
Setelah memberikan banyak kejutan, akhirnya Ryan pamit untuk pulang.
Tidak mungkin dia menginap di sini, takut nanti akan banyak setan yang menggodanya untuk memiliki Alika secara penuh.
Astaghfirullahaladzim, Ryan bahkan terus membatin beristighfar. Lama-lama kesadarannya benar-benar akan hilang.
Alika sudah seperti candu baginya, makin dia lihat makin membuatnya hilang kendali.
Omaaa, aku ingin segera menikahi. Batin pria itu lagi. Seperti tidak punya waktu untuk menunggu. Secepatnya Dia harus mempersunting Alika.
"Kita pulang ke rumah utama," titah Ryan pada sang asisten ketika dia sudah masuk ke dalam mobil.
"Baik Pak," jawab Romi, dia mulai menyalakan mesin mobil dan segera pergi dari sana.
Alika yang sejak tadi berdiri di ambang pintu dan melihat kepergian sang kekasih hanya mampu tersenyum, senyum yang jadi semakin lebar ketika melihat mobil itu menjauh.
Pak Ryan memang sudah pergi, tapi jantungnya masih setia berdebar tidak karuan.
Ya Allah, batin Alika. Dia sentuh daddanya sendiri. Masih tidak menyangka jika di kisah hidupnya akan ada cerita seindah ini.
Alika merasa dia sudah seperti Cinderella, gadis yang malang namun kemudian dinikahi oleh seorang pangeran.
"Al, ayo masuk," ajak bi Santi. Sudah cukup lama sejak Alika mengantarkan pak Ryan pergi, tapi Gadis itu tak kunjung masuk ke dalam rumah. Karena itulah bi Santi keluar untuk memanggil.
__ADS_1
Bagaimana Alika baru saja pulang dari rumah sakit, jadi gadis itu harus segera beristirahat.
"Iya Bi," balas Alika, ketika dia menoleh ke belakang, Alika sudah melihat bi Santi di hadapan.
Alika tersenyum, dia pun segera menutup pintu rumah.
"Kamu tenang saja, keluarga Aditama itu baik-baik, sangat baik malah," kata bi Santi, di antara langkah kaki mereka yang semakin masuk ke dalam rumah.
Alika terdiam sesaat, dia menarik dan membuang nafasnya dengan perlahan. Bi Santi dan pak Ryan memang terus meyakinkan dia bahwa semuanya baik-baik saja.
Tapi tetap saja, ada rasa tak pantas yang menyelimuti hatinya. Alika sangat bisa jika diminta untuk sadar diri.
"Masalahnya bukan hanya tentang keluarga pak Ryan saja Bi, tapi aku sendiri yang takut. bagaimana tanggapan orang-orang, jika pak Ryan menikahi aku," jawab Alika.
Pak Ryan bukan orang biasa, dia dikenal oleh banyak orang dan kalangan. Dikenal terpandang dan sangat terhormat.
Bagaimana pun Alika adalah pramugari di perusahaan Aditama Air, fakta itu tidak akan bisa diubah.
Dan apakah menikahi Alika tak akan merusak citra pria baik tersebut. Disaat pria itu bisa menikahi seorang nona muda yang lebih layak.
Alika tak bisa bohong pada dirinya sendiri, bahwa itulah yang paling dia cemaskan.
Terlebih selama ini Alika selalu hidup dengan menghindari masalah, dia bahkan membatasi pertemanannya sendiri agar tidak punya banyak urusan.
__ADS_1
Andai saja, pak Ryan adalah Erlan yang hanya pelayan. Semuanya pasti tidak akan sesulit ini bagi Alika.
Entahlah, Alika berulang kali memainkan cincin berlian di jari manis tangan kanannya.
Dan sebelum menjawab pertanyaan Alika itu, bi Santi lebih dulu tersenyum dan menggegam erat tangan Alika.
"Bukan kah kamu mencintai pak Ryan? kalau begitu perjuangkanlah cinta itu Al, lawan semua ketakutan mu. Memangnya kamu rela kalau pak Ryan atau Erlan pergi dari hidup kamu?" tanya bi Santi pula.
Dan pertanyaan itu membuat hati Alika seketika berdenyut nyeri. Apalagi bi Santi kembali membawa-bawa nama Erlan.
Nama yang telah melekat di dalam hatinya.
Membayangkan kehilangan sudah membuat daddanya sesak.
Pelan Alika menggeleng.
"Apa aku boleh egois Bi, memiliki pak Ryan?"
Bi Santi mengangguk.
"Boleh, egois saja, carilah kebahagiaan kalian berdua. Jangan pedulikan apapun, cinta itu membuat yang berbeda jadi sama, karena cinta itu yang saling menyempurnakan," balas bi Santi dengan yakin.
Hingga hilang semua keraguan di hati gadis cantik itu. Akhirnya Alika menjawab IYA dengan bi Santi, bukan dengan pak Ryan.
__ADS_1