Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Cara Lembut Atau Cara Kasar


__ADS_3

Alice mencoba untuk berhati hati dengan Jackson, pria seperti Jackson tidak bisa ia kalahkan begitu saja. Harus memiliki strategi untuk menghancurkan Jackson, bukan cara kotor ataupun cara lembut.


Alice tersenyum membalas perlakuan Jackson yang begitu romantis, lelaki seperti ini sangat ahli menutupi sifat aslinya. Dan dia tidak boleh jatuh cinta dengan pesonanya ini.


"Gimana kerjamu hari ini?" Alice melirik Jackson saat pria ini menanyakan tentang pekerjaannya, entahlah mungkin memang perasaannya saja atau bagaimana.


Dia merasa kalau Jackson sedang merencanakan sesuatu, tapi dia tidak tahu rencana apa yang pria ini lakukan. Penampilan Alice membuat Jackson tidak bisa dikendalikan, selama perjalanan Jackson sibuk menyetir menggunakan tangan kanan sedangkan tangan satunya mulai meraba paha mulus Alice yang sedikit terbuka.


Rok span berwarna merah sedikit ketat dan di pinggir paha rok tersebut terdapat belahan, sedangkan pakaian atasnya terdapat belahan di bagian dada Alice hanya saja belahan tersebut di tutupi dengan sebuah pita di pakaian atasnya.


Sedangkan Jackson terus meraba paha mulus Alice membuat Aurora terkejut dengan perlakuan Jackson, Aurora mencoba menyingkirkan tangan kekar Jackson tapi nihil tangan itu masih nyaman dengan tubuhnya.


"Jackson tanganmu membuatku tidak nyaman." kata Alice membuat Jackson melirik dan menyingkirkan tangannya.


"Maafkan aku Lice aku tidak sengaja." Alice berhasil melepaskan tangan nakal Jackson, mungkin kalau tangan itu tidak cepat ia singkirkan mungkin sudah terjadi sesuatu kepadanya.


Tibalah mereka di kantor tempat Alice bekerja, sebelum itu Jackson mengunci pintu mobil saat Alice meraih gagang mobil. Alice menatap Jackson saat pria ini ingin mengerjainya.


"Jackson bukain pintu mobilnya aku mau ke kantor." ucap Alice membuat Jackson pura pura tidak mendengar apa yang dikatakan Alice.


"Sepertinya pria ini ingin main main denganku." batin Aurora menatap Jackson yang sibuk menatap lurus.


Alice tersenyum saat dia mendapatkan ide licik, Alice mencoba bangun dari tempat duduknya ia mencoba berpindah ke pangkuan Jackson. Dia mengambil dagu Jackson untuk menatap kearahnya, tatapan itu membuat Jackson menatap wajah cantik Alice.


Tanpa menunggu aba aba dari Jackson, Alice menarik dagu itu dan mencium bibir Jackson yang menurutnya sangat menggoda. Awalnya Alice ingin memberikan sebuah hukuman karena tidak membuka pintu mobil, tapi ternyata ciuman itu membuat Jackson semakin nikmat.


Saat Alice ingin menghentikan ciuman itu, Jackson mendorong tengkuk Alice untuk memperdalam ciuman yang mereka lakukan. Alice terus mengikuti apa yang Jackson lakukan sampai ciuman itu terlepas, membuat nafas keduanya terengah engah.


"Nakal juga ternyata kamu ya." ucap Jackson menyentil kening Alice.

__ADS_1


"Lagian siapa suruh gak mau buka pintu mobil." Jackson mencoba mencium bibir Alice kembali tapi Alice sudah menutup bibirnya dengan cepat.


"Cepat buka pintunya, aku tidak mau telat gara gara ulah kamu." kata Alice yang masih menutupi bibirnya membuat Jackson terkekeh.


Sebelum pergi Alice memperbaiki make-upnya terlebih dahulu, dia tidak mau nanti ada orang curiga dengan penampilannya. Barulah Alice turun dari mobil dan melangkah ke kantor.


Jackson tersenyum saat mengingat adegan panas di dalam mobil bersama dengan Alice, dia rasa dirinya sudah mulai jatuh cinta dengan Alice dan bisa melupakan kehadiran Amara di hidupnya.


"Ekhem." suara seseorang mampu membuat lamunan Jackson terhenti, ia melihat Revan yang tiba tiba saja muncul.


"Ngapain lu senyum senyum gitu. Masih pagi jangan buat orang mengira kalau lu itu gila." oceh Jackson melihat Revan masih senyum.


"Seharusnya saya yang tanya itu sama bapak. Kenapa bapak senyum senyum sendiri di kantor, nanti bapak di kira gak waras lagi kan gak etis pemilik kantor gila gara gara senyum senyum gak jelas." balas Revan membuat Jackson mengambil sebuah pulpen dan pulpen itu hampir kena Revan kalau pria itu itu tidak menghindar.


"Ambi pulpen saya." Revan mengambil pulpen yang sempat di lempar Jackson, ia meletakan kembali pulpen tersebut.


***


"Gak saya aja pak yang berpikir bapak gila tapi semua karyawan di sini mengiranya begitu." Revan duduk di sofa yang berada di ruangan pribadi Jackson, ia kembali menatap Jackson saat pria itu masih menampilkan sebuah senyuman.


"Pak, sudahlah jangan senyum gitu saya takut jadinya melihat bapak seperti itu." Jackson menatap Revan tajam dan ingin melempar pria itu kembali, membuat Revan menghentikan aksi mengamuknya.


"Bapak lagi jatuh cinta ya." tebak Revan membuat Jackson mengerutkan kening, Revan memutuskan untuk bangun dari posisi awalnya dan berpindah menuju Jackson.


"Mana mungkin saya jatuh cinta. Lagian pertanyaan kamu aneh banget."


"Ya kan saya nebak aja pak. Berarti benar tebakan saya dong kalau bapak lagi jatuh cinta, baru pertama kalinya bapak sebahagia ini. Dulu saat sama dengan Amara bapak tidak sebahagia ini."


"Masa sih. Apa kamu kelihatannya begitu?" Revan mengangguk atas pertanyaan Jackson, dia juga mengiranya begitu karena dulu dia mendekati Amara karena terobsesi akan kecantikannya dan fisiknya.

__ADS_1


Sekarang setelah mendapatkan Amara dia sudah mulai bosan dengannya, tapi saat melihat Alice wanita itu jatuh berbeda dari biasanya. Apa dulu dia tidak pernah melihat kehadiran Alice, makanya dia tidak tahu kalau Alice bisa sesempurna ini.


Sekarang dia menyesal sudah milih Amara, dan meninggalkan Alice begitu saja. Tapi tak apa dia akan berusaha untuk mendapatkan Alice kembali, dan ia baru saja mengingat kalau Revan pasti bisa membantunya.


Revan seperti ada sesuatu yang aneh dengan bosnya ini, dia heran kenapa Jackson menatapnya seperti itu. Rasanya ingin kabur dari sini dan menghindari tatapan maut bosnya ini.


Neo terdiam sejenak, dia sempat mendengarkan cerita dari Alice tapi Aurora tidak menceritakan kejadian di dalam mobil bersama dengan Jackson. Kalau dia cerita yang ada pria ini akan mengejeknya.


"Jadi menurutmu kelanjutan rencana ini harus kaya gimana? Apa aku minta bantuan Lyona saja untuk menyelesaikan rencana ini." kata Aurora tiba tiba membuat Neo menatap Aurora.


"Menurut aku kamu lakukan rencana ini sendiri saja jangan libatkan Lyona, kalau kamu melibatkan Lyona lagi yang ada Jackson akan curiga dengan rencana yang kamu buat."


"Lalu aku harus bagaimana?" Neo memberikan rencana yang cukup bagus menurut pandangan Aurora, pria ini sangat pintar seperti dirinya dan dia sangat menyukai apa yang direncanakan Neo.


Aurora seperti biasa melakukan rencananya, dia kembali memainkan perannya seperti bermain dia sebuah film yang pernah ia tonton. Dan sekarang dia yang akan menjadi peran utamanya, Jackson seperti biasa menjemput Alice di kantor dan wanita cantik itu masuk.


Jackson membawa Alice ke salah satu diskotik terkenal di kota, diskotik tersebut buka selama 24 jam. Membuat siapa saja datang untuk berkunjung ke tempat hiburan malam, Jackson dan juga Aurora datang ke tempat tersebut.


Dia ingin melakukan perannya untuk menggoda Jackson, mulai sekarang ia akan bermain secara kasar lagi bukan selembut sebelumnya. Dulu mungkin dia menggunakan cara halus sekarang tidak bisa lagi, karena yang ia perankan dirinya sendiri dan dia tidak mau ada orang lain yang ia libatkan.


"Buat apa kamu memintaku datang ke tempat ini? Bukannya kamu tidak pernah datang kemari Lice." kata Jackson menatap Alice yang sibuk mengambil tas di bangku belakang.


"Karena aku pusing dengan pekerjaan kantor makanya aku ajak kamu ke tempat ini. Tidak masalahkan aku minta kamu ke tempat seperti ini?" tanya Alice melihat Jackson seperti tidak yakin untuk masuk ke dalam.


Kenapa Jackson seperti merasa ketakutan dan tidak yakin?


Karena semua temannya pasti datang ke tempat ini, dan dia pernah membawa wanita bayaran atau wanita selingkuhannya datang kemari untuk bersenang senang. Selain Amara dia banyak sekali membayar wanita untuk memuaskannya, karena Alice tidak bisa memuaskannya makanya dia membayar wanita untuk memuaskan hasratnya.


Mereka berdua masuk ke dalam diskotik tersebut, namanya juga hiburan malam pasti sudah banyak dikunjungi orang lain walau belum waktunya tengah malam. Di sini Aurora akan melakukan rencananya, dan membiarkan Jackson menjadi dirinya sendiri.

__ADS_1


Karena dia ingin tahu apakah Jackson akan tergoda dengan wanita di sini, karena sifat Jackson seperti kucing. Setiap ada mangsa pasti selalu di lahap, entahlah apakah Jackson akan seperti itu juga atau mulai berubah seperti apa yang dikatakan pria ini sebelumnya.


__ADS_2