
Alice mengerutkan kening saat dia baru saja membuka handphone, dimana dia mendapatkan pesan dari Amara. Wanita itu seperti mengancam dirinya, walau begitu ia tidak pernah takut dengan ancaman yang diberikan Amara.
"Ternyata seorang selingkuhan takut Diselingkuhi. Apa dia tidak sadar dulunya dia wanita simpanan, kenapa dia ngamuk-ngamuk seperti orang gila." batin Aurora sambil menatap kearah handphone.
Sedangkan Neo yang baru saja kembali menemui klien melihat Alice memasang wajah serius, saking seriusnya wanita itu tidak sadar kalau dirinya kembali. Neo datang menuju Alice yang sibuk dengan handphone, pria itu duduk di sebelah Alice yang terus memandangi wajah Alice.
Alice yang sibuk bermain hp tidak sadar kalau Neo sudah ada di sampingnya, "Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Alice yang baru menyadari kalau Neo sudah datang.
"Sejak kamu sibuk main hp." balas Neo dengan membuka bungkusan yang sempat dia bawa, pria itu membawa dua bungkusan berisi makanan dan juga cemilan.
Ia menyusun makanan itu lalu meminta Alice untuk mengambilnya, "Sudah jangan kebanyakan main hp mulu lebih baik kamu makan aku sudah bawa makanan kesukaan kamu."
Alice mengikuti apa yang dikatakan Neo, pria yang ada di dekatnya ini sibuk makan sedangkan dirinya memperhatikan Neo dengan seksama. Ternyata ketampanan Neo lebih dari Jackson, dia memiliki jenggot tipis di wajahnya. Apalagi wajah Neo seperti orang arab, kalah jauh dari Jackson yang hanya sepertiga dari Neo.
Neo yang menyadari Alice sibuk menatapnya segera menatap Alice, wanita itu masih menatapnya tanpa sadar kalau ia sudah menatap Alice. Neo meletakan makanan tersebut lalu dengan cepat Neo menimbulkan suara buat menyadari Alice.
"Jangan terlalu menatapku seperti itu nanti kamu jatuh hati denganku."
"Aku sudah jatuh hati sama kamu, sampai aku susah memilih antara kamu dengan Jackson. Karena kalian sama-sama memiliki kelebihan yang luar biasa." tanpa sadar Alice menjawab ucapan Neo, membuat pria itu tersenyum dengan sendirinya.
"Apa kamu akan memilih aku dari pada suami kamu itu?" Neo tersenyum seperti menjahili Alice, karena wanita ini masih sibuk menatapnya.
"Itu pasti karena aku tidak bisa jatuh cinta dengan Jackson, dia sudah menyakitiku apa aku harus bertahan dengan rumah tangga yang seperti ini." seketika ucapan Alice tersadar kalau kali ini Alice seperti mencurahkan isi hatinya.
Sebenarnya dia tahu bagaimana perjuangan Alice kepada Jackson, tapi dia menyadari kalau Alice sudah jauh berubah. Apalagi wanita ini seperti merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan mereka berdua.
"Apa aku boleh membantu kamu untuk membalas perbuatan mereka?" pertanyaan itu sontak membuat Alice sadar, ia menatap Neo yang memberikan pertanyaan yang tidak masuk akal.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Maksud aku... aku ingin membantu kamu membalas perbuatan mereka berdua, apa kamu setuju kalau aku membantu kamu." kata Neo, sepertinya pria ini sedang memohon tapi dia tidak mungkin melibatkan Neo dalam masalah rumah tangganya.
Alice tersenyum dengan menatap wajah Neo, "Terima kasih. Tapi aku tidak ingin melibatkan siapapun dalam rencanaku ini, aku tidak mau sampai orang lain celaka gara-gara masalah ini."
Alice menatap kembali Neo saat dirinya memilih menatap lantai, saat dia merasakan sentuhan yang diberikan Neo membuat dirinya tersadar kalau Neo serius membantunya.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu, Neo? Jujur aku tidak mau sampai kamu kenapa-napa, aku tidak ingin kehilangan kamu Neo."
"Sayang dengerin aku ya. Aku ini sahabat kamu sekaligus pacar kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir gitu. Lagian kita gak ada yang tahu kedepannya gimana, jadi kamu jangan sibuk memikirkan hal yang belum terjadi. Kita jalani saja rencana kamu itu, nanti kalau kamu butuh bantuan aku akan berada di depan kamu." tutur Neo yang menyakinkan Alice, Alice yang mendengar setiap kalimat itu seketika tersenyum senang.
Walau sebenarnya dia memang menjadikan Neo alat umpan, tapi dia tidak yakin kalau Neo akan menyetujuinya. Tapi dia tidak menyangka kalau Neo dengan senang hati membantunya.
***
Walau dia tahu rencana ini akan menyita waktunya, tapi tidak masalah yang terpenting Jackson masih menjadi miliknya bukan milik orang lain.
Dengan perasaan malas pria yang sudah selesai bekerja sedang sibuk menyetir, setelah urusan kantor selesai ia memutuskan ke apartemen. Jackson sebenarnya ingin bertemu dengan Alice setelah pekerjaan selesai, tapi dia mendapat pesan dari Amara kalau dia harus menemui wanita itu.
Ia tidak tahu apa yang akan direncanakan Amara, tapi dia harus berhati-hati dengan Amara. Tiba di apartemen Jackson memarkirkan mobil di ujung, lelaki itu turun dari mobil dengan mengunci mobil.
Lelaki tampan dan gagah itu melangkah menuju apartemen Amara, tiba di depan pintu apartemen Jackson membuka pintu lalu dia dibuat terkejut melihat penampilan Amara.
Jujur dia sangat shock dengan penampilan Amara, menurutnya Amara sangat seksi tapi baginya Alice yang paling seksi dan cantik dimatanya.
"Kamu sudah datang." ucap Amara yang melihat Jackson sudah berada di apartemen, wanita itu menghampiri Jackson sambil menyambut suaminya.
__ADS_1
Amara menarik tangan Jackson dengan mengajak Jackson duduk, ia mengambil gelas yang sudah ia sediakan lalu datang dan menuangkan minuman itu. Jackson yang terus memperhatikan Amara seakan aneh dengan sikap amara, sedangkan Amara yang ditatap seperti itu membuatnya salah tingkah.
Mungkin wanita itu berpikir kalau Jackson mengagumi bentuk tubuhnya, tetapi nyatanya Jackson tidak pernah berpikir mengagumi tubuh molek Amara. Karena baginya tubuh Amara sangat jauh dari bentuk tubuh Alice.
Entahlah dibandingkan Amara dia lebih menyukai Alice, "Silakan dinikmati sayang. Ini semuanya aku yang siapkan, aku yakin kali ini kamu suka dengan masakan yang aku buat."
Jackson mengikuti apa yang dikatakan Amara, dia menikmati pemberian Amara tapi saat Jackson mencoba mencicipi makanan yang dibuat Amara. Membuat Jackson terhenti, karena baginya masakan yang dibuat Amara terbilang tidak enak dibandingkan Alice.
"Gimana masakanku enakkan?" tanya Amara yang penasaran gimana tanggapan Jackson dengan masakan yang dia buat.
Sejujurnya ia ingin bilang kalau makanan ini tidak enak sama sekali, tapi saat melihat tatapan itu seperti tidak enak kalau bicara jujur.
"Enak." itulah jawaban Jackson dengan terpaksa, walau dia sengaja menunjukan rasa sukanya tapi dia tidak ingin mengatakan hal itu.
Amara tersenyum dengan jawaban Jackson, untung saja Amara sempat membuat makanan walau sebenarnya dia tidak bisa memasak tapi ia berusaha untuk membuat makanan.
"Kenapa gak dihabisin aja makanannya." ucap Amara yang melihat Jackson berhenti memakan makanan yang dia buat.
"Aku mau mandi. Seluruh tubuhku sudah sangat lengket jadi makannya nanti lagi." timpal Jackson, lelaki itu bergegas meninggalkan Amara di ruang makan.
"Makanan yang dibuat Amara sangat tidak enak, kalau seperti ini aku bisa mati keracunan gara-gara masakan Amara." ucap Jackson yang sibuk membuka satu persatu pakaian.
Seketika langkahnya terhenti, Jackson berdiri di depan kaca dengan memandangi seluruh tubuhnya. "Apa aku minta Alice untuk mengajarkan Amara masak, supaya mereka berdua saling akrab kalau nanti aku bilang aku dengan Amara sudah menikah."
Jackson sudah memutuskan kalau ia akan mengundang Alice ke apartemen Amara, dia mau dua wanita ini saling akrab dan berteman. Supaya nanti mereka bisa saling menerima, apalagi dengan Alice yang bisa menerima kehadiran Amara.
Mungkin semua lelaki yang memiliki istri lebih dari satu akan melakukan hal yang sama seperti Jackson, tapi tidak semua lelaki memikirkan perasaan istri pertama. Yang di pikirkan lelaki hanyalah keegoisan semata, baginya dialah kepala rumah tangga yang berhak mengatur semuanya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggal jejak di setiap babnya, berikan sedikit komentar dengan novel ini. Supaya saya sebagai penulis bisa melanjutkan kisah ini dengan senang hati. Terima kasih untuk para pembaca yang mau membaca kisah novelku ini.!!