
Deg!
Pak Ryan.
Alika sangat terkejut ketika melihat ada sang CEO di depan matanya.
Pria yang selama ini dia dan seluruh karyawan yang lain kenal sebagai pria paling dingin di dunia.
Jangankan untuk menegur para karyawan, tersenyum sedikit pun pak Ryan tidak pernah.
Tiap kali mulutnya berucap hanya perkataan pedas tentang pekerjaan.
Ryan Aditama adalah satu-satunya orang yang paling ditakuti di Aditama Air.
Bagaiman bisa dia ada di sini?
Apa Erlan yang memangilnya, di mana Erlan?
Wanita paruh baya itu, apa dia bi Santi?
Alika jadi cemas sendiri, kedua matanya bergerak asal melihat sekeliling.
Penglihatannya memang telah kembali pulih, tapi Alika harus bisa mengendalikan diri, dari rasa cemas, dan pandangan yang berlebihan.
Alika harus tenang, melihat dengan perlahan.
"Alika, tenangkan dirimu. Kamu bisa melihat ku?" tanya dokter Aresha.
Ryan dan bi Santi menatap bingung, sebelumnya mereka berdua sudah diminta untuk tenang saat perban Alika terbuka.
Dokter Aresha akan menanganinya lebih dulu, sebelum orang lain maju untuk mempertanyakan tentang penglihatan gadis ini.
Alika lantas menatap seorang wanita cantik di hadapannya, menggunakan jubah dokter dan nama pengenal dokter Aresha.
__ADS_1
Dokter Aresha. ucap Alika di dalam hatinya.
"Kamu bisa melihat ku dengan baik?" tanya dokter Aresha sekali lagi.
Dan Alika hanya mampu menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kepala. Dia tak kuasa untuk buka mulut, di hadapan sang CEO dia tak punya kuasa untuk melakukan itu.
Dimana Erlan? batin Alika, di menatap ke arah pintu, menunggu Erlan datang, mungkin sang kekasih keluar sebentar.
"Apa kamu merasa pusing?" tanya dokter Aresha.
Alika menggeleng.
"Baiklah, malam ini perbannya akan kembali di pasang, besok pagi kita buka lagi, tidak apa-apa ya?" tanya sang dokter.
"Tunggu, kenapa harus dipasang lagi dok? bukankah mata Alika sudah sembuh?" tanya Ryan, dia belum menjelaskan semuanya dan bagaimana bisa mata Alika ditutup lagi.
Dan mendengar suara itu, seketika jantung Alika berdegup tidak karuan.
Itu suara Erlan, bagaimana bisa pak Ryan memiliki suara Erlan? Alika benar-benar merasa bingung dengan apa yang terjadi. Apalagi sejak tadi dia terus mencari keberadaan sang kekasih.
Dan belum sempat dokter Aresha menjelaskan jawaban atas pertanyaan Ryan, Alika sudah lebih dulu mengeluh kesakitan ...
"Ahk!" rintih Alika, menyentuh kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
Ryan sontak mundur karena dokter Aresha segera menyentuh Alika.
"Tenang, tenang, pejamkan mata mu dulu," ucap dokter Aresha.
Alika kini hanya mendengarkan ucapan sang dokter, dia membuang semua pikirannya yang kacau.
Alika kembali memejamkan matanya, dan saat itu berkurang lah rasa sakit yang dia rasa.
Ryan dan bi Santi merasa sangat cemas, namun kemudian sedikit lega saat melihat dokter Aresha menganggukan kepalanya memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Dokter Aresha juga menggerakkan tangannya meminta agar Ryan dan bi Santi ikut tenang.
Ryan tak berkutik, tidak punya kesempatan untuk menjelaskan kenapa dia bisa ada di sini.
Dia hanya bisa melihat saat Alika menatapnya dengan tatapan takut.
Ya Allah, batin Ryan.
Dan saat itu dia kembali melihat dokter Aresha memasangkan perban baru di kedua mata Alika.
Selesai dengan tugasnya, dokter Aresha menatap ke arah sang sahabat, Ryan Aditama.
'Jangan sekarang,' ucap dokter Aresha tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak.
Namun Ryan bisa memahaminya dengan jelas. Tentang jati dirinya, jangan dulu diungkap sekarang.
Huh! Ryan hanya mampu membuang nafasnya kasar.
"Istirahat lah," ucap dokter Aresha, dia juga membantu Alika untuk berbaring di atas ranjangnya.
Alika kembali sibuk dengan pemikirannya sendiri ...
Apa Erlan pergi?
Apa pak Ryan masih disini?
Apa yang akan dilakukan oleh pak Ryan setelah ini?
"Aku pergi dulu Alika, besok pagi kita buka lagi perbannya," ucap dokter Aresha, pamit.
"Baik dok," jawab Alika patuh.
Setelah dokter Aresha dan dua perawat itu pergi, barulah Ryan dan bi Santi punya kesempatan untuk mendekat.
__ADS_1
"Al," panggil Ryan.
Deg! seketika tubuh Alika membeku, karena kini dia jadi tak bisa membedakan, ini pak Ryan atau Erlan?