
Jackson sudah seharian ini tidak bisa berpikir jernih, selama di kantor dia terus memikirkan Alice. Melihat sikap Alice yang berubah drastis membuatnya frustasi, baru kali ini dia merasa ketakutan melihat bagaimana Alice bisa melawannya.
Apalagi wanita itu tidak ada rasa takut sedikitpun, walau dia tahu sebenarnya dulu Alice sangat ketakutan apalagi saat ia mengancam untuk meninggalkannya. Tapi kali ini Alice tidak merasakan itu, malah seperti bukan Alice melainkan orang asing.
Jackson menggeleng dengan cepat, "Ini tidak mungkin. Tidak mungkin Alice berani melawanku, Alice mana berani melawan dia yakin Alice hanya menakuti-nakutinya saja. Supaya aku ketakutan dan wanita itu bisa melawanku."
"Tenangkan dirimu Jackson ini hanyalah ketakutanmu saja Alice mana mungkin memiliki keberanian seperti tadi." gumam Jackson saat kedua tangannya menampung dagunya sendiri dengan menatap lurus.
Neo menarik tangan Alice dan mengunci ruangan pribadinya, di sana ia menempelkan sesuatu supaya tidak ada satupun yang menganggu aktivitasnya dengan Alice. Kini mereka berdua sedang duduk bermesraan sambil menikmati sarapan makan siang.
Kemesraan yang dirasakan mereka berdua seakan hanya milik mereka berdua saja, sedangkan orang lain ngontrak dimuka bumi ini. Neo menahan tangan Alice saat wanita itu mencoba memberikan sesuatu untuk masuk ke dalam mulutnya.
"Apa kamu tidak takut kalau nanti Jackson tahu hubungan kita." kata Neo menatap Alice dengan serius, wanita cantik itu meletakan kukis itu kembali lalu fokus dengan percakapan yang kini diberikan Neo.
"Bagus kalau dia tahu aku akan mulai balas dendamnya, mungkin dia pikir aku ini bodoh selalu dipermainkan gitu saja. Kalau ini permainan yang selalu dimainkan Jackson, dia juga akan memulai permainan ini." batin Alice yang sedikit melamun.
"Sayang." panggil Neo saat Alice merasakan sentuhan dibalik tangannya, ia tersenyum menatap Neo yang kini menatapnya juga.
"Aku tidak peduli dengan dia Neo. Aku rasa kalau memang dia tahu hubungan kita bukannya itu hal yang bagus, soalnya hubungan kita tidak sebanding dengan rasa sakit yang dia berikan kepadaku."
"Aku sudah lelah dengan pernikahan ini, aku capek dengan sikap yang selalu dia berikan kepadaku. Apa kamu tahu dia selalu marah saat aku cemburu melihatnya bawa wanita lain ke dalam rumah, apalagi aku pernah melihat dia melakukan sesuatu di kamar kita. Dimana kamar itu hanya ditiduri oleh aku dan Jackson, tapi dia malah memakainya dengan sesuka hati." tutur Alice dengan raut wajah sedih, kepedihan yang dirasakan Alice sungguh terasa di hati Neo.
Sebenarnya dia sudah dari dulu mengetahui sifat bejat Jackson, tapi dia tidak ingin melihat rasa kecewa di balik wajah cantik Alice. Biarkan Alice tahu semuanya, supaya wanita itu sadar dengan sifat asli Jackson yang sebenarnya.
"Sudah tidak apa-apa lagian masih ada aku yang selalu menemani kamu, masalah kamu dengan Jackson itu urusan kalian berdua. Sekarang kora fokus dengan hubungan kita saja, jangan sampai keluarga kamu dan Jackson tahu semuanya." tutur Neo yang dianggukin oleh Alice.
Mereka berdua saling memberikan kenyamanan dan kehangatan di balik itu semua, rasa sedih yang awalnya muncul menjadi rasa panas di ruangan itu. Neo paling bisa memberikan apa yang dia butuhkan, sentuhan lembut yang diberikan Neo sangat ia sukai.
Apalagi tangan nakal itu membuat tubuhnya seperti cacing kepanasan, "Augh... Ahhh... Neoooo..." des@h Alice yang berteriak dengan kencang saat Neo terus mempercepat tempo gerakan.
__ADS_1
Membuat Neo yang mendengar suara ******* itu terasa nikmat, ia menambahkan tempo kecepatan untuk melihat Alice menyukai kegiatan panas ini. Bagaimanapun dia sangat suka dengan ******* nikmat yang diberikan Alice, apalagi Alice sangat pandai membuatnya bergairah.
***
Sekujur tubuh Alice terus dihantam habis-habisan oleh Neo, mungkin inilah rasa nikmat yang belum pernah dirasakan Alice sebelumnya. Tepatnya Aurora sangat menyukai kegiatan ini, mungkin Aurora sangat menyukai permainan ini. Apalagi dia melihat Neo sangat senang saya melakukan hubungan intim seperti ini.
Mungkin pria itu pertama kalinya bersama dengan Alice, sedangkan Aurora sudah merasakan hal seperti ini walau hanya sekedar ciuman saja.
"Sekarang giliran kamu Lice. Buatlah aku merasakan kenikmatan seperti apa yang aku berikan kepadamu." ucap lelaki yang kini sudah mengubah posisinya, sekarang giliran Alice yang bergantian untuk membuat Neo puas.
Sentuhan lembut yang diberikan Alice sangatlah nikmat, apalagi wanita ini selalu bisa mencari sesuatu yang membuatnya terasa nikmat. Sentuhan lembut, dan juga mulut Alice begitu lihai dengan kegiatan ranjang.
Membuatnya terasa keenakan kalau kegiatan seperti ini selalu dilakukan oleh Alice, Neo yang sudah tidak tahan langsung menghantam Alice kembali sampai dirinya puas.
Setelah puas mereka berdua kembali istirahat sejenak untuk memulihkan tenaga, mereka berdua seperti ikan terdampar di dasar laut. Ombang yang sudah tenang sudah tidak bisa mengalahkan sensasi kenikmatan yang panas itu, kini Neo memeluk tubuh Alice dengan lembut selembut tubuh Alice.
Neo terkekeh saat melihat tangan Alice menutup mulutnya, "Kamu ini bisa tidak bicara pelan sedikit, aku takut nanti ada orang yang mendengar ucapan kamu." Alice mencoba menatap sekeliling takutnya ada orang yang masuk dan mendengar apa yang dikatakan Neo barusan.
Neo melepaskan tangan itu dari mulutnya, lalu pria itu menarik pinggang Alice dengan cepat membuat pemilik pinggang itu menatap Neo dengan tajam.
"Kamu tidak usah takut gitu, mereka tidak akan berani mengusik kita berdua. Lagian mereka mau di pecat olehku hanya gara-gara masalah hubungan kita ini." kata Neo yang terus memandangi wajah Alice dengan seksama.
Lalu pria itu dengan cepat mencium bibir Alice dengan lembut, membuat Alice mengikuti irama yang diberikan Neo. Neo melepaskan ciumannya barulah dia membawa Alice dari sana.
"Sayang kita sudah sampai." ucap Neo yang melihat Alice terlelap, tanpa ia sadari dia malah tersenyum melihat Alice tidur.
Wajah damai itu membuatnya terus merasa nyaman, apalagi wanita ini terus membuatnya tidak bisa meninggalkannya. Jackson memutuskan untuk membangunkan Alice dengan menggoyangkan tubuhnya dengan pelan.
Membuat wanita itu terbangun dan melihat Neo yang sibuk menatap wajahnya, "Kita sudah sampai?" tanya Alice yang baru saja bangun tidur.
__ADS_1
"Ya. Sepertinya kamu kelelahan banget sampai lelap gitu tidurnya."
"Ya, pekerjaan kantor banyak menyita waktuku sampai aku tidak bisa punya waktu untuk diriku sendiri." balas Alice dengan melepaskan sabuk pengaman lalu dia mengambil tas.
"Kalau gitu gimana kita liburan." ajak Neo yang mengajak Alice untuk bersantai.
Alice yang mendengar itu dengan cepat merasa senang, bagaimana tidak senang kalau seorang Neo mau mengajak liburan.
"Kamu serius mau liburan?" Alice kembali bertanya lalu pria itu mengangguk, "Tapi kalau kita berdua saja yang liburan nanti karyawan kamu curiga, nantinya mereka berpikir yang tidak-tidak tentang kita."
Neo menyentuh kepala Alice dengan lembut sambil memberikan sedikit senyuman, "Kamu tenang aja aku sudah menyiapkan liburan untuk mereka juga, jadi kamu tidak usah khawatir masalah itu."
Alice dengan cepat memeluk tubuh Neo saking senangnya saat mendengar kabar baik itu, "Makasih ya sayang kamu sudah memikirkan hubungan ini, aku kira kamu akan membiarkan karyawan kamu untuk bekerja ternyata kamu bos paling baik yang pernah aku temui."
"Dan juga pacar masa kamu anggap aku bos, aku sama kamu sudah resmi pacaran masa kamu masih anggap aku bos kamu." balas Neo yang melihat Alice menatapnya, lalu wanita itu menyengir penampakan seluruh gigir rapihnya.
"Ya sudah kamu masuk sana nanti suami kamu nyariin kamu." Alice mengangguk dan dia keluar dari mobil saat mobil itu sudah pergi saat lambaian tangannya ia turunkan.
Sedangkan Jackson yang melihat Alice dari jendela kamar memilih turun untuk menemui Alice, wanita itu dengan santainya berjalan tanpa ada Jackson yang sibuk memperhatikannya.
"Barusan kamu pulang sama siapa?" pertanyaan itu sontak membuat Alice malas untuk menjawab, lagian juga apa urusannya dengan pria ini.
"Alice saya lagi bicara sama kamu." ucap Jackson yang meninggikan suaranya, Alice menatap Jackson dengan malas saat pria itu mulai marah.
Alice membuang nafasnya, "Aku pulang sama siapapun bukan urusan kamu, lagian buat apa kamu ikut campur masalahku. Bukannya kamu paling suka mengurusi hidup kamu tanpa melibatkan orang lain."
"Tapi aku hanya ingin tahu saja."
"Sudahlah aku pusing denger ocehan kamu." Alice bergegas meninggalkan Jackson, ia memutuskan pergi kamar.
__ADS_1