Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Simpanan Sugar Daddy


__ADS_3

Pria tampan dan dewasa itu menghela nafas dengan kasar, dengan tubuh bersandar di belakang kursi tatapannya kini menatap lurus kearah mobil.


Lalu tatapan itu berubah saat melihat dan menatap wajah kekasihnya, "Sorry darling. Saya tidak bisa mengikuti permintaan kamu yang satu ini, aku tetap menjadikan kamu wanita selingkuhanku saja. Aku tidak mau perjanjian kita diawal jadi berantakan."


Tasya menghembuskan nafas saat kini melihat wajah kekasihnya, "Baiklah, tapi aku mau kita liburan berdua saja tanpa ngajak istri dan anak kamu."


"Baiklah, aku akan mengikuti keinginan kamu yang satu ini." balas pria dewasa itu dengan tersenyum lembut, lalu pria itu kembali menyetir mobil dengan memeluk pinggang Tasya.


Tasya, wanita cantik yang kini menjadi wanita simpanannya. Wanita cantik ini semakin hari semakin membuatnya nyaman, apalagi saat berada di dekatnya terasa dia tidak bisa jauh dari wanita ini.


Sejujurnya saat mendengar perkataan Tasya seperti dirinya ditampar oleh batu besar, perasaan kaget muncul saat Tasya memintanya untuk dinikahkan. Tapi dia tidak mungkin menikahi wanita simpanannya, karena dia masih mencintai sang istri yang kini berada di rumah sakit.


Semenjak sang istri melahirkan anak terakhirnya, wanita cantik itu sudah berada di rumah sakit yang cukup lama. Sampai detik ini istrinya belum kunjung sembuh, dokter sama sekali tidak bisa bertindak apa-apa tentang kesembuhan istrinya.


Dari situlah hidupnya terasa hampa, tidak ada lagi canda tawa yang terlihat dari bibir istrinya apalagi rumah tangga yang mereka bangun tidak seperti dulu. Sampai saatnya ia tak sengaja bertemu dengan Tasya, wanita itu sedang berjoget mengikuti irama musik bersama dengan teman-temannya.


Wanita cantik itu seperti malaikat baginya, saat melihatnya saja hatinya mulai menyukainya apalagi memilikinya. Tapi dia sadar kalau dia masih mencintai sang istri, akhirnya mulai saat itu dia dekat dengan Tasya. Dan wanita itu sudah menjadi miliknya walau hanya wanita simpanan, tapi dia setuju dengan perjanjian yang mereka sudah sepakati dari awal.


"Saya sudah memberikan apapun yang kamu inginkan boleh dong kalau saya menginginkan sesuatu dari kamu." ucap pria dewasa itu yang saat ini menyentuh dagu runcing Tasya.


Tasya yang ditatap seperti itu malu dengan kekasihnya, "Kamu mau apa nanti aku belikan." balas Tasya yang memberanikan diri untuk menatap wajah pria dewasa yang kini sudah menjadi kekasihnya.


"Aku tidak butuh barang mewah apalagi uang yang aku butuhkan hanya kamu, darling." lelaki dewasa itu tersenyum puas saat melihat ekspresi wajah Tasya yang kini seperti tomat.


Lelaki itu memutuskan pergi meninggalkan Tasya, Tasya yang ditinggal jauh buru-buru mengikuti langkah kaki kekasihnya. Mobil mereka tiba disebuah apartemen yang sudah lama mereka beli.


Tepatnya apartemen ini dibeli untuk Tasya wanita pujaan hatinya, mereka turun dari mobil dengan tangan lelaki itu membantu membawa belanjaan Tasya. Lalu mereka berjalan menuju pintu utama apartemen, keduanya masuk dengan saling berpelukan.

__ADS_1


Unit apartemen yang ditempati Tasya berada di lantai paling atas, wanita itulah meminta untuk tinggal di unit paling atas di paling ujung. Untuk memastikan kalau mereka melakukan sesuatu dari dalam tidak mengganggu penghuni lain.


Pria dewasa itu masuk ke dalam diikuti oleh Tasya, wanita itu menyimpan kantung belanja di sofa panjang.


"Aku buatkan kopi untuk kamu dulu." ucap Tasya tanpa dijawab oleh pria dewasa yang kini sibuk menutup wajah menggunakan satu tangan.


Tanpa menunggu terlalu lama kopi buatan Tasya jadi, dia membawa satu kopi itu untuk diberikan oleh kekasihnya. "Di minum dulu sayang kopinya."


Pria itu mengangkat satu tangannya, melihat kalau Tasya sudah membuatkan kopi untuknya. Dia meminum kopi itu seketika mengingat bayangan sang istri, dulu saat istrinya belum sakit wanita itulah yang membuatkan kopi untuknya.


Tapi sekarang dia melihat Tasya yang selalu ada untuknya, Tasya sangat pandai memanjakannya apalagi kalau berhubungan dengan ranjang, pasti Tasya sangat ahli dalam bidang tersebut.


***


"Sayang, kamu kenapa menatapku seperti itu. Apa ada yang salah di wajahku?" tanya Tasya yang kini melihat kekasihnya hanya diam tanpa bersuara.


"Aku beruntung punya kamu Tasya, walau kamu hanya wanita simpanan tapi kamu berarti untukku. Makasih kamu sudah hadir dalam hidupku." kata pria dewasa yang kini berada di hadapannya, Tasya tidak tahu harus bicara apa lagi.


Dia juga senang bisa bertemu dengan pria ini, walau begitu dia ingin menjadi istri dari pria dewasa ini tanpa menjadi wanita simpanan. Tasya mendekati kekasihnya dengan bersandar di dada bidang pria itu.


"Sayang, aku kangen banget sama kamu. Malam ini apa kamu mau tinggal di sini?" tanya Tasya yang menatap kekasihnya saat pelukan itu masih menempel.


Pria dewasa itu melirik kearah Tasya dengan mengangguk sambil tersenyum, Tasya yang mendapatkan persetujuan dari kekasihnya langsung memeluk tubuh kekar kekasihnya.


Apartemen yang kini ditinggalkan Tasya sudah tidak berpenghuni, semuanya begitu berantakan seperti gempa bumi. Apalagi saat berada di kamar, kamar itu sudah terbilang pecah tanpa serapih awal. Kini kamar itu menjadi saksi bisu percintaan mereka berdua, dalam satu tarikan membuat Tasya semakin tergila-gila dengan pria dewasa ini.


"Ahhh... Tasya... tubuhmu sangat aku sukai... sayang..." desah pria dewasa itu yang kini berada di atas tubuh yang kini mengendali tubuhnya.

__ADS_1


Sama halnya dengan Tasya, kenikmatan yang kini Tasya rasakan membuatnya ketagihan dua kali lipat dari biasanya. Sentuhan kasar dari pria dewasa ini membuatnya semakin tergila-gila, apalagi pria ini sangat tahu apa yang dia inginkan.


"Tasya... Ahhh..."


"Eugh... Ahhh..." ******* yang keluar dari bibir mereka terasa menjadi candu ditelinga mereka, apalagi mereka berdua sangat menikmati permainan yang kini mereka jalani bersama.


Di malam yang dingin dengan kegiatan yang panas, sepanas gunung berani yang mungkin sudah tidak terlihat lahan yang mereka semburkan. Ranjang yang mereka tempati sudah tidak serapih awal, tinggal suara ******* dan aliran lahan yang mereka lakukan di kamar itu.


Dan kini kamar ini menjadi saksi bisu percintaan mereka dalam satu malam, membuat malam ini terasa milik mereka berdua.


Tidak dengan Jackson, pria itu sudah sering bercinta dengan Amara apalagi dia sangat bosan menyentuh tubuh wanita ini. Jackson meninggalkan Amara di ranjang, wanita itu masih setia terlelap dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


Jackson memutuskan untuk pergi dari apartemen Amara, dengan langkah hati-hati dia keluar dari sana menuju basement. Tibalah Jackson saat dia tidak sengaja melihat Alice berada diruang tengah, wanita itu terlelap dengan laptop berada dipangkuan Alice.


Jackson yang melihat itu segera berinisiatif untuk membawa Alice ke kamar, tubuhnya digunakan untuk menggendong tubuh Alice yang sangat ringan. Langkah kaki itu masuk ke kamar Alice yang berada di lantai bawah, dia meletakan tubuh Alice di atas ranjang dengan tangannya menarik selimut.


Entah kenapa tiba-tiba saja bibirnya tersenyum melihat wajah Alice, wajah cantik yang kini terlelap sempurna di depan matanya. Kecantikan yang dimiliki Alice jauh berbeda dari Amara, baginya Alice sangat sempurna di matanya dibandingkan wanita yang pernah dia temui.


"Saya tidak tahu kenapa kamu sangat mencintai saya, aku sudah melakukan segala cara untuk membuat kamu menyerah tapi kamu malah mempertahankan rumah tangga ini. Sebenarnya apa mau kamu untuk rumah tangga ini Lice." batin Jackson yang masih memandangi wajah Alice yang tertidur pulas.


Jackson menggunakan satu jarinya untuk menyentuh wajah Alice, sentuhan lembut itu begitu hati-hati sampai dirinya takut membuat Alice terbangun. Saat tubuh Alice bergerak dia dengan cepat menarik tangannya, ia kembali ke posisi semula untuk menjauh.


"Good Night My Little Wife." ucap Jackson dengan mencium kening Alice, lalu dia kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh Alice.


Alice terbangun saat di dalam mimpinya dia merasa kalau Jackson mencium keningnya lalu membawanya ke kamar, mimpi itu seketika membuatnya terkejut saat melihat keberadaannya di dalam kamar. Melihat itu membuat Alice bingung dengan mimpinya sendiri, apakah ini beneran mimpi atau memang kenyataan.


Yang pasti ini adalah nyata, nyata dalam hidupnya saat melihat Jackson sudah berada di ambang pintu kamar.

__ADS_1


"Kenapa kamu melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan, hem!" ucap Jackson saat lelaki itu melangkah mendekat kearahnya.


__ADS_2