
Panggilan telepon di antara Alika dan Oma Putri sudah terputus, Alika kembali meletakkan ponsel itu di atas meja lalu menghadap ke arah calon suaminya.
"Apa kata Oma Putri?" tanya Ryan langsung, dia lebih dulu mengajukan pertanyaan sebelum Alika sempat menjelaskan tentang telepon tersebut.
"Oma minta mas Ryan pulang, katanya mau dimarahi," jawab Alika jujur, tapi entah kenapa dimata Ryan Alika terlihat lucu sekali ketika mengucapkan kalimat itu.
Dia bahkan sampai tersenyum kecil di sudut bibirnya.
"Kok malah ketawa, mas tidak percaya?" tanya Alika, menatap lebih intens.
"Percaya kok, aku akan langsung menemui Oma, ya?" pamit Ryan pula, jika Oma Putri memintanya untuk datang dia pun tidak ingin membuat sang ibu menunggu lama.
Dan Alika pun menganggukan kepalanya setuju. Alika juga tidak ingin membuat Oma Putri menunggu terlalu lama.
"Boleh cium lagi tidak?" tanya Ryan, karena ingin mencium tiba-tiba tapi tidak menemukan momennya. sementara langsung pergi begitu saja dia merasa tidak rela. Butuh sedikit lumaatan.
Alika tidak menjawabi pertanyaan itu, dia hanya menunjukkan tatapannya yang begitu tajjam.
Dan membuat Ryan jadi tertawa dengan suara yang terdengar jelas.
"Pipi saja," ucap Ryan, lalu bergerak cepat untuk mencium pipi sebelah kiri calon istrinya tersebut.
__ADS_1
Cup!
Sebuah kecupan yang terasa begitu jelas menempel di pipinya, sampai menciptakan gelayar aneh di tubuh Alika.
Ya Allah, Ryan selalu saja membuatnya seperti ini. Jantung yang berdebar tidak karuan.
"Aku pergi, assalamualaikum," ucap Ryan dengan buru-buru, secepatnya kabur setelah mencuri ciuman itu. Tidak ingin Alika memukul tubuhnya.
Ryan pergi dengan senyum yang jelas terukir lebar, membuat Alika pun ikut tersenyum juga.
Alika lalu menunduk malu sendiri ketika calon suaminya itu terdengar menutup pintu rumah.
Hampir magrib akhirnya dia tiba di sana, setelah menyapa kedua orang tuanya dan beberapa keluarga yang dia temui Ryan pun langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri di rumah ini.
Belum bisa menghadap Oma Putri untuk menanyakan kenapa dia diminta untuk datang.
Namun setelah makan malam bersama, barulah kini Ryan di hadapkan langsung kepada ibunya tersebut.
Oma Putri minta untuk bicara berdua saja di dalam kamar anaknya itu.
Mengunci pintu rapat-rapat, benar-benar berniat untuk memarahi anaknya tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu masih mencintai Diandra?" tanya oma Putri langsung, itu adalah pertanyaan pertama yang ingin dia tanyakan.
Kedatangan Diandra sore tadi benar-benar mengganggu pikirannya, apalagi jika ingat selama ini Ryan berubah jadi pria yang sangat dingin setelah putus dengan wanita tersebut.
Perubahan sikap yang seolah menunjukkan bahwa Ryan begitu patah Hati, begitu cinta kepada Diandra.
Oma Putri sungguh tidak ingin jika anaknya itu hanya menggunakan Alika sebagai pelampiasan.
jika benar seperti itu maka oma Putri tidak akan segan melayangkan sebuah pukulan di wajah anaknya sendiri.
"Astaghfirullahaladzim, kenapa oma bertanya seperti itu?" balas Ryan, sangat terkejut ketika mendengar pertanyaan itu.
Ryan bahkan merasa tidak pernah ingat kapan dia mencintai Diandra.
"Oma masih ingat dengan sangat jelas Ryan, ketika kamu putus dari Diandra, kamu langsung mensibukan diri dengan pekerjaan dan keluar dari rumah ini, lalu berubah jadi pria yang sangat dingin. Oma sedih sekali waktu itu Ryan, tapi tetap memberi waktu kamu untuk sendiri. Sikap mu itu menunjukkan bahwa kamu sangat mencintai Diandra, bahkan mungkin tidak rela putus dengannya dan membiarkan wanita itu menikah dengan pria lain."
Oma mengambil jeda, sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya.
"Sekarang Diandra sudah janda, apa kamu berpikir untuk kembali dengan dia?"
Astaghfirullahaladzim. Batin Ryan.
__ADS_1