
Alika sudah berada di rumah sakit selama dua hari setelah dia menjalani operasi, dan selama itu pula tidak ada keluhan yang diutarakan oleh Alika.
Selama 2 hari itu juga, akhirnya Alika benar-benar bisa menerima pak Ryan di sisinya. Meski tetap saja, kadang jantungnya berdetak di luar kendali.
Alika sudah meminta maaf dan mengucapkan terima kasih sekaligus. Jadi meski kini pria itu dia kenal sebagai pak Ryan, tetap tak akan merubah semua kenangan indah yang mereka punya.
Di malam terakhir, bahkan Ryan dan Alika menyatukan cincin pasangan mereka hingga membentuk hati.
Alika tersenyum saat itu.
Dan Hari ini gadis cantik itu sudah diizinkan untuk pulang.
Untuk pertama kalinya akhirnya Alika bersitatap langsung dengan asisten Romi.
Seseorang yang di matanya sama saja mengerikannya seperti pak Ryan.
Terus berorientasi pada pekerjaan yang sempurna, tidak mentolelir sedikitpun kesalahan.
Selain pak Ryan, Alika pun sangat menghormati asisten Romi.
Tapi kemudian pagi ini dia malah melihat pria berwajah datar itu menundukkan kepalanya memberi hormat kepada dia.
"Selamat pagi Nona," sapa asisten Romi, lengkap dengan kepala yang menunduk.
Alika mendelik, buru-buru menundukkan kepalanya juga.
__ADS_1
"Selamat pagi asisten Romi," balas Alika tak kalah sopan, bahkan bukan hanya kepala yang menunduk, tubuhnya pun ikut sedikit membungkuk.
Ryan yang melihat adegan itu hanya bisa terkekeh pelan.
Memang banyak hal yang harus Alika biasakan lagi setelah wanita itu mendapatkan kembali penglihatannya.
Jam 9 pagi setelah melakukan pemeriksaan terakhir dan mengurus semua administrasi, akhirnya Alika dan Ryan pulang.
Ryan mengulurkan tangan kanannya ingin mengandeng Alika.
Dan dengan jantung yang berdebar, Alika pun menerima uluran tangan itu.
Deg! Ya Allah, batin Alika
Ryan menggenggam tangannya dengan begitu erat. Hingga membuat aliran darrah Alika terasa mengalir lebih cepat daripada biasanya.
"Ini taksi kita selama ini ya?" tanya Alika, dia mulai berani memulai pembicaraan lebih dulu.
Ryan tersenyum, lalu mengangguk.
Dan Alika tidak pernah bisa marah dengan semua kebohongan pak Ryan, karena dia sangat tau semua itu hanya demi kenyamanan dia sendiri.
"Jadi asisten Romi selama ini pura-pura jadi sopir taksi?" tanya Alika dengan suara yang sangat pelan, berbisik di dekat telinga sang kekasih.
Tidak ingin asisten Romi sampai bisa mendengarnya.
__ADS_1
Dan untuk pertanyaan Alika kali ini, lagi-lagi Ryan menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala.
Ya Allah, Alika rasanya ingin berteriak frustasi. Karena ternyata banyak sekali hal di luar nalar yang terjadi selama dia tidak bisa melihat.
Ryan lantas membuka pintu mobil itu untuk Alika, dan mempersilahkan gadisnya masuk.
Rasanya benar-benar sama, seperti taksi yang dia naiki selama ini.
"Em, sa ... yang," panggil Alika malu-malu, tapi masih ada satu hal yang ingin dia tanyakan dan pertanyaan itu sejak tadi sangat mengganggu pikirannya.
"Hem, kenapa sayang ku?" balas Ryan.
Ketika mereka berdua sudah duduk sempurna di dalam mobil itu, asisten Romi pun segera melajukan mobil untuk keluar dari area rumah sakit ini dan masuk ke jalan raya.
Alika kembali melanjutkan apa yang ingin dia tanyakan ...
"Aku mau tanya, selain kamu, bi Santi dan asisten Romi, apa ada yang tau tentang Erlan?" tanya Alika ragu-ragu.
Ryan tersenyum, siap menjawab tanpa pikir panjang.
"Hem, ada."
"Siapa?" tanya Alika buru-buru.
"Keluarga ku."
__ADS_1
Deg! jawaban Ryan itu, seketika membuat jantung Alika seperti mau rontok.