
"Aku mohon tenang lah, jika tidak ingin melihat ku sebagai Ryan, aku akan tetap berada di samping mu sebagai Erlan," ucap Ryan dengan begitu lirih.
Dan entah bagaimana bisa, kalimat itu seketika membuat dadda Alika terasa sesak. Sedih sekali, seperti bisa merasakan kesedihan yang serupa dari suara lirih tersebut.
Alika kembali memejamkan mata, kembali hidup di dunianya yang gelap seperti kemarin. Pelukan Erlan bisa dia rasakan dengan jelas.
Sangat hangat, hatinya tak bisa ditipu, ini adalah pelukan prianya, kekasihnya, Erlan.
Namun sungguh, menganggapnya sebagai pak Ryan terasa begitu sulit.
Mereka seperti kembali menjadi orang asing. Alika seperti harus kembali memperkenalkan dirinya dengan layak.
Ryan Aditama.
Astaghfirullahal Azim, batin Alika. Sulit sekali menjadikan dua orang itu menjadi satu.
Alika tidak bisa. Dia kembali membuka mata dan melihat dunia yang nyata.
"Aku bukan pak Ryan, aku adalah Erlan," ucap Ryan sekali lagi karena Alika hanya diam. Sementara dia terus memeluk, tak ingin melepaskan Alika sebelum gadis ini menerima keberadaannya.
Sungguh, Ryan tidak ingin pergi, dia tidak ingin diminta untuk menjauh.
"Bukannya kita sudah sepakat untuk segera menikah? apa aku harus merubahnya jadi sebuah perintah?" tanya Ryan lagi.
Sedangkan Alika makin tak kuasa untuk buka suara.
"Aku Erlan Alika, aku Erlan," mohon Ryan.
Dan mendengar suara putus asa itu, Alika jadi sedih sendiri.
__ADS_1
Perlahan Alika mendorong dada Erlan menjauh, gerakan yang lembut itu dituruti oleh Ryan.
Pria itu melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang, membuat keduanya jadi saling tatap dengan ssngat jelas.
Deg!
Wajah ini adalah wajah sang CEO. Boss dingin dengan semua sikapnya yang mengerikan.
Alika buru-buru menunduk. Lalu melihat cincin yang melingkar di jari manis mereka berdua.
Cincin pasangan.
Ya Allah. Batin Alika lagi, dia jadi lebih banyak membatin. Mulutnya tak bisa buka suara, bingung mau bicara apa.
"Al, kamu tidak akan meminta aku untuk pergi kan?" tanya Ryan.
Alika terdiam.
Alika buru-buru menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan tersebut, dia yakin Erlan tak akan main-main dengan ucapannya.
Erlan pasti akan langsung mencari topeng itu andai dia iyakan.
"Panggil nama ku, aku adalah Erlan," ucap Ryan lagi. Sungguh bukan masalah baginya Alika mau memanggil apa, yang penting mereka masih terus bersama seperti selama ini.
Dan Alika kembali menggeleng saat mendengar kalimat tersebut.
"Be-beri saya sedikit waktu," ucap Alika gugup, bicara diantara rasa takut dan cemas.
Tetap saja hanya bisa menganggap pria di hadapannya ini adalah pak Ryan. Bukan Erlan.
__ADS_1
Mendengar Alika yang bicara begitu formal, membuat Ryan semakin merasa kecewa, sedih yang membuat daddanya sesak.
Namun Ryan benar-benar diam, memberi waktu sebanyak yang Alika butuh untuk bisa menerima ini semua.
Diantara pikirannya yang berkecamuk itu, Alika terus menunduk.
Teringat tentang kebenaran yang semalam dia dengar, tentang bagaimana tiba-tiba pak Ryan memperkenalkan dirinya sebagai Erlan.
Tentang semua kenangan yang mereka lewati bersama.
Tentang rencana yang sudah mereka buat berdua.
Tentang pelukan dan genggaman erat
Tentang ciuman hingga bertukar saliva.
Ya Allah, Alika tak bisa melupakan itu semua. Sudah jadi bagian penting pula dalam hidupnya.
Tapi membuat pak Ryan menjadi Erlan, hanya akan membuatnya jadi manusia paling egois.
Alika harus bisa menerima bahwa Erlan adalah pak Ryan.
Perlahan, Alika mengangkat wajahnya. Memberanikan diri untuk membalas tatapan sang CEO.
Mulut Alika mulai terbuka, bergerak bingung ingin bicara.
"Apa? apa yang kamu simpulkan?" tanya Ryan.
Alika mengigit bibir bawahnya sendiri, sungguh saat ini dia sangat gugup dan takut.
__ADS_1
"Sa-saya tidak akan meminta Anda untuk pergi, ta-tapi saya akan menganggap Anda sebagai pak Ryan." putus Alika, setelah mengatakan itu nafasnya terengah.
Takut hingga membuat jantungnya berdegup.