
Karena sudah sepakat untuk membeli cincin pasangan jadi Alika dan Ryan tidak langsung pulang ke rumah, mereka lebih dulu mendatangi salah satu toko aksesoris.
Kata Ryan itu adalah toko aksesoris biasa, yang bisa mengukir nama di cincin dalam waktu sekejab. Tapi sebenarnya itu bukanlah tokoh aksesoris biasa, saat itu Ryan mengajak Alika untuk mengunjungi salah satu toko perhiasan mewah langganan keluarga Aditama.
Romi turun lebih dulu dan mengamankan situasi, bahwa Ryan telah jadi Erlan, bahwa toko ini bukanlah toko perhiasan mewah, melainkan hanya toko kecil di salah satu pasar.
Manajer toko tersebut turun tangan sendiri untuk melayani pelanggan spesial ini.
"Mau cari apa Mas?" tanya sang manajer, wanita berkelas itu mulai bersandiwara layaknya pedagang di pasar. Alika tidak tahu saat manajer tersebut menundukkan kepalanya memberi hormat pada Erlan.
"Cincin pasangan Mbak, yang biasa saja, tapi dibuat ukiran nama kami berdua," jawab Ryan.
Alika hanya mampu tersenyum-senyum saja saat itu, sebenarnya ada sofa nyaman yang bisa mereka pakai. Tapi Ryan pilih berdiri untuk menyakinkan sandiwara ini.
Ryan juga bilang bahwa toko ini sepi pengunjung dan hanya ada mereka berdua.
Bahkan Romi pun sudah minta AC nya untuk dimatikan lebih dulu.
"Ini mas, modelnya sederhana, bisa langsung dibuat sekarang namanya."
"Harganya berapa?" tanya Ryan.
"120 ribu," jelas manager tersebut, ribu artinya juta bagi mereka berdua. Cincin itu memang bukan cincin biasa, melainkan sebuah cincin berlian.
__ADS_1
"Ya sudah Mbak, saya ambil ini saja," putus Ryan.
Alika senang sekali, dia memeluk lengan Erlan penuh dengan kasih sayang. Pelukan posesif.
"Namanya siapa ya Mas?" tanya sang manajer, pura-pura tidak tahu, padahal nama yang terukir di cincin itu sudah ada di tangannya Ryan dan Alika.
"Erlan dan Alika, mbak," jawab Ryan.
"Tulisannya dibuat sama ya mbak, ada setengah hatinya, jadi kalau digabung berbentuk hati utuh gitu," jelas Ryan lagi, pura-pura polos.
Romi yang sejak tadi mendengar ucapan sang Boss terus mengulum senyum, menahan diri agar tawanya tidak pecah.
Pak Ryan benar-benar mendalami perannya sebagai seorang pelayan.
Sekitar 15 menit menunggu akhirnya cincin pasangan itu sudah jadi.
Ryan lantas mengambil tangan kiri Alika dan mulai memasangkan cincin tersebut, cantik sekali ketika terpasang dijari manis itu.
"Kamu mau memasangkannya di jari ku?" tanya Ryan.
Alika mengangguk.
Romi dan sang manajer hanya mampu menatap haru pada pemandangan tersebut.
__ADS_1
Tak menyangka juga jika pada akhirnya sang tuan muda dari keluarga Aditama jatuh hati pada gadis ini, gadis yang saat ini tengah mengalami kebutaan.
Tapi mungkin benar apa kata orang, bahwa cinta itu buta, bukan hanya mata yang sebagai penilai, tapi juga hati.
Dengan sedikit kesusahan, akhirnya Alika berhasil memasangkan cincin tersebut di jari manis Erlan.
Kini mereka telah sama-sama memakai cincin pasangan tersebut.
Alika terus tersenyum, tak menyangka juga di saat hidupnya sangat terpuruk seperti ini dia malah mendapatkan cinta.
"Terima kasih Er," ucap Alika, dia berjinjit dan memeluk Erlan erat, menggantungkan kedua tangannya di leher Ryan.
Romi dan sang manajer seketika sadar bahwa mereka harus pergi sekarang, dan membiarkan sepasang kekasih itu menikmati waktu berdua.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Ryan, kini hanya tinggal mereka berdua disini. Di ruang VIP dalam toko tersebut.
"Terima kasih untuk semuanya, terima kasih sudah membuat warna di dunia ku yang sekarang gelap."
Ryan tidak menjawab ucapan itu dengan kata-kata, dia mengecup kening Alika dengan lembut. Meski sebenarnya yang ingin dia cium adalah bibir, tapi Ryan akan sekuat tenaga menahan diri.
"Lain kali jangan bilang terima kasih, katakan saja bahwa kamu sangat mencintai aku," balas Ryan.
Alika terkekeh, dia peluk Erlan semakin erat.
__ADS_1