
Alika benar-benar menuruti keinginan Ryan untuk memakai salah satu baju pemberiannya pagi ini.
Dia terlihat begitu cantik, rambut panjangnya digerai dengan begitu indah. Alika bahkan memakai anting dan kalung pemberian Ryan juga.
Alika tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan yang sudah dia dapatkan, jadi satu-satunya cara yang bisa Alika lakukan adalah sebisa mungkin membuat sang kekasih merasa bahagia.
"Masya Allah, kamu cantik sekali Al," ucap bi Santi dengan kedua mata yang menatap berbinar.
Alika hanya mampu tersenyum untuk menanggapi kalimat itu, tidak tahu mau menjawab apa.
Hingga akhirnya perhatian kedua wanita itu pun teralihkan ketika mereka sama-sama mendengar suara pintu yang diketuk. Sayup-sayup juga mendengar seorang pria yang mengucapkan salam, assalamualaikum.
"Itu pasti pak Ryan," ucap bi Santi, dia pun buru-buru berlari untuk membuka pintu rumah mereka.
Alika mengambil tasnya dan mengikuti langkah bi Santi keluar, tapi jalan biasa saja. Hingga ada jarak yang cukup jelas di antara mereka berdua.
Tapi ketika pintu itu berhasil dibuka, tatapan Ryan langsung tertuju ke arah Alika yang berada di belakang tubuh bi Santi.
Deg!
Masya Allah. Batin Ryan. Alika terlihat sangat cantik hari ini, hingga membuatnya beberapa detik tak bisa berkata-kata.
"Pak Ryan silakan masuk," ucap bi Santi, dia membuka pintu lebar-lebar dan sedikit menyingkir dari sana untuk memberi jalan sang Tuan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya kita langsung pergi saja Mas?" tanya Alika pula, karena dia terus berjalan kini pun sudah berdiri di hadapan pria itu.
Tapi Ryan seperti tidak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Alika, seketika telinganya jadi tuli, hanya kedua matanya yang bekerja secara normal, melihat kecantikan Alika yang membuatnya terpana.
"Mas," panggil Alika lagi.
Bi Santi diam-diam mengulum senyum dan segera pergi dari sana, kalau sudah seperti ini sudah dipastikan bahwa keberadaannya tidak akan disadari oleh semua orang.
Dia hanya ngontrak.
"Mas."
"Cantik," balas Ryan, tidak nyambung. Saat mengatakan itu bahkan bibirnya tersenyum dengan sangat lebar, sementara kedua matanya sudah menatap berbinar.
"Bagaimana kalau kita langsung pergi? Aku tidak ingin membuat keluargamu menunggu," ucap Alika lagi, dia seolah bicara dengan biasa saja, padahal saat ini jantungnya berdegup dengan cepat.
Hatinya berdebar, apalagi Ryan terus menatapnya dengan intens.
Ryan kemudian menganggukkan kepalanya untuk pertanyaan tersebut, dia juga sudah tidak sabar memperkenalkan Alika secara langsung pada seluruh keluarganya.
"Ayo," ajak Ryan, dia mengulurkan tangan kanannya, dan hal itu makin membuat jantung Alika tidak karuan.
Dengan sedikit ragu akhirnya Alika menerima uluran tangan itu, menjadikan mereka saling menggenggam erat.
__ADS_1
"Tangan mu dingin sekali," tanya Ryan, dan saat itu juga Alika tidak bisa lagi menutupi hatinya yang tersipu. Tanpa kendali, kini kedua pipinya jadi merah merona.
Blush!
Ya Allah, Ryan benar-benar terpesona pada kecantikan calon istrinya tersebut.
"Bi, kami pergi," ucap Ryan dengan suara yang cukup tinggi, dia pamit.
Bi Santi pun buru-buru kembali ke depan dan menyaksikan kepergian sepasang kekasih tersebut.
Hari ini Ryan mengemudikan mobilnya seorang diri, jadi tidak akan ada Romi di antara mereka berdua.
Ketika mobil sudah melaju Alika berulang kali menarik dan membuang nafasnya perlahan, mencoba tenang dari debar yang tidak karuan.
"Mas," panggil Alika, memulai pembicaraan di antara mereka berdua. Tidak ingin suasana jadi canggung ketika mereka saling diam.
"Hem, kenapa sayang?" tanya Ryan.
"Terima kasih ya, hadiahnya banyak sekali," balas Alika.
Tapi Ryan tidak menjawab dengan kata-kata untuk kalimat tersebut, dia hanya tersenyum, lalu tangan kirinya yang ada di kemudi turun untuk menggenggam tangan Alika.
Cup! Ryan mengecup punggung tangan Alika dengan lembut.
__ADS_1
Deg deg! deg deg! Ya Allah, batin Alika. Ryan selalu berhasil membuatnya berada di tempat yang paling nyaman.