari sana.
"Berhenti!!" pekik Alika, dia bangkit dan coba mengejar, namun mobil itu sudah lebih dulu melaju.
__ADS_1
Tanpa sadar, Alika kini menangis.
Ahk! pekiknya dengan ketakutan yang mulai menguasai.