Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 39 - Tidak Perlu Lihat Wajahku


__ADS_3

Deg deg! deg deg!


Jantung Ryan berdetak lebih cepat daripada denting jam, sesuatu hal yang juga dirasakan oleh Alika.


Ruangan ini sepi sekali, seperti hanya dipenuhi oleh detak jantung mereka berdua.


Merasakan kegugupan yang sama, apalagi ketika dokter Aresha mulai membuka perban di kedua mata Alika.


Dokter itu tidak mempermasalahkan keberadaan Ryan di samping Alika, dipikirnya Ryan sudah jujur tentang jati dirinya.


Ya Allah, batin Ryan, terus memanggil Tuhan agar hatinya bisa sedikit tenang.


Hingga akhirnya dua perban itu pun selesai dilepas.


Deg! Ya Allah, semoga semua yang ku dengar adalah salah. seseorang yang tangannya saat ini ku gengam bukanlah Pak Ryan. Mohon Alika.


Sungguh-sungguh dia memohon tentang hal itu.


Semua kenangan indahnya bersama Erlan hanya akan jadi mimpi jika ternyata pria itu adalah sang CEO.


"Alika, mulai buka matamu dengan perlahan," titah sang dokter.


Alika menelan ludahnya kasar sebelum akhirnya dia menuruti perintah tersebut.


Pelan-pelan dia membuka kedua matanya, kembali melihat bias cahaya masuk ke dalam netra, terang, pemandangan ruangan, dokter Aresha, dua perawat, bi Santi, semua itu bisa dia tangkap jelas dengan penglihatannya.

__ADS_1


Sampai akhirnya Alika menoleh ke samping untuk melihat seorang pria yang sejak tadi tangannya dia genggam.


Deg!


Ya Allah, luluh sudah semua pertahanan yang Alika punya. Seketika genggaman tangannya pada Erlan melemah, karena yang saat ini yang dia lihat adalah pak Ryan.


Astaghfirullahal Azim, batin Alika. Nafasnya jadi memburu, ada rasa cemas yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


Pikiran Alika gamang, dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang gugup. Namun kemudian dia malah merasakan tangannya yang di gengam erat oleh pak Ryan.


Ya, pria di sampingnya ini adalah pak Ryan. Bukan Erlan.


"Bagaimana Alika? Apa kamu masih merasakan sakit?" tanya sang dokter.


"Oke, tidak perlu kita pasang lagi perbannya. Tapi kamu masih harus tinggal di rumah sakit ini selama 2 hari, jika semuanya baik di hari ketiga baru kamu boleh pulang, ya?"


Alika mengangguk lagi, hanya mampu melihat senyum hangat yang diberikan oleh sang dokter.


Tangan kanan Alika yang terpasang selang infus diambil, salah seorang perawat menyuntikkan dua obat.


Dan setelahnya dokter Aresha beserta dua perawat itu pun pergi meninggalkan ruangan ini.


Bi Santi ikut keluar juga. Semua yang sudah dia rencanakan bersama pak Ryan semalam kini jadi berantakan.


Tak ingin menambah kacau keadaan, jadi bi Santi putuskan untuk menunggu di luar lebih dulu.

__ADS_1


Dan kini, di ruangan itu hanya bersisa Alika dan pak Ryan.


"Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Ryan.


Alika coba menarik tangannya yang digenggam, namun Ryan tetap menahan kuat. Alika juga terus mengalihkan pandangannya, tak ingin bersitatap.


"Aku adalah Erlan_"


"Cukup," Potong Alika cepat. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Terima kasih untuk semuanya Pak, terima kasih," timpal Alika lagi, dia masih terus berusaha melepaskan genggaman tangannya.


Sungguh, pikirannya saat ini kacau. Alika bingung harus bersikap bagaimana.


Mana bisa tiba-tiba dia menganggap bahwa Erlan adalah pak Ryan. Tidak, itu terlalu canggung bagi Alika, dia tidak bisa melakukannya.


"Al_"


"Saya mohon Pak, lepaskan tangan saya." mohon Alika, tiba-tiba dia ingin menangis.


Entahlah, hatinya tidak karuan.


Ryan juga sama bingungnya, melihat Alika yang hendak menangis, dia buru-buru memeluk gadis ini. Erat sekali.


"Tidak perlu lihat wajahku, rasakan saja bahwa ini aku," ucap Ryan lirih.

__ADS_1


__ADS_2