Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Meminta Restu


__ADS_3

Setelah berminggu-minggu Jackson memikirkan perkataan Amara, pria itu sudah memutuskan untuk menikahi Amara secara diam-diam tanpa sepengetahuan Alice dan juga keluarganya. Dia tidak mau kalau mereka semua tahu kalau ia ingin menikahi Amara, apalagi Alice yang tidak tahu apa-apa tentang hubungannya.


Pagi ini Jackson akan menjemput Amara di apartemen untuk menemui kedua orang tua Amara, mereka berdua sudah berada di dalam mobil untuk melakukan perjalanan ke tempat dimana orang tua Amara tinggal.


"Sayang, kalau nanti orang tuaku bilang kamu masih singgel kamu iain aja. Jangan bilang kamu itu suami orang, aku tidak mau sampai orang tuaku tahu tentang kamu sudah memiliki seorang istri. Yang ada aku dicap jelek sama keluargaku sendiri." tutur Amara yang melihat Jackson sibuk menyetir.


"Ya sayang. Sudah kamu tidak usah khawatir aku akan selalu mengikuti apapun yang kamu mau." urai Jackson dengan tersenyum saat menatap Amara, wanita itu membalas senyuman yang diberikan Jackson saat pria itu menyentuh kepalanya dengan lembut.


Menempuh perjalanan yang panjang akhirnya mereka berdua tiba di sebuah kompleks perumahan, kompleks tersebut sempat dibeli oleh Amara saat mendapatkan gaji pertama untuk orang tuanya.


Saat ini mereka sedang berkunjung menemui orang tua Amara, keduanya keluar dari mobil dan datang di sambut dengan hangat oleh orang tua Amara. Wanita cantik itu tersenyum saat melihat kedatangan Amara, apalagi saat ini anak perempuannya datang tidak sendiri melainkan bersama pria asing.


"Mah, mah. Kenalin dia Jackson atasanku sekaligus pacar aku mah, pah." ucap Amara kepada orang tuanya, membuat kedua orang tua Amara menatap Jackson.


"Oh jadi kamu datang kemari buat kenalin calon kamu nak." kata ayah Amara membuat Jackson tersenyum begitupun dengan Amara.


"Aku dengan pacarku ingin berniat untuk menikah, apa mama sama papa izinin kita menikah?" kata Amara menatap kedua orang tuanya saat tangannya sibuk menggenggam tangan Jackson.


"Mama sama papa setuju saja nak. Kalau kamu saling mencintai ya sudah, lagian kita sebagai orang tua tidak berhak melarang keputusan yang kamu ambil." urai ibu dari Amara, begitupun dengan ayah Amara yang sangat antusias dengan pernikahan putri satu-satunya.


"Baiklah, kalau gitu om sama tante tenang aja masalah pernikahan saya yang akan menangani semuanya. Tante dengan om dan juga Amara tidak perlu memikirkan masalah biaya, saya yang akan mengeluarkan semuanya untuk pernikahan ini." lontar Jackson dengan percaya diri, pria itu juga menyakinkan kedua orang tua Amara tentang pernikahan yang akan mereka berdua laksanakan.


"Kalau itu keputusan kamu om sama tante ikut saja yang terpenting kalian berdua sah sebagai suami istri." mereka semua tersenyum senang mendapatkan kabar baik itu, setelah membicarakan hal penting mengenai pernikahan Jackson memutuskan untuk pulang.


"Sayang aku senang banget orang tuaku setuju dengan hubungan kita, tapi nanti kalau kita menikah pasti harus ada orang tua kamu untuk menyaksikannya. Aku kan tidak mau mereka hadir nantinya hubungan kita ketahuan." ujar Amara yang masih sibuk menyender kepalanya di pundak Jackson.

__ADS_1


"Kamu tenang aja masalah orang tuaku aku akan menyuruh orang lain buat jadi orang tua pura-pura. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, tapi ada satu syarat sebelum kita menikah nanti." kata Jackson membuat Amara melepaskan sandarannya.


"Syarat? Maksud kamu, kamu mau membuat syarat untuk aku?" ucap Amara yang shock dengan ucapan yang diberikan Jackson.


"Masalah syarat nanti kita bicarakan, sekarang kamu istirahat saja aku tidak akan memberatkan kamu dan keluarga kamu tentang pernikahan kita."


***


Jackson sudah kembali ke rumah, dia tidak melihat keberadaan Alice. Dia yakin kalau wanita itu belum pulang kerja. Jadi dia bergegas keruang kerja untuk membuat syarat untuk Amara.


Sedangkan Alice sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor, dia juga sempat mengecek cctv rumah yang belum diketahui oleh Jackson. Apalagi sekarang dia meletakan cctv itu diruangan Jackson.


"Sedang apa pria itu ada di rumah. Bukannya jam segini belum waktunya jam pulang kerja." batin Alice yang melihat cctv lewat layar handphone, wanita cantik itu kini sibuk menatap layar cctv yang terdapat Jackson.


Tidak hanya itu saja, Alice bisa mendengar suara yang akan diucapkan Jackson. Lelaki itu memang tidak tahu rencana Alice, tapi dia tahu persis bagaimana rencana yang akan mereka berdua lakukan.


Alice yang mendengar itu merasa shock dengan pengungkapan yang disampaikan Jackson, walau pria itu belum mengatakan apapun tentang semuanya tapi kali ini Alice yang mendengarnya sendiri.


Jadi kemarin Jackson sempat berpakaian rapih untuk menemui orang tua Amara, dan mereka berdua ke sana untuk menikah. Di saat status Jackson masih menjadi suami orang, sedangkan orang tua Amara tidak tahu apa-apa tentang hubungan anaknya.


"Kenapa aku merasa sakit ya melihat perlakuan mereka. Apa memang pemilik tubuh ini memberikan rasa itu, tapi kenapa aku juga yang harus merasakan penderitaan ini." batin Aurora yang terdiam sambil menatapi layar handphone.


Sedangkan di sisi lain Neo terus memandangi Alice dari kejauhan, ruangan yang terdiri dari kaca membuat Neo bisa menatap Alice dari jauh. Pria itu merasa kalau Alice sedang sibuk menatap handphone dengan mimik wajah serius.


"Mau makan siang bersama." pesan itu terkirim tanpa sengaja saat jari tangan Neo terus mengetik keyboard handphone, tapi dia juga dengan cepat menghapus pesan itu.

__ADS_1


Kali ini pesan itu terkirim tanpa dia sadari, membuat Alice melihat ada sebuah pesan dari Neo. Lirikan mata Alice sempat melihat kearah Neo, saat pria itu malah membuang muka.


"Oke." Neo tersenyum melihat Alice membalas pesan itu, dia mengirimkan lokasi tempat yang akan mereka kunjungi saat jam makan siang.


"Silakan kamu pesan, aku tahu makanan favorit kamu. Semoga aku tidak lupa dengan tempat makan yang kamu suka." kata Neo yang memberikan buku menu ke Alice, wanita itu tersenyum saat melihat bagaimana Neo masih peduli dengan pemilik tubuh ini.


"Lice, kamu bodoh sekali sudah menyia-nyiakan pria sebaik Neo. Kamu malah memilih pria brengsek seperti Jackson, sebenarnya mata kamu terbuat dari apa sampai orang yang tulus mencintai kamu saja kamu abaikan gitu saja." batin Aurora yang masih memperhatikan Neo, lelaki itu sibuk mencari makanan di buku menu.


Empat puluh lima menit akhirnya pesanan mereka tiba, Aurora sempat tidak bisa mengendalikan perasaannya saat melihat perilaku Neo terhadap Alice. Mungkin kalau dia jadi Alice ia sudah menerima pria sebaik Neo.


"Terima kasih." Neo mengangguk dan Alice sibuk memasukan makanan ke dalam mulut, saking sibuknya makan tiba-tiba saja Neo pembicaraan hal mengenai pribadinya.


"Aku tidak tahu apa yang kamu lihat di handphone, aku sempat melihat kamu dari dalam ruangan. Apa kamu lagi ada masalah dengan suami kamu?" itulah yang dikatakan Neo kepadanya, sedangkan Alice diam saja tanpa menjawab perkataan yang dilontarkan Neo.


"Tidak apa-apa Lice, kalau kamu tidak mau jawab. Aku tidak akan memaksa kamu buat menjawabnya, tapi aku mohon kalau kamu butuh apa-apa bilang sama aku jangan kamu pendam." ucap Neo membuat Alice kembali menatap Neo.


Lelaki tampan itu sangat membuat hati Aurora tersentuh, sebaik dan selembut Neo sampai peduli dengan orang yang dia cintai. Walau pria ini tahu kalau sebenarnya orang yang dia cintai sudah dimiliki orang lain.


"Menurut kamu apa yang kamu lakukan kalau pasangan kamu ingin menikah lagi? Tapi dia tidak bilang ke kamu yang notabenenya pasangannya." ucapan Alice mampu membuat Neo kembali menatap Alice saat dia disibukan dengan santapan nikmat.


"Aku bakal tuntut dia di pengadilan. Lagian mereka tidak sah kalau menikah tanpa persetujuan dari istri pertama, atau mereka akan mendapatkan hukuman sesuai dengan undang-undang negara."


Neo kembali menyantap makanan lalu dia kembali bicara, "Tapi kenapa kamu bicara seperti itu? Apa Jackson mau menikah lagi tanpa sepengetahuan kamu?"


Aurora sempat terkejut mendengar ucapan Neo, dia juga tidak mengerti kenapa Neo sempat tahu masalahnya. Tapi dia tidak mungkin membiarkan Neo ikut campur dalam rumah tangganya.

__ADS_1


"Gak aku asal bicara saja." jawab Alice membuat Neo mengangguk.


__ADS_2