
"Sudah sayang jangan marah lagi, lagian ini pertama kalinya kamu kalah. Suatu saat kamu akan menang tender lagi." ucap Amara yang menenangkan Jackson.
"Tapi aku heran dengan Alice, kenapa dia berani melawan suaminya sendiri. Dan yang aku bingung kenapa sikap dia tidak seperti dulu." kata Jackson yang sesekali melihat Amara.
"Maksud kamu Alice berani melawan kamu, bukannya dia sangat mencintai kamu sampai dia tidak bisa melawan semua perintah kamu." ujar Amara yang menatap wajah Jackson, tetapi pria itu malah melihat kearah orang lain.
"Aku tidak tahu kenapa dia sikapnya mulai berubah, aku tidak mengerti kenapa wanita itu berani menentang ku."
Amara terus menyentuh tangan Jackson lalu ia membawa pria itu pergi, di dalam mobil mereka berdua tidak bicara sedikitpun begitupun dengan Jackson. Dia masih diselimuti dengan amarah, apalagi melihat bagaimana Alice membantu Neo.
"Terima kasih ya Lice kamu sudah mau membantuku untuk memenangkan tender malam ini. Aku bangga banget sama kamu, awalnya aku tidak yakin bisa menang tapi berkat kamu keraguan aku mengalahkan semuanya." ucap Neo yang melirik kearah Alice lalu dia kembali menyetir.
Alice tersenyum senang saat musuhnya kali ini kalah di depan matanya, dia mau lihat gimana respon Jackson saat bertemu dengannya, apakah pria itu akan marah atau malah melakukan sesuatu pada tubuh ini.
Neo melambaikan tangan saat melihat tangan Alice melambaikan tangannya kearahnya, wanita itu tersenyum barulah Neo bisa pergi dari hadapan Alice. Saat kepergian Neo barulah dia mendengar mobil Jackson tiba, pria itu yang melihat Alice lebih dulu sampai.
Mulai bergegas menghampiri Alice, tanpa bicara apapun dia menarik tangan Alice sampai pemilik tangan itu kesakitan.
"Aku sudah katakan sama kamu jangan pernah berani melawanku, kamu ini sengaja membuat suamimu kalah di depan semua orang."
"Kamu ini istriku seharusnya kamu mendukung suami kamu bukan membantu Neo." ucapnya kembali saat melihat bagaimana ekspresi wajah pria ini menunjukkan kemarahan.
Alice menyentuh pergelangan tangannya, di sana dia melihat ada bekas merah akibat cengkraman tangan Jackson yang terlalu kuat. "Memangnya kenapa kalau aku membantu Neo, sudah seharusnya aku membantunya untuk memenangkan tender ini. Bukan malah mengikuti perintah dari kamu."
"Alice jangan coba-coba kamu melawanku. Aku bisa saja melakukan sesuatu sama kamu." tutur Jackson yang berusaha menurunkan amarahnya.
"Lakukan saja aku tidak akan takut dengan ancaman kamu itu." tentang Alice, lalu wanita itu pergi ke kamar meninggalkan Jackson yang masih tidak terima akan kekalahannya.
"Sial! Bisa-bisanya dia berani melawanku, lihat saja kamu Alice aku akan melakukan sesuatu untuk menghukum mu." batin Jackson yang melihat pintu kamar Alice.
__ADS_1
Seperti biasa Alice selalu sarapan sendiri, pria brengsek itu entah kemana. Dia tidak pernah melihat Jackson makan di rumah, apalagi melihat batang hidungnya. Mungkin Jackson sudah menemui selingkuhannya, makanya pria itu tidak ada di rumah.
Sedangkan Amara yang melihat kedatangan Jackson segera menghampiri kekasihnya, masih ada waktu untuk menemui Jackson sebelum karyawan datang. Dia sengaja datang lebih awal karena dia ingin bertemu dengan Jackson, pria yang sudah lama menjadi kekasihnya.
"Sayang, aku datang." ucap Amara dengan nada bahagia saat melihat Jackson, Jackson sama sekali tidak merespon Amara dia malah menatapnya saja.
***
"Sayang." panggil Amara yang sudah datang mendekati Jackson, pria itu tersenyum melihat kedatangan kekasihnya.
"Kamu kenapa diam saja, aku dari tadi manggil kamu loh." ujar Amara dengan manja, wanita itu sudah berada dipangkuan Jackson membuat lelaki itu melihat wajah cantik Amara.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kamu datang." urai Jackson yang melihat wajah Amara.
"Tidak apa-apa sayang, aku ngerti kamu pasti sedih dengan kegagalan tender kemarin malam. Aku yakin kamu bisa memenangkan tender itu lagi." kata Amara yang menatap wajah Jackson dengan kedua tangannya sudah berada di leher kekasihnya.
"Aku minta maaf Amara aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak mood untuk menyentuh kamu." Amara memanyunkan bibirnya saat mendengar penolakan dari Jackson, melihat itu Jackson tidak tega melihat wajah Amara.
"Baiklah." jawab Jackson membuat wanita di pangkuannya memamerkan senyum manisnya, tanpa menunggu waktu lama lagi Jackson menyerang bibir manis yang dimiliki Amara.
Bibir yang sudah lama tidak dia sentuh, pagi ini dia akan meminta sarapan dari Amara. Karena wanita ini paling bisa menuntaskan hasratnya, sedangkan Alice tidak pernah memberikan apa yang dia inginkan.
Ciuman itu semakin lama semakin dalam dan ganas, membuat nafas mereka terengah-engah Jackson yang melihat Amara kehabisan nafas melepaskan ciuman. Beberapa menit barulah dia kembali mencium Amara, kali ini bukan bibir melainkan leher jenjang kekasihnya.
"Augh... ahhh..." suara ******* yang dikeluarkan Amara membuat nafsu di tubuh Jackson semakin bangkit, wanita ini selalu berhasil membuatnya bergairah.
Sampai-sampai Jackson tidak bisa melepaskan kegiatan panas ini, Amara sangat puas dengan servis yang dilakukan Jackson. Ini bukanlah yang pertama bagi mereka berdua, tapi Jackson terus memberikan sesuatu seperti pertama kalinya.
Pagi hari mereka sudah melakukan olahraga diruangan Jackson, sedangkan Jackson masih belum bisa melepaskan kegiatan panas ini. Sampai akhirnya kegiatan panas ini terpaksa mereka hentikan, karena sebuah deringan handphone mengganggu aktivitas mereka.
__ADS_1
"Siapa sayang?" tanya Amara yang berusaha memulihkan nafasnya, dia melihat lelaki itu mencium bibirnya kembali.
Tapi kali ini bibirnya hanya dicium singkat, barulah Jackson meminta Amara untuk turun dari pangkuannya. Jackson mengangkat panggilan telepon itu, dia menerima telepon itu sedikit menjauh dari Amara karena dia tidak ingin wanita itu mengetahui pembicaraannya.
Selesai menerima panggilan Jackson kembali menatap Amara, "Siapa sayang? Tumben banget kamu nelpon jauh-jauh dari aku."
"Biasa bibi menelpon ku untuk menanyakan keadaan Alice, istriku ingin dibelikan soto daging kesukaannya." ujar Jackson sedikit berbohong.
"Cih, suruh saja dia beli sendiri kenapa harus kamu yang belikan." urai Amara kesal, dia sangat kesal dengan tingkah laku Alice.
Bisa-bisanya wanita murahan itu menyuruh kekasihnya, apa dia tidak punya teman, saudara atau tetangga untuk membelikan itu kenapa harus menyuruh Jackson untuk membelikannya. Jackson yang melihat kekasihnya cemberut menghampiri Amara.
Dia menyentuh dagu runcing Amara supaya dia bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah cantik kekasihnya ini, "Sudah jangan manyun gitu nanti cantiknya hilang."
"Lagian aku kesal sama istri kamu, buat apa dia memerintahkan kamu membelikan soto daging. Bukannya dia masih punya kaki untuk beli sendiri, ganggu kesenangan kita aja." gerutu Amara, membuat Jackson yang melihat itu terlihat gemas dengan tingkah laku kekasihnya ini.
"Sudah jangan cemberut lagi. Nanti aku akan cari waktu untuk berduaan sama kamu, dan kita bisa melakukan itu kapanpun kamu mau."
"Kamu yang benar?" tanya Amara yang terlihat bahagia saat Jackson bicara seperti barusan, lelaki itu dengan cepat mengangguk lalu memeluk tubuh kekar Jackson.
Sebenarnya Jackson berbohong kepada Amara, barusan yang menelpon bukan bibi tetapi orang kepercayaannya. Dia meminta orang kepercayaannya untuk membawa beberapa wanita untuknya.
Dia ingin melakukan itu dengan wanita lain bukan dengan Amara, sejujurnya dia sudah bosan berhubungan dengan Amara. Apalagi menyentuh tubuh Amara, dia ingi mencari pelepasan di tubuh wanita lain bukan tubuh Amara.
Jackson berharap bisa melakukannya dengan Alice, tetapi melihat wajah wanita itu saja seakan membosankan makanya dia sering bermain dengan Amara. Kenapa Jackson masih mempertahankan Alice?
Karena berkat adanya wanita itu seluruh kekayaan yang dimiliki kakeknya sudah berada di tangannya, dan dia melihat bagaimana Alice sangat mencintainya. Jadi karena itu dia bisa melakukan apapun untuk Alice, walau dia sering membawa wanita bayaran untuk memuaskannya di depan mata Alice.
Sedangkan respon Alice biasa saja, mungkin dia juga mengancam Alice untuk tidak ikut campur masalah pribadinya begitupun sebaliknya. Makanya dia dengan senang hati bisa menyakiti perasaan Alice, walau dia tahu wanita itu sangat baik kepadanya dan juga kepada keluarganya.
__ADS_1