Pelayan Gadis Buta

Pelayan Gadis Buta
Bab 26 - Seperti Pencuri


__ADS_3

"Hati-hati," ucap Ryan, saat Alika hendak masuk ke dalam mobil.


Alika masih mengira bahwa saat ini dia menggunakan mobil taksi, padahal bukan. Itu adalah mobil milik Ryan yang dikemudikan oleh Romi.


Alasan seperti ini jugalah yang membuat Ryan dulu berpura-pura jadi Erlan seorang pelayan, hanya untuk membuat Alika nyaman dan tidak sungkan ketika berada di dekatnya.


Jika sejak awal dia mengaku sebagai Ryan Aditama, jelas Alika tidak akan menerima keberadaan dan malah membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


Ryan juga tidak pernah mengira bahwa hubungannya dengan Alika akan berkembang sejauh ini, ini semua di luar kendalinya.


"Er, Apa aku boleh meminta tolong padamu?" tanya Alika, Dia merasakan saat ini mobil mulai melaju.


"Apa? katakan," tanya Ryan, tangannya kembali menggenggam jemari Alika dengan kuat, yang kehangatannya terasa sampai di dalam hati Alika.


Gadis dengan rambut yang saat ini diikat tinggi itu pun tersenyum, saat dia menoleh ke arah Erlan rambutnya ikut bergerak dengan sangat cantik.


"Tolong hubungi pak Ryan, dan katakan bahwa aku butuh donor mata, mungkin dia juga akan segera mencari donor itu, jadi aku bisa dioperasi," ucap Alika, dia sudah tidak sabar untuk sembuh.


Dan satu-satunya harapan yang bisa membantunya adalah pak Ryan.


"Baiklah, tiba di rumah nanti aku akan langsung menghubungi beliau," jawab Ryan.


Alika yang merasa sangat senang langsung memeluk Erlan erat, dan Ryan pun membalas pelukan itu pula.

__ADS_1


Salah satu tangannya pun selalu mengelus puncak kepala Alika dengan lembut.


Seperti Alika adalah anak kecilnya yang harus selalu dielus.


"Al, karena kamu sudah mengajukan 1 permintaan, jadi aku punya permintaan juga," ucap Ryan.


Dan mendengar kalimat itu, Alika sontak melerai pelukan mereka. Menatap dengan penuh selidik, dahinya pun nampak berkerut.


Di telinganya ucapan Alika terdengar sangat mencurigakan.


"Permintaan apa? Jagan macam-macam!" ketua Alika.


"Pikiran mu saja yang selalu macam-macam," gemas Ryan, dia menarik hidung Alika saking gemasnya.


"Makanya dengarkan dulu, jangan asal tuduh saja."


"Ya sudah katakan, apa?"


"Ayo beli cincin pasangan. Aku pakai cincin yang ada nama mu, dan kamu pakai cincin yang ada nama ku."


Mendengar itu awalnya Alika mengulum senyum, namun lama-lama dia jadi tertawa juga.


Permintaan Erlan itu terdengar sangat lucu, kekanak-kanakan.

__ADS_1


"Kamu tidak mau?" tanya Ryan, wajahnya mulai nampak murung.


"Usiamu berapa sih? itu terlalu kekanak-kanakan Er," balas Alika.


"Itu bukan kekanak-kanakan sayang, itu adalah jaminan. Jadi saat kamu bisa melihat nanti, bukan hanya wajah tampanku saja yang bisa membuat mu ingat, tapi juga cincin itu," terang Ryan apa adanya.


Dan mendengar alasannya, seketika tawa Alika pun mereda.


Diganti dengan wajah yang nampak sendu, membenarkan pula ucapan Erlan itu.


"Baiklah, ayo kita beli cincin pasangan," balas Alika langsung, tanpa basa basi lagi.


Ryan tersenyum lebar, rasanya ingin sekali kembali mengecup bibir merah Cherry itu, tidak bukan hanya sebuah kecupan, tapi sebuah ciuman yang begitu dalam.


Perlahan Ryan pun mengikis jarak, namun belum sempat terjangkau, Alika sudah lebih dulu bicara ...


"Belinya dimana? apa kita langsung pergi sekarang?" tanya Alika antusias, membuat Ryan terkejut dan sontak memundurkan wajah.


Jantungnya berdegup, seperti pencuri yang nyaris ketahuan.


Romi yang tanpa sengaja melihat adegan itu pun jadi kikuk sendiri.


Alhamdulillah, gagal, batin Romi. Jika tidak dia akan melihat adegan iya iya itu.

__ADS_1


__ADS_2