Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 46 - Pacaran Halal


__ADS_3

Astaghfirullahaladzim. Batin Ryan ketika kesadarannya akhirnya pulih. Dia berkedip dan coba mengalihkan tatapannya dari bibir sang kekasih yang nampak menggoda.


Tanpa disadari oleh Alika dia pun membuang nafasnya dengan kasar.


Akhir-akhir ini Ryan merasa bahwa hasratnya jadi semakin tinggi tiap kali dia berdekatan dengan Alika.


Rasanya selalu ingin menyentuh lebih. ingin memeluk dengan begitu erat. Apalagi sesaat Ryan merasa bahwa dia akan kehilangan Alika, dan rasa itu membuatnya begitu takut.


Takut bahwa hatinya akan kembali sepi seperti dulu.


Karena itulah rasanya dia ingin selalu menyentuh lebih, untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Alika adalah miliknya.


Padahal seharusnya dia belum diperbolehkan seperti ini, menciptakan hubungan yang terlalu intim. Harusnya dia menikahi Alika lebih dulu.


Jika dilihat dari umur, sekarang ini memang sudah waktunya Ryan menikah. Tahun ini pria itu berusia 33 tahun.


"Sudah rapi," ucap Ryan, ketika rambut Alika kembali tersusun dengan rapi seperti tadi.


Dan Alika hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kepala yang berulang-ulang. Tidak sempat berpikir tentang Ryan yang sejak tadi jaraknya begitu dekat dengan dia.


Pasalnya saat ini Alika masih mencemaskan tentang keluarga Aditama yang lain.


Bingung bagaimana bersikap jika suatu saat nanti bertemu.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju rumah Alika saat itu, sepasang kekasih tersebut sibuk sendiri dengan pikiran mereka masing-masing.


Sampai akhirnya di jam 10.00 pagi Mereka pun tiba di rumah Alika.


Bi Santi langsung menyambut dengan antusias, dia tersenyum lebar sekali. juga langsung mengambil tas yang dibawa oleh Alika.


" Selamat datang di rumah," ucap bi Santi.


Mendengar kalimat itu hati Alika pun jadi menghangat karena dia merasa mendapatkan sebuah sambutan dari seorang ibu.


Alika tersenyum, dia bahkan langsung memeluk bi Santi dengan erat dan pelukannya itu pun mendapatkan balasan.


Mereka semua masuk termasuk Romi, karena Romi membawakan koper yang berisi baju Pak Ryan dan Alika.


Tiap sudut dia perhatikan dengan rinci, rumah yang sebenarnya masih sewa namun seperti rumahnya sungguhan.


Alika rindu berada disini, rindu bisa melihat semuanya dengan jelas seperti ini.


"Ehem!" Ryan seketika berdehem hingga membuat Alika sontak menoleh ke arahnya.


"Bi, aku ingin bicara berdua dengan Alika," ucap Ryan lagi, raut wajahnya seketika terlihat serius. Dan wajah yang seperti itu, selalu membuat jantung Alika berdegup lebih cepat.


Tiap kali berhadapan dengan Ryan yang serius seperti itu, Alika selalu merasa bahwa saat ini mereka berada di kantor.

__ADS_1


"Baik Pak," jawab bi Santi patuh, lalu menuju dapur.


Romi yang mendengar juga urung masuk lebih dalam, setelah meletakkan koper itu di ruang tengah dia pun memutuskan untuk keluar lagi.


Kini Alika hanya tinggal sendiri menghadapi pak Ryan.


Deg deg! deg deg! dia sontak berdebar.


Alika hanya bisa patuh saat tangan kirinya ditarik lalu diajak duduk di sofa ruang tengah tersebut.


"Al, sekarang kamu sudah sembuh, itu artinya aku tidak boleh lagi tinggal disini," ucap Ryan, memulai pembicaraan diantara mereka berdua.


Alika terdiam, menatap dengan intens dan mendengarkan dengan baik. Benar-benar tidak ada suara lain di sana selain yang mereka berdua ciptakan.


"Bukannya kita sudah sepakat, bahwa setelah kamu sembuh kita akan segera menikah, aku tidak ingin menundanya terlalu lama," ucap Ryan.


Deg! jantung Alika rasanya berhenti saat itu juga.


Tapi tentang inilah yang sejak tadi jadi pikiran Ryan. Sebelum dia keluar dari rumah ini dia harus bisa mendapatkan kesungguhan Alika untuk segera menikah.


"Aku ingin kita segera menikah, kita bisa pacaran dengan halal," timpal Ryan lagi.


Dan sungguh, hati Alika semakin berdebar tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2