
Hampir jam 9 pagi itu, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Ryan tiba di halaman rumah utama keluarga Aditama.
Belum apa-apa, jantung Alika sudah berdegup, berulang kali dia membenahi rambutnya sendiri takut berantakan.
Sungguh, Alika ingin terlihat sempurna di hadapan semua keluarga pak Ryan.
"Ayo," ajak Ryan ketika mereka berdua sudah sama-sama turun. Ryan pun kembali mengulurkan tangan kanannya untuk menggandeng Alika, tapi kali ini gadis itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak usah gandengan, nggak enak dilihat sama yang lain," balas Alika dengan suara yang lirih, bicara di antara takut menyinggung perasaan pak Ryan, tapi juga merasa tidak enak hati dengan keluarga yang lain.
Dan mendengar ucapan Alika tersebut, Ryan mengulum senyumnya, seketika ingat dengan ibunya yang galak.
Oma Putri jelas akan menatapnya dengan tajam ketika melihat dia selalu menyentuh Alika. Ryan sampai tidak bisa membayangkan ketika ibunya itu memberi ceramah panjang kali lebar.
"Benar, kita tidak perlu bergandengan tangan. Tapi percayalah aku akan selalu berada di samping kamu," balas Ryan.
Alika sontak tersenyum lebar ketika mendengar jawaban itu, dia lantas mengangguk dengan antusias.
__ADS_1
Alika yakin juga, dia bisa menangani pertemuan ini. Bersikap baik saja pada semua orang, Alika yakin ketulusannya pun bisa dirasakan oleh orang lain.
Dan pagi itu, seluruh keluarga Aditama pun sudah menunggu kedatangan Alika.
Jadi ketika gadis yang mereka tunggu-tunggu telah tiba, semua orang pun menyambut dengan begitu hangat. Langsung memberikan sebuah pelukan tanpa jarak. Bahkan Oma Putri memeluknya begitu erat.
Wajah Alika yang begitu cantik sampai membuat Sean dan kak Rilly terpesona.
"Ku pikir yang paling cantik adalah kak Rilly, ternyata Tante Alika," ucap Sean, meledek sang Tante.
Namun perdebatan mereka berdua justru semakin menambah hangat suasana keluarga di pagi hari itu.
Setelah perkenalan singkat, akhirnya mereka semua duduk di ruang tengah.
Alika kira pertemuan mereka akan terasa begitu formal, tapi ternyata. Semua orang tersenyum dengan begitu hangat.
Oma Putri bahkan langsung mengatakan bahwa selama ini Ryan telah banyak bercerita tentang dirinya, ikut prihatin saat Alika tidak tahu siapa keluarga dia sebenarnya, karena sejak kecil Alika sudah tinggal di panti asuhan.
__ADS_1
Pembahasan tentang hal itu tidak terlalu lama, karena kemudian Oma Putri menanyakan tentang kesiapan Alika, benarkah telah siap menikah dengan Ryan, bukan karena dipaksa oleh anak keduanya itu.
Pertanyaan Oma Putri sontak membuat keluarga yang lain tertawa, Ryan mengulum senyum dan Alika sendiri jadi tersipu malu.
"Insyallah siap Oma, bukan karena paksaan pak Ryan, em maaf, maksudnya mas Ryan," balas Alika dengan gugup, dan jawaban itu makin membuat semua orang lain tertawa.
Sumpah, selama ini Alika selalu bisa menahan rasa gugupnya jika hanya di hadapan Ryan. Tapi saat di hadapan seluruh keluarga Aditama seperti ini, Alika tak bisa mengendalikannya, dia benar-benar gugup, sampai salah bicara.
Dan Ryan malah jadi semakin gemas pada calon istrinya tersebut, sejak tadi dia terus menatap dengan intens. Tak bosan-bosannya menatap wajah sang kekasih.
Karena makin dia lihat, rasanya cintanya pun jadi semakin bertambah berkali-kali lipat.
"Alhamdulillah kalau seperti itu, kamu tidak perlu cemaskan apapun, semua persiapan pernikahan kalian akan Oma tangani," ucap Oma Putri.
Seluruh keluarga yang lain juga mengucap syukur yang sama, Alhamdulillah.
Dan kali ini, Alika begitu terharu. Ingin menangis, tapi dia tahan.
__ADS_1