Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 43 - Ya Allah


__ADS_3

"Tidak perlu sungkan padaku," ucap Ryan, setelah dia berhasil mendapatkan satu kecupan di bibir Alika.


Manis, selalu rasa itu yang ia dapatkan tiap kali menyesap bibir manis sang kekasih.


Ryan bahkan tersenyum seolah tidak peduli dengan jantung Alika yang berdegup dengan hebat. Kedua mata Alika bahkan terbuka lebih lebar, nyaris keluar.


Ya Allah, itu ciuman pak Ryan. tubuh Alika saat ini sudah gemetar, dia hanya sekuat tenaga mengendalikan dirinya sendiri.


Merinding.


Jika ini Erlan, tentu Alika tidak akan merasa segugup ini. Tentu dia akan senang atau bahkan sempat membalasnya.


Tapi jika pak Ryan.


Ya Allah, Alika hanya mampu menelan ludahnya sendiri dengan kasar.


Lagi, Ryan mengelus puncak kepala Alika dengan lembut, sebelum akhirnya dia kembali beranjak dari sana, kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Alika tercenung, hanya bisa menatap pria dengan tubuh tegap itu merapikan kamar ini. Bahkan membuka lemari bajunya juga.


Ya Allah, Alika lagi-lagi hanya bisa menyebut nama Tuhan di dalam hatinya. Mencari ketenangan untuk jiwanya sendiri.


Semua kenangannya bersama Erlan kini seperti berputar ulang di dalam kepala, berputar dengan sangat jelas, namun sekarang Erlan berubah jadi pak Ryan.

__ADS_1


Bagaimana saat dia terus membentak Erlan di saat pertama kali pertemuan mereka.


Disaat Erlan menggendongnya ketika mereka keliling komplek, dan sekarang yang terbayang di dalam benaknya adalah pak Ryan yang menggendong dia.


Ya Allah, terus Alika menyebut nama Tuhan sampai tidak tahu sudah berapa kali.


Seharian ini Alika terus bicara pada dirinya sendiri bahwa Erlan adalah pak Ryan.


Bahwa pak Ryan bukanlah sang CEO dingin seperti yang dia kenal dulu, bahwa pak Ryan yang sekarang adalah kekasihnya.


Pria hangat dan penuh dengan kasih sayang.


Ya, seperti itu Alika, seperti itu. Ucap Alika, bicara pada dirinya sendiri.


Pamitnya bi Santi itu membuat jantung Alika bergemuruh, pasalnya dengan kepergian bi Santi maka dia dan pak Ryan hanya akan berdua saja di ruangan ini.


Deg! tenang Alika, tenang, dia kekasih mu.


"Besok pagi bibi akan datang lagi, tidak apa-apa ya?" ucap bi Santi.


Alika hanya bisa menganggukan kepalanya pasrah.


"Saya pamit dulu pak Ryan," ucap bi Santi pula, akhirnya dia bisa memperlakukan sang majikan sebagaimana mestinya. Seperti ini membuat bi Santi merasa nyaman.

__ADS_1


"Baik Bi, Romi sudah menunggu di bawah," jawab Ryan.


Ryan mengantarkan kepergian bi Santi sampai di depan pintu, kemudian dia pun menutup pintu kembali, lalu menghampiri Alika di ranjang.


Deg! Alika yang sedang duduk jadi seperti patung, meski dia sudah mencoba untuk terlihat santai, tapi tetap saja gerakannya terlihat ragu.


Ryan duduk di tepian ranjang. Menatap Alika lekat.


"Aku baru ingat, kamu salah satu pramugari yang waktu itu ku panggil ke ruang ku ya?" tanya Ryan.


Deg! jantung Alika makin berdebar tidak karuan.


"I-iya," jawab Alika singkat.


"Maaf ya, aku juga tidak tau kenapa dulu semarah itu. Tapi sepertinya kita sudah impas, karena di awal pertemuan kita, kamu juga selalu membentak aku."


Deg! wajah Alika berubah tegang, dan wajah seperti itu Jadi terlihat sangat lucu di mata Ryan.


Pria itu diam-diam mengulum senyum. Alika sangat cantik dengan kedua mata yang berkedip menatapnya seperti itu.


"Ya Allah, kamu cantik sekali," puji Ryan, dia tersenyum lebar dengan tatapannya yang lurus menatap Alika.


Ya Allah, saat itu juga rasanya Alika ingin pingsan saja.

__ADS_1


__ADS_2