
"Ya Allah Oma, sana sih pergi, dari tadi ikutin aku terus," ucap Ryan dengan raut wajahnya yang nampak masam.
Sekarang ini mereka semua sudah berada di Villa, Ryan dan Alika sudah bisa dikatakan tinggal dalam satu rumah. Tapi tetap saja rasanya begitu sulit untuk bertemu, karena Oma Putri terus saja mengikuti Ryan kemanapun anaknya itu pergi.
"Sabar Ryan, Oma tau, kalau Oma pergi kamu langsung berencana untuk menemani Alika kan?" balas sang ibu, lengkap dengan kedua matanya yang menatap curiga.
Ryan tidak mampu menjawab pertanyaan itu, karena jawabannya adalah IYA. Dan sebenarnya dia pun sangat sadar jika hal itu tidak diperbolehkan.
Tapi bagaimana, rasanya rinduuu sekali.
Dan melihat anaknya yang diam saja, seketika Oma Putri malah tertawa.
"Sabar," ucap Oma Putri sekali lagi.
Dan akhirnya Ryan hanya bisa pasrah, tak bisa melakukan apa-apa.
Hari pun bergulir.
Malam berganti.
Menanti detik-detik pernikahannya, Alika terus berdoa untuk semua diberi kelancaran, jantungnya terus berdegup berdebar.
__ADS_1
Jam 5 subuh setelah dia selesai shalat, Alika langsung di rias untuk acara ijab kabul jam 8 pagi nanti.
Oma Putri pun mendatangi kamar Alika untuk menyaksikan sang calon menantu di rias.
"Oma," sapa Alika ketika melihat Oma Putri datang.
"Masya Allah, belum apa-apa saja kamu sudah cantik sekali," jawab Oma Putri pula, dia sangat yakin Ryan nanti bisa-bisa ngences.
Hanya membayangkan anaknya terpana saja, Oma Putri sudah tersenyum dengan sangat lebar.
Sementara Alika tersenyum malu-malu.
"Nanti oma dan kakek Agung yang akan mendampingi kamu, sementara Ryan akan di dampingi mas Reza dan mbak Ajeng," ucap Oma Putri, bibirnya masih tersenyum tapi sekarang dia bicara dengan nada yang serius.
Sejak tadi memang ada rasa yang mengganjal di dalam hatinya, bagaimana saat dia keluar untuk datang ke meja ijab kabul, apakah dia akan datang sendiri atau didampingi oleh pihak wedding organizer.
Tapi ternyata, Oma Putri dan kakek Agung lah yang akan mendampingi dia.
Sebagai seseorang yang tidak memiliki kedua orang tua perlakuan seperti itu tentu membuat Alika seketika terenyuh.
dia tidak bisa bicara apa-apa selain air mata yang terus mengalir sebagai air mata bahagia.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis, Oma juga harus berdandan yang cantik," ucap Oma Putri lagi, dia juga bergerak untuk membantu Alika mengeringkan air mata itu.
Kini semua orang sedang bersiap. Rilly yang sudah selesai lebih, langsung menggendong si gembul dan memberikan kesempatan untuk Mbak Ajeng merias diri.
Semuanya saling bantu membantu sampai akhirnya tiba di saat yang paling ditunggu-tunggu.
Yaitu, disaat ijab kabul akan segera dilaksanakan.
Kini tempat acara sudah dipenuhi oleh banyak tamu undangan yang ingin menyaksikan secara langsung pernikahan tersebut. Berbagai karangan bunga ucapan selamat berjejer bagi itu indah.
Ryan datang lebih dulu ke meja ijab Kabul, dia duduk dan di dampingi oleh mas Reza dan mbak Ajeng, Sean juga duduk disana.
Sementara Rilly terpaksa menyingkir karena si gembul tidak mau diam, mendadak Rilly jadi pengasuh ditemani oleh asisten pribadi mas Reza-Asisten Louis.
Di tempatnya duduk, Ryan terus melihat ke arah pintu masuk, pintu dimana nanti calon istrinya akan masuk.
"Bismilahirohmanirohim, sekarang waktunya kita panggil pengantin wanita untuk segera datang ke meja ijab Kabul," ucap sang pembawa acara.
Deg deg! deg deg! jantung Ryan berdegup.
Kemudian dia terpana ketika akhirnya melihat Alika berjalan menuju arahnya didampingi oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Deg deg!
Masya Allah, cantik sekali. Batin Ryan.