Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Balas Dendam Akan Di Mulai


__ADS_3

"Terima kasih Amara." ucap Jackson melihat masakan yang sempat dibuat Amara selesai, mungkin dari penampakan awalnya sangat bagus pasti rasanya tidak jauh dari buatan Alice.


Jackson mengambil sendok dan juga garpu, lelaki itu mencicipi masakan utama yang dibuat Amara. Saat makanan itu masuk ke mulutnya dan mengunyah, Jackson sempat berhenti dia malah memandangi wajah Amara.


"Kenapa rasanya sama sekali tidak enak. Seharusnya Alice mengajarkan Amara masak dengan benar, kenapa ini rasanya seperti lumpur." batin Jackson, lelaki itu terpaksa menelan makanan yang ada di dalam mulut.


Tidak mungkin dia membuang makanan ini di depan Amara, "Gimana pak masakan yang saya buat enakkan?" tanya Amara yang penasaran gimana tanggapan Jackson tentang masakan yang dia buat pertama kalinya.


"Boleh aku bicara dengan Alice. Ada hal penting yang harus saya bicara dengannya." mendengar kalimat itu sontak membuat Amara melirik tajam Alice, bagaimana bisa Jackson malah bicara dengan wanita sialan ini.


"Baiklah." Jackson menarik tangan Alice untuk menjauh dari Amara, keduanya berada di sebuah taman yang cukup jauh dari tempat awal mereka datang.


"Saya sudah bayar mahal kamu kenapa masakannya tidak enak sama sekali, bukannya kamu janji akan mengajarkan Amara masak sampai dia pandai." ucap Jackson, sepertinya pria ini tidak sadar kalau Alice adalah istri pertamanya.


"Aku udah ngajarin dia dengan benar, kenapa kamu menyalahkan aku seperti itu. Dianya saja yang tidak pandai memasak." balas Alice yang tidak terima dengan sikap Jackson.


"Aku tidak mau tahu Alice kamu harus ngajarin dia sampai pandai, aku tidak mau uangku terbuang sia-sia." setelah bicara seperti itu Jackson memutuskan meninggalkan Alice, sejujurnya mendengar ucapan Jackson barusan membuat Aurora merasakan sakit.


Perasaan sakit yang kini Aurora rasakan sangat tepat di hatinya, entahlah apakah pria seperti Jackson tidak mempunyai perasaan sampai pria itu bisa bicara seperti itu. Mungkin kalau dia jadi Alice sudah lama dia tinggalkan, tapi entah kenapa pemilik tubuh ini masih bertahan dengan pria seperti Jackson.


Alice sudah lagi tidak memperdulikan apa yang mereka lakukan, bagaimana bisa Jackson dengan Amara bermesraan di depan matanya. Apalagi posisinya dia masih ada di sana, tanpa memperdulikan mereka berdua Alice mengambil tas dan pergi dari hadapan mereka.


Perasaan hancur seakan masih membekas di hidupnya, Alice yang tidak tahu mau kemana lagi tujuannya memutuskan jalan kaki. Kalau dia tahu akan terjadi seperti ini, mungkin dia akan memilih untuk tidak datang. Walau begitu ia masih membutuhkan uang, seluruh harta yang dimiliki Jackson dan juga Amara harus berada di tangannya.


Karena ini satu-satunya untuk menghancurkan mereka berdua, Neo yang baru saja selesai olahraga di tempat langganannya. Melihat dari kejauhan seorang wanita yang sangat mirip dengan Alice, tanpa basa basi lagi ia menghampiri wanita itu.


Dan benar saja dugaannya kalau wanita itu adalah Alice, yang membuat dia bingung kenapa Alice jalan kaki tidak membawa kendaraan.

__ADS_1


Tin! Tin!! Bunyi klakson yang diberikan pemilik mobil membuat Alice menoleh, pemilik mobil itu membuka kaca mobil dan melihat kalau pemilik mobil itu sedang tersenyum.


"Buat apa kamu jalan kaki di jalan raya seperti ini Lice."


"Aku habis olahraga aja." jawab Alice dengan kebohongan, mungkin kalau orang lain bisa percaya tapi tidak dengan Neo.


Pria itu tahu betul apa yang dirasakan Alice, "Naiklah aku akan antar kamu pulang." ucap Neo meminta Alice untuk menaiki mobil.


Alice mengangguk, wanita itu membuka pintu dan duduk di samping Neo. Setelah melihat Alice sudah berada di mobil, ia bergegas melajukan mobilnya kembali.


"Kamu lagi ada masalah?"


Pertanyaan itu sontak membuat Alice menoleh, bagaimana bisa Neo bisa menebak pikirannya. Entahlah mungkin pria ini memiliki batin yang kuat kepada pemilik tubuh.


***


"Sekarang kamu jawab aku kamu lagi ada masalah?" Neo memberikan pertanyaan kembali saat Alice menjawabnya dengan mengangguk.


"Apa masalah kamu ini ada hubungannya dengan suami kamu?" lagi-lagi Alice hanya bisa mengangguk, wanita itu sudah tidak kuat untuk bicara.


"Baiklah, kalau gitu aku antar kamu ke rumahku. Nanti kamu ceritakan semuanya masalah kamu itu." kata Neo yang memberikan sebuah sentuhan tepat di kepala Alice, sentuhan itu sangat nyaman apalagi Neo memiliki arti tulus untuk pemilik tubuh.


Sebelum Neo benar-benar mendengarkan cerita yang akan Alice katakan, lelaki itu pergi ke dapur untuk mengambil dua cangkir coklat panas. Lelaki tampan itu tersenyum dengan membawa coklat panas yang sempat ia buat, Neo meletakan gelas tersebut dan duduk di samping Alice.


"Sebelum kamu cerita kamu minum dulu coklat panasnya keburu nanti dingin." ucap Neo, dengan langsung Alice mengambil gelas itu dan meminumnya dengan pelan.


"Gimana apa sekarang sudah tenang?" tanpa Neo yang melihat bagaimana Alice sudah meminum coklat panas itu, saat Alice mau meletakan kembali gelas itu Neo dengan langsung mengambil ahli.

__ADS_1


Tanpa memberikan instruksi terlebih dahulu, Alice segera menceritakan semua yang dia alami. Mulai dari Jackson memintanya untuk menjadi koki, dan yang lebih parahnya dia melihat kemesraan mereka berdua. Tanpa mereka sadari perilaku mereka berdua membuat perasaan ini teramat sakit.


Sejujurnya saat Alice menceritakan hal itu membuat Neo sangat sedih, apalagi orang yang dia sayang dan dia cintai terluka dengan suaminya sendiri. Ia tidak tahu harus melakukan apa, di satu sisi dia ingin merebut Alice kembali tapi satu sisi yang lain itu tidak akan mungkin terjadi.


Walau sebenarnya dia sudah merebut Alice dari kehidupan Jackson, tapi itu semata-mata ingin membantu Alice karena wanita itulah yang memintanya. Walau begitu dia ingin merebut Alice yang sebenernya bukan karena rencana.


"Sudah jangan kamu pikirkan lagi, kamu masih ada aku kamu lupain semuanya. Mulai sekarang kamu fokus pada karier kamu dan masa depan kita." mendengar kata kita membuat Alice menatap.


Apa dia tidak salah dengar kalau pria ini bicara seperti barusan, apa dia tidak takut kalau suatu saat kata kita akan terjadi. Apa mungkin pria ini sengaja mengatakan hal itu, supaya bisa menyenangkan perasaannya.


"Sudahlah Neo aku tidak ingin bercanda. Aku sudah capek dengan pernikahanku ini malah kamu dibuat bercanda."


"Aku tidak bercanda Lice, aku tulus dengan ucapanku. Aku mohon sama kamu mulai sekarang jangan mikirin suami kamu lagi, yang kamu pikirkan masa depan kita ke depannya gimana. Supaya kamu tahu kalau ada lelaki yang benar-benar tulus sama kamu."


Alice sempat mencari kebohongan di balik mata Neo, tidak ada satupun kebohongan di mata Neo. Yang ada hanyalah ketulusan di mata lelaki ini, apa mungkin pria ini beneran bicara kaya tadi.


Tanpa menunggu jawaban dari Alice, Neo segera mencium bibir Alice. Bibir ranum yang sudah lama dia rindukan, ciuman itu menjadi sebuah ******* yang sangat rapih. Sampai suara kenikmatan yang dilakukan Neo seketika bersuara nyaring.


Alice mengikuti apa yang dilakukan Neo, mungkin inilah yang sangat dia rindukan. Dan kejadian seperti inilah yang tidak pernah dirasakan Alice, hanya bisa dia dapatkan dari Neo.


"Ahhh..." keduanya saling menatap saat ******* mereka saling menyatu secara bersamaan, beriringan sampai dunia berada milik mereka berdua.


"Gimana apa sekarang sudah membaik?" tanya Neo yang sudah menghapus jejak ciuman di bibir ranum Alice, wanita itu sontak mengangguk.


"Ya sudah kalau gitu kamu istirahat besok aku akan antar kamu pulang setelah urusan kantor selesai." ucap Neo, lelaki itu masih duduk di sofa dengan menatap kepergian Alice.


"Mungkin ini saatnya aku membalas semua perbuatan kalian berdua, aku sudah tidak tahan melihat Alice sedih seperti barusan. Lihat saja kehancuran kalian akan aku balas." batin Neo yang berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas apa yang Jackson dan Amara perbuat.

__ADS_1


__ADS_2