
Sudah dua hari ini Aurora dibuat pusing dengan tingkah laku Jackson, yang lebih parahnya pria itu ikut makan bersama di satu meja. Biasanya Jackson tidak pernah makan satu meja dengan Alice, tapi kali ini Jackson seperti kesambet sesuatu makanya menjadi aneh.
"Hari ini aku tidak akan pulang lebih cepat. Kamu bisa pulang sendiri?" pertanyaan itu sontak membuat keduanya saling memandang, Alice mengangguk saja tanpa menjawab apa yang dikatakan Jackson.
"Kalau kamu tidak berani pulang sendiri aku akan meminta supir untuk jemput kamu." lagi-lagi pria ini selalu ikut campur masalahnya, Aurora yang berhadapan dengan Jackson saja sudah pusing kepala apalagi Alice.
Aurora melihat bagaimana Jackson memberikan sebuah senyuman kepadanya, "Bisa gak kamu jangan bersikap seperti ini, aku ini sudah besar bukan anak kecil lagi. Aku tahu alamat rumahku sendiri Jackson, bukan anak kecil yang harus diantar jemput."
"Ya aku tahu. Tapi setidaknya kamu aman, aku tidak mau kamu kenapa-napa."
"Terserah kamu aja." balas Alice dengan cepat, dia sudah malas berdebat dengan pria seperti Jackson.
Aurora sebenarnya tidak ingin diantar oleh Jackson, tapi pria ini selalu memaksanya untuk berangkat bersama. Tanpa pikir panjang dan dia juga malas adu argumen dengan Jackson jadi ia memutuskan untuk pergi bersama.
"Kamu ingat ucapanku jangan nakal di kantor. Kamu harus bersikap profesional sebagai karyawan bukan genit, aku tidak mau kamu terlalu dekat dengan sahabat kamu itu."
"Maksud kamu Neo?" ucap Alice membuat wajah Jackson berubah seketika.
"Ya siapa lagi kalau bukan dia." Aurora menatap Jackson saat wajah lelaki itu seperti menahan api cemburu, tetapi pria itu sama sekali tidak bilang kalau dia sedang cemburu.
Tanpa dia pedulikan lagi Alice membuka pintu mobil, ia melangkah masuk ke dalam kantor membuat Jackson yang melihat itu memutuskan pergi juga. Tanpa butuh waktu lama Jackson tiba di kantor, di sana Amara sudah menyambut kedatangannya.
"Selamat pagi, pak Jackson." sapa Amara membuat Jackson mengangguk, dia melangkah bersamaan dengan Jackson.
Semua karyawan yang bekerja di kantor ini tidak pernah menyadari hubungan diantara mereka berdua, mereka tahunya hanya bos dan sekretaris. Itupun keduanya saling menutupi aib masing-masing, kalaupun ada satupun orang yang tahu mungkin sudah dipecat oleh Jackson.
Karena Jackson sangat mencintai Amara, apapun yang dikatakan Amara pasti selalu dituruti begitupun kebutuhan biologis mereka masing-masing. Jackson duduk di kursi kerja, saat mata lelaki itu melihat Amara sudah duduk di pangkuannya.
"Turun Amara nanti ada orang yang melihat kamu seperti ini." kata Jackson memaksa Amara untuk turun dari pangkuannya, karena dia takut kalau nanti ada karyawan datang keruangan.
__ADS_1
Amara melingkari kedua tangannya tepat di leher Jackson, Jackson selalu melihat cara Amara untuk menggoda dan merayunya. Rayuan Amara berhasil membuatnya terbuai apalagi dengan sentuhan-sentuhan kecil yang selalu diberikan Amara.
"Kalau aku tidak mau gimana. Bukannya kita sering melakukan hal seperti ini, apalagi masalah biologis. Kamu selalu suka dengan sikap aku yang seperti ini bukan, gimana kamu mau melakukannya sekarang?" lontar Amara membuat lelaki di depannya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Biasanya Jackson selalu menyerangnya lebih dulu apalagi saat dia memainkan taktik nakal seperti ini, tapi entah kenapa Jackson seperti bodo amat dengan keberadaannya.
Jackson melihat Amara kembali dengan menyingkirkan tubuh Amara dari pangkuannya, "Aku sudah bilang sama kamu jangan pernah melakukan hal kotor lagi Amara. Aku tidak suka kamu bersikap seperti itu di kantor."
***
"Tapi kenapa kamu menolak ajakanku Jackson, bukannya kamu sangat menyukai wanita nakal sepertiku." kata Amara yang sudah berdiri dan menatap lelaki yang kini berada di hadapannya.
"Itu dulu tidak untuk sekarang. Karena aku sudah tidak ingin melakukannya lagi, aku sudah sadar kalau aku mencintai istriku Alice." tutur Jackson dengan jujur, tetapi kejujuran yang kini diucapkan Jackson membuat Amara marah.
Kemarahan yang diberikan Amara mampu membuat dendam itu melekat, bagaimana bisa Jackson bicara seperti itu di saat Amara sangat membenci Alice. Dan bagaimana bisa pria seperti Jackson mulai mencintai Alice, bukannya pria itu sangat membenci Alice.
Tapi sekarang Jackson mulai jatuh cinta? Yang artinya posisinya sebagai kekasih Jackson akan tersingkirkan dengan Alice. Dan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena dia tidak ingin posisinya disingkirkan oleh Alice.
"Jackson tunggu." ucap Amara saat dia tidak sengaja bertemu dengan Jackson di depan kantor.
"Ada apa?" tanya Jackson melirik Amara sekilas lalu pria itu sibuk dengan handphone.
"Aku boleh pulang bareng sama kamu." kata Amara membuat Jackson menatap Amara saat dia disibukan dengan pesan yang dikirim oleh Alice.
"Bukannya kamu punya kendaraan. Lagian arah rumah kita tidak searah, kemana mobil yang biasanya kamu pakai?" kali ini Jackson yang menanyakan pertanyaan yang membuat otak Amara memutar.
Karena dia tidak mungkin kehilangan Jackson walau begitu ia harus berusaha mendapatkan pria ini kembali.
"Mobilku mogok Jackson. Boleh ya aku numpang sama kamu." ucap Amara yang memberikan ekspresi memohon, melihat wajah Amara membuat Jackson tidak tega.
__ADS_1
Mau tidak mau Jackson menyetujui ucapan Amara, mereka berdua akhirnya pulang satu mobil. Selama di perjalanan Amara terus memeluk tangan Jackson, walau membuat pria yang sibuk menyetir menjadi kesulitan saat melihat sikap Amara terus menempel.
"Lepaskan tangan kamu Amara aku tidak mau istriku salah paham tentang kita." ujar Jackson berusaha melepaskan tangan Amara yang terus menempel.
Amara tidak peduli dengan ucapan Jackson dia malah semakin mempererat sentuhannya, "Memangnya kenapa? Bukannya kamu tidak peduli dengan istri kamu itu, kenapa sekarang kamu mulai peduli sama perasaan Alice."
"Karena Alice tidak tahu kalau kamu selingkuhan aku, aku tidak mau dia salah paham dan mengakibatkan rumah tanggaku hancur gara-gara sikap kamu yang seperti ini." ucapan Jackson membuat Amara melepaskan tangannya dari tangan Jackson.
Wanita itu kembali ke posisi awal, beginilah nasibnya kalau hanya dianggap wanita simpanan. Cuman dijadikan pelampiasan semata sedangkan peran utamanya adalah istri sah.
Selama di perjalanan Jackson sempat melirik Amara yang terlihat diam tanpa bicara, "Kenapa? Kamu marah aku bilang gitu."
Amara hanya bisa menghela nafas saat mendengar perkataan Jackson, "Gimana aku tidak marah sama kamu, lihatlah diriku ini tidak sebanding dengan istri kamu. Kamu tidak tahukan kalau posisiku sudah tersingkirkan oleh istri kamu itu, aku tidak mau seperti ini Jackson."
"Aku tidak mau kamu mengabaikan aku cuman gara-gara Alice." Jackson sangat terluka dengan perasaan yang kini diberikan oleh Amara, tapi mau gimana lagi semuanya sudah terjadi.
Dia juga tidak mungkin bicara yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Amara, apalagi Alice satu-satunya wanita yang membuat dirinya merasa beruntung. Dulu dia sengaja menentang pernikahannya dengan Alice, tapi saat melihat imbalan ia menerima pernikahan ini.
Pernikahan yang selama ini dia jalani bersama Alice berjalan mulus, apalagi saat mengetahui kalau Alice sangat mencintainya. Mau tidak mau dia semakin tidak karuan membuat wanita itu sakit hati, sampai dia bisa menyakiti Alice secara terang-terangan.
Masalah perselingkuhannya dengan Amara Alice tidak pernah tahu, mereka berdua sepakat untuk menutupi semuanya dari Alice. Karena sejak awal Jackson tidak pernah mencintai Alice, walau dia berusaha membuka hati tapi tetap saja semuanya sia-sia.
Jadi saat itu ia mulai terlena dengan kehidupan yang kini dia jalani bersama dengan Amara, "Kita sudah sampai di kantor Alice. Kamu bisa 'kan pindah duduknya di kursi belakang."
Amara menatap Jackson saat mendengar perkataan kekasihnya, "Kenapa harus aku yang ada di sana kenapa tidak minta istri kamu saja."
Jackson menggenggam kedua tangan Amara dengan menatap wajah wanita itu dengan seksama, "Aku mohon sama kamu, kamu mau ya duduk di kursi belakang."
"Baiklah." Jackson tersenyum mendengar jawaban Amara, sambil menunggu Alice datang dia sempat mencium bibir kekasihnya.
__ADS_1
Alice tersenyum saat melihat mobil Jackson, saat dia menghampiri mobil itu tidak sengaja matanya melihat kearah kursi belakang. Di sana ia melihat Amara yang ikut bersama dengannya, membuat wanita itu terasa bangga dengan dirinya sendiri.
"CK, dasar wanita murahan." gumam Alice dengan pelan, Alice menatap Jackson saat pria itu memintanya untuk masuk ke dalam mobil.