
Jackson lebih cepat datang dari pada Neo, pria itu datang ke rumah di pagi hari sekali dengan membawa sebungkus bubur ayam kesukaan Alice. Sedangkan Aurora yang berada di tubuh Alice merasa aneh melihat pesanan Jackson, dia dari dulu tidak menyukai bubur ayam.
Apalagi memakannya, melihat bentuknya saja dia tidak suka. "Buat apa datang dan membawa makanan."
"Karena aku tahu kamu belum makan, dan aku melihat di jalan ada makanan kesukaan kamu. Bukannya kamu paling suka sama bubur ayam, aku sudah membelikannya untukmu dan di tambah sate usus kesukaan kamu." kata Jackson yang menatap Alice, Aurora bingung mau bilang apa kepada Jackson.
Dia tidak mungkin makan bubur ayam, dia paling tidak suka dengan bubur yang sudah lembek apalagi dengan bumbu kuningnya itu. Seperti makanan ayam yang dikasih air, Alice kembali menatap Jackson setelah menatap penampilan bubur ayam yang dibawa Jackson.
"Kamu ambil saja makanan kamu ini, aku lagi menunggu pesananku datang." tolak Alice memberikan makanan yang Jackson kasih.
Setelah pembicaraan mereka tibalah seorang lelaki masuk ke dalam, lelaki itu tersenyum dan membawa pesanan Alice yang selalu dibawa pria ini setiap paginya.
"Hai Lice. Sepertinya aku datang waktunya tidak tepat." ucap Neo yang melihat kedatangan Jackson membawa sarapan pagi.
"Apa pesananku sudah kamu beli?" tanya Alice kepada Neo.
"Sudah tuan putri. Kamu diam saja di sini aku ambilkan piring dan sendok untuk kamu." Alice tersenyum lalu mengangguk, sedangkan Neo pergi ke dapur menyiapkan dua piring dan sendok tidak lupa dengan dua gelas air putih.
"Apa dia sering datang kemari untuk menemui kamu?" mendengar kalimat Jackson Alice menatap Jackson, lelaki itu malah memandangi Neo yang sibuk di dapur.
"Ya. Semenjak kamu sibuk dengan selingkuhan kamu dan dialah yang selalu ada di sampingku." jawab Alice secara tidak langsung membuat perasaan Jackson seperti digoreskan oleh pisau tajam.
Mungkin kalimat itu adalah kalimat sederhana yang Alice ucapkan, tidak dengan Jackson ia merasa kalau kalimat itu seperti belati untuknya.
Neo datang membawa dua piring, sendok dan dua gelas air putih. Neo duduk di samping Alice setelah meletakan barang, ia membuka bungkusan itu dan meletakkannya di atas piring.
"Oh ya, aku hanya beli dua bungkus lontong sayur aku tidak tahu kalau suami kamu datang kemari. Kalau aku tahu aku akan membelikannya juga." ucap Neo yang sesekali melirik Jackson.
__ADS_1
Melihat wajah Jackson yang begitu merah rasanya dia ingin tertawa puas, apalagi melihat sarapan yang di bawa Jackson di tolak mentah mentah.
"Kamu jangan menyebut dia suamiku lagi, aku sudah tidak ada hubungannya dengan dia. Semenjak dirinya tega membuang ku dan diam diam menikahi selingkuhannya." protes Alice saat Neo mengatakan kalau Jackson adalah suaminya.
Memang status mereka masih sah suami istri, tapi saat dibuang dan diperlakukan tidak adil. Ia sudah menganggap pernikahan ini selesai, apalagi saat mengetahui suami yang dia cintai menikah diam diam tanpa sepengetahuannya. Mungkin saat itu juga kebenciannya semakin bertambah besar, membuat Alice muak dengan Jackson.
Jackson terdiam, ia merasa kalau dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi. Mendengar kalimat yang dilontarkan Alice membuat hatinya sakit, apalagi melihat Alice melahap sarapan yang dibawa Neo. Sedangkan sarapan yang dia bawa di tolak, Jackson memutuskan untuk kembali dan meninggalkan sarapan tanpa dibawa pulang.
***
Melihat kepergian Jackson Neo menghentikan menguyah dan menatap Alice, "Apa kamu tidak terlalu kejam mengatakan itu di depan suamimu sendiri? Menurutku dia seperti kecewa mendengar kalimat dari mulutmu."
"Tidak. Dia pantas di perlakukan seperti itu, jujur rasa benci dan rasa sakit hati ini sudah terlanjur dalam untuknya. Apalagi melihat dia menikahi selingkuhannya, membuat kebencian itu semakin bertambah.
Aku tidak ingin melihat pria itu lagi, aku juga tidak mau bersama dengan pria itu. Sudah terlanjur sakit kalau bertemu dengannya." kata Alice dengan jujur, kejujuran Alice membuat Neo bingung.
"Kamu sungguh hebat Alice mendapatkan pengganti kamu, tapi aku bingung ingin percaya dengan siapa kalau bukan kamu yang asli. Aku ingin melihat kamu tenang di alam sana, tapi di satu sisi wanita lain yang akan memainkan peranmu dan menggantikan posisi kamu." batin Neo menatap Alice yang sibuk makan lontong sayur.
Dunia sudah tidak berpihak kepadanya lagi, Alice wanita yang dia sia-siakan sudah tidak menginginkannya. Sedangkan dia sangat merindukan wanita itu, mungkin dulu dia sangat membenci Alice saat melihat sikapnya.
Tapi sekarang dia seperti takut kehilangan wanita itu, "Apa yang harus aku lakukan lagi untuk mendapatkan kamu kembali Lice. Aku tidak ingin kehilangan kamu dan aku juga tidak bisa kehilangan Amara."
Jackson memutar setir mobil tepat menuju apartemen Amara, tiba di sana Jackson keluar dari mobil dan mengunci mobilnya. Dia melangkahkan kakinya menuju apartemen, tepat di ambang pintu Jackson tidak lupa menekan kode kamar.
Setelah berhasil pintu itu terbuka, dia melihat Amara sibuk menonton film di temani dengan skincare kebanggaannya itu. Jackson dengan langkah lesu menuju Amara, ia duduk di samping Amara dengan memeluk tubuh istrinya.
Amara tersentak kaget melihat Jackson berada di dekatnya sambil memeluknya, tanpa memberikan sebuah pertanyaan ia membiarkan Jackson menenangkan diri terlebih dahulu barulah dia bisa menanyakan keadaan suaminya.
__ADS_1
"Apa sekarang aku bisa mengatakan sesuatu?" Jackson mengangguk tanpa bersuara, sebelum itu Amara mengelus rambut Jackson dengan lembut barulah menghentikan pergerakannya.
"Apa di kantor lagi ada masalah?" Jackson menggeleng saat tubuhnya masih memeluk tubuh Amara.
"Lalu kamu kenapa seperti ini. Pulang ke rumah dengan keadaan kacau, apa masalah kamu itu cukup berat sampai kamu seperti ini." kata Amara membuat Jackson menatap Amara saat wajah pria itu awalnya tertutup dengan pakaian Amara.
"Dia sudah tidak memperdulikan aku lagi, dia sudah membuang ku Amara. Apa selama ini aku kurang memperhatikannya dan memanjakannya sampai dia tidak peduli kepadaku." lontar Jackson membuat Amara bingung dengan perkataan pria ini.
"Maksud kamu siapa yang sekarang kamu bicarakan."
"Alice. Dia sudah tidak peduli denganku, dia sudah membuang ku dan melupakan aku sebagai suaminya sendiri." kata Jackson terlihat dengan jelas kalau Jackson sangat mencintai Alice.
Dari bola matanya saja kalau pria ini sangat mencintai Alice, sedangkan dirinya seperti sudah di sia-siakan begitu saja tanpa Jackson sadari.
"Sudahlah sekarang kamu masih punya aku, kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa denganku. Dari pada kamu datang menemui Alice yang ada wanita itu akan menolakmu lagi." ujar Amara dengan melanjutkan mengelus kepala Jackson dengan lembut, sambil memasukan cemilan ke dalam mulut.
Entahlah jawaban Amara tidak membuat dirinya puas, kalau seperti ini dia tidak bisa mendapatkan Alice kembali dan malah dia kesenangan sudah dekat dengan Neo. Andai dia bisa memisahkan mereka berdua, mungkin dia bisa mengambil hati Alice kembali.
Jackson seketika bangun dan menjauh dari Amara, tanpa mengatakan apapun pria itu menuju ke kamar dan melakukan rencana yang sempat ia pikirkan barusan. Dia bertekad untuk memisahkan Alice dan Neo, saat itu juga ia bisa mengambil hati Alice kembali.
Jackson begitu semangat untuk bangun pagi, ia menyiapkan sarapan kesukaan Alice. Dia akan mencoba mengambil hatinya lagi, pasti cara ini akan berhasil membuat wanita itu takluk dengannya.
"Sayang, kamu lagi buat sarapan?" suara seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar, wanita itu melihat Jackson sibuk di dapur seperti sedang menyiapkan sarapan.
"Ya, hari ini aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Pasti kamu lelah seharian ini di rumah, makanya aku yang akan menyiapkan keperluan kamu." mendengar ucapan Jackson membuat hati Amara tersentuh, dan senyum di bibirnya seketika mengembang.
"Semoga saja Jackson benar benar berubah." batin Amara menatap punggung Jackson yang sibuk memasak.
__ADS_1