Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 56 - Sepenuh Hati


__ADS_3

Oma Putri dan kak Rilly mulai sibuk untuk mengurus pesta pernikahan Ryan dan Alika, pernikahan itu pun akan digelar mewah, tak kalah dari pernikahan Reza dulu saat meminang Ajeng.


Bukan di adakan di ballroom hotel, melainkan disebuah Villa mewah milik keluarga mereka. Villa yang ada dipinggir pantai, sekaligus tempat Ryan dan Alika bullan madu nanti.


Hii, hanya membayangkannya pesta pernikahan itu saja Oma Putri dan kak Rilly senang sekali. Mereka tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.


Tepatnya pernikahan itu akan di adakan 3 Minggu lagi.


Dan sehari setelah pertemuan Alika dan seluruh keluarga Aditama kemarin, hari ini Alika, Ryan dan Kakek Agung akan pergi ke KUA untuk mengurus semua syarat-syarat pernikahannya, juga mengajukan wali hakim untuk Alika.


Mengingat selama ini Alika tidak pernah tau siapa kedua orang tuanya, bahkan seluruh keluarganya.


"Maaf Pak, saya mau tanya, jadi saat saya menikahi Alika nanti apa tidak masalah jika saya tidak menyebutkan binti-nya?" tanya Ryan.


Alika pun dengan setia mendengarkan, dia meremas kedua tangannya sendiri di atas pangkuan.


(Mohon maaf kalau ada salah ya, bisa komen untuk berbagi ilmu.)


"Tidak masalah pak Ryan, yang terpenting itu adalah wanitanya sendiri. Penyebutan nama Alika Rahman sudah cukup," jawab petugas tersebut.

__ADS_1


Beliau bahkan langsung memberi contoh untuk ijab kabulnya, 'saya terima nikah dan kawinnya Alika Rahman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai' seperti itu sudah sah.


Yang paling penting dalam pernikahan itu adalah walinya.


Dan karena Alika tidak mengetahui garis keturunannya, maka dapat mengajukan wali hakim ke Pengadilan Agama.


Seharian ini mereka bertiga sibuk mengurus itu secara langsung.


Berulang kali Alika melihat kearah kakek Agung, merasa tidak enak hati karena semua orang jadi repot begini.


"Kek, kakek pulang saja ya, biar aku dan mas Ryan yang melanjutkan," ucap Alika, saat ini mereka semua sedang berada di ruang tunggu. Sudah berada di kantor Pegadilan Agama.


"Tidak apa-apa Alika, ini juga sebentar lagi selesai, setelah itu kita semua pulang bersama," jawab kakek Agung, beliau ini irit sekali bicaranya. tapi sekali bicara selalu membuat orang lain Jadi tenang.


Sungguh, Alika jadi semakin merasa tidak enak hati. Tapi dia pun tidak bisa melakukan apa-apa.


Jam 3 sore akhirnya semua urusan itu pun selesai.


Setelah mengantarkan kakek Agung pulang ke rumah utama, Ryan pun segera mengantar Alika pulang.

__ADS_1


"Mas, maaf ya, jadi repot begini," ucap Alika lagi, akhir-akhir ini dia jadi sering sekali mengucapkan kata maaf.


Kebaikan seluruh keluarga Aditama membuatnya jadi serba salah dan dia hanya bisa mengucapkan kata maaf.


Ryan malah tertawa pelan ketika mendengar permintaan maaf itu.


"Hari ini ku hitung-hitung sudah ada lima kali kamu bilang minta maaf," ledek Ryan.


Alika langsung mengerucutkan bibirnya, tiap kali dia ingin bicara serius, Ryan selalu mengalihkannya jadi candaan. Alika tahu, Ryan bersikap seperti itu hanya ingin membuatnya merasa nyaman dengan semua ini.


Tapi tetap saja, selalu ada rasa tidak enak hati yang dia rasakan.


"Jangan minta maaf lagi, cukup cintai aku dengan sepenuh hati," balas Ryan kemudian, dia juga menggenggam erat tangan Alika, mengemudikan mobil itu hanya dengan 1 tangan.


Alika tersenyum.


"Tentu saja, aku akan mencintai kamu sepenuh hatiku," balas Alika, tulus.


Ya Allah, mendengar kata cinta itu rasanya saat ini juga Ryan ingin sekali menciium bibir sang calon istri.

__ADS_1


Astaghfirullahaladzim. Batin Ryan, sadar jika belum boleh.


__ADS_2