Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 73 - Datang ke Villa


__ADS_3

Seminggu sebelum pernikahannya Ryan dan Alika, dua insan itu dipingit.


Di rumah kontrakan Alika sekarang bukan hanya ada bi Santi saja, tapi sudah ada dua pelayan lainnya lagi untuk menjaga calon menantu keluarga Aditama tersebut.


Ryan juga akhirnya pulang ke rumah utama, tidak lagi tinggal di rumahnya sendiri.


Nanti setelah menikah, barulah Ryan akan tinggal disana bersama istrinya.


Ya Allah, Ryan rasanya sudah tidak sabar menunggu hari H. Rasanya ingin tidur dan menikah sudah pada tanggal pernikahan.


4 hari dipingit, Ryan mulai belingsatan, bergerak kesana kemari tidak tenang. Apalagi Oma Putri juga menyita ponselnya, gara-gara ketahuan video call di malam kedua setelah dipingit.


Reza dan Ajeng yang sedang duduk di ruang tengah dan melihat adiknya itu tidak tenang langsung terkekeh, lucu sendiri.


Sialnya Ryan tidak punya sekutu untuk diajak bekerja sama mencuri ponsel, seperti Reza dulu saat bekerja sama dengan Sean mensiasati masalah pingitan.


"Sudah sih Mas, ketawa terus," ucap Ajeng.


Tapi suaminya itu tidak mau dengar, Reza tetap tertawa sampai puas.


Sampai akhirnya Ryan ikut duduk di sana dan menatap sang kakak dengan tatapan tajam, dia tahu mas Reza sedang menertawakan dia.

__ADS_1


"Kenapa ketawa-ketawa? seperti tidak pernah dipingit saja!" ketus Ryan.


Ajeng hanya mampu geleng-geleng kepala saja melihat perdebatan adik dan kakak itu. Salah satu tangannya pun terus sibuk mengelus perutnya yang sudah membuncit. Usia kandungan Ajeng memasuki umur 6 bulan.


"Memang tidak pernah, karena saat dipingit aku curi ponselnya Rilly untuk telepon mbak Ajeng mu," balas Reza dengan sombongnya, hingga membuat Ryan tercengang.


Astaghfirullahaladzim, batin Ryan. sungguh tidak menyangka jika kakaknya itu benar-benar sudah jadi budak cinta untuk mbak Ajeng sejak dulu kala.


Sampai semua sikapnya terlihat di luar nalar.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Ryan, sampai tersebut kata istighfar tersebut.


Ryan hanya mampu geleng-geleng kepala, dia tidak akan melakukan hal konyol seperti kakaknya itu.


Jadilah tiap malam dia membayangkan wajah sang calon istri saja.


1 hari menjelang hari H. Seluruh keluarga Aditama dan Alika datang ke Villa tempat acara pernikahan itu di gelar.


Rilly menemani Alika tidur di Villa bagian sebelah kanan, sementara Ryan dan yang lainnya ambil di sebelah kiri.


Halaman depan Villa itu sudah dihias dengan begitu indah, tempat acara pernikahan besok akan di gelar.

__ADS_1


Alika bahkan terpana ketika pertama kali melihatnya tadi. Banyak orang-orang yang sedang mempersiapkan tempat tersebut.


Meski mulutnya selalu terdiam dengan sedikit senyum, tapi Alika tak henti-hentinya mengucap kata syukur di dalam hati, karena pada akhirnya dia memiliki pernikahan yang jauh dari apa yang dia impikan selama ini.


Allah memberikannya lebih.


"Jadi gadis yang baik ya kak, Oma meminta ku untuk menjaga kak Alika agar tidak nakal dan melakukan segala cara untuk menemui mas Ryan," ucap Rilly, meledek, dia bicara seperti itu dengan bibir yang mengulum senyum.


Memanggil kak untuk Alika dan mbak ingin Ajeng agar ada pembedanya, dua kakak ipar dia.


Dan diingatkan seperti itu, Alika langsung memukul pelan lengan Rilly. Justru malu sendiri kalau di goda seperti itu, tapi tidak akan seru kalau dia hanya diam, jadi Alika putusan untuk menggoda Rilly juga.


"Aku janji tidak akan macam-macam, tapi kalau mas Ryan yang mau macam-macam aku bisa apa?" balas Alika.


Dan rasanya saat itu juga Rilly ingin muntah, Huweekk!!


"Ieww dasar dua-duanya buciin!!" kesal Rilly, karena ottaknya yang suci mendadak ternoddai dengan pikiran yang iya iya.


Membayangkan diam-diam Mas Ryan dan kak Alika bertemu, lalu berciiuman panas melepas rindu.


Hii. Rilly bergidik.

__ADS_1


__ADS_2