
Aurora sibuk mengetik laptop buat mengecek laporan kantor, dia merasa kalau Neo seperti ingin mendapatkan pemilik tubuh ini. Karena saat ia masuk ke tubuh ini sosok Neo mulai kembali merebut Alice.
Mungkin Alice terlalu bodoh tidak melihat lelaki yang tulus selama ini, makanya dia lebih memilih Jackson yang menurutnya tulus. Tapi kenyataannya pria itu sudah bermain api dengan sekretarisnya sendiri.
Sungguh bodoh menjadi Alice, sudah berjuang mendapatkan cinta dari laki-laki yang hanya menyakitinya. Dan dia harus tinggal di rumah ini yang menurutnya sangat megah, apalagi Neo terus menunggu Alice buat menerimanya.
Aurora menghentikan jari tangannya saat dia mengingat sesuatu, "Bukannya Alice pernah bilang kalau Jackson takut dengan kakeknya, mungkin ini satu-satunya cara buat mencari bukti supaya keluarga Jackson percaya kalau anaknya tidak sebaik yang mereka pikirkan."
"Tapi bagaimana aku bisa mendapatkan bukti perselingkuhan mereka. Bukannya di antara mereka terlihat biasa saja, pasti mereka menyimpan dengan rapat perselingkuhan yang sekarang mereka jalani." batin Aurora dengan melamun menatap layar laptop.
Aurora memutuskan untuk mematikan laptop tersebut dan dia lebih mencari bukti di tempat kerja Jackson, mungkin sekarang pria itu sedang sibuk bercinta dengan Amara. Dan ini kesempatannya untuk mencari bukti perselingkuhan mereka berdua.
Aurora menutup pintu tersebut, dia mulai mencari sesuatu yang akan menjadi bukti. Semua tempat sudah Aurora cari, tidak ada satupun bukti yang dia temukan diruang kantor Jackson.
"Pria ini sungguh cerdik sekali menyembunyikan perselingkuhannya. Semua orang tidak tahu soal hubungan mereka, aku yakin pasti keluarga dan karyawan kantor tidak tahu hubungan terlarang mereka berdua." gumam Aurora, Aurora kembali mengacak-acak tempat kerja Jackson dan seketika dia menemukan sesuatu di dalam lemari.
"Oh jadi ini yang dikatakan Alice. Mungkin Jackson menerima pernikahan ini untuk mendapatkan harta warisan, karena pria itu ingin seluruh aset kakeknya menjadi miliknya seorang. Sungguh licik sekali pria ini dan Alice malah mendapatkan pria selicik Jackson." batin Aurora, Aurora mengeluarkan handphone untuk memfoto bukti yang kini dia temukan.
Saat Aurora mau menyentuh lemari satunya, Aurora tidak sengaja mendengar suara mobil Jackson. "Gawat Jackson sudah kembali, aku harus keluar dari sini nanti dia curiga kalau ada di sini."
Aurora merapikan kembali lemari yang sempat dia buka, ia bergegas keluar dari ruang kerja Jackson menuju lantai bawah. Di sana ia melihat Jackson sudah berjalan kearah rumah, sedangkan Aurora sibuk di dapur menyiapkan makanan.
"Kamu sudah pulang." ucap Alice saat kedua tangannya sibuk mengelap, Jackson yang melihat penampilan Alice seakan enggan melihatnya.
Pria itu malah duduk di sofa, "Kamu sudah makan?" lagi-lagi Alice sangat antusias menanyakan suaminya, tetapi pria yang dia tanya tidak menganggap kehadirannya.
"Sayang." panggil Alice yang sudah duduk disebelah Jackson, Jackson yang melihat Alice segera bergeser.
"Kamu bisa gak jangan terlalu dekat. Lihatlah penampilan kamu sekarang seperti pembantu, kamu harusnya tahu suami pulang berpenampilan cantik bukan seperti ini." kata Jackson yang kedua matanya melirik penampilan Alice dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Dulu dia menikahi Alice karena harta warisan, walau dia tidak menyukai Alice tapi wanita ini selalu cantik. Tapi semenjak tahu sifat buruk Alice dia sangat tidak tertarik dengan Alice, apalagi Alice selalu berpakaian seperti ini saat di rumah.
***
Mungkin dia sangat bodoh memilih Alice menjadi pasangan hidupnya, kalau tahu Alice seperti ini dia tidak akan menerima wanita ini. Tapi ya sudahlah walau begitu harta yang dimiliki sang kakek sudah menjadi miliknya.
"Maafkan aku, aku tidak sempat merapikan penampilanku. Aku sibuk seharian ini di rumah jadi tidak sempat mengurus diriku sendiri." ucap Alice menatap penampilannya sendiri.
"Cepat kamu buatkan saya kopi seperti biasa, aku tidak mau ada kesalahan apapun." perintah Jackson kepada Alice, Aurora yang tahu dirinya diperintahkan seperti bawahan berusaha menahan kesal.
Alice melakukan tugas untuk melayani suaminya sendiri, seketika Aurora tersenyum saat ide cemerlang muncul. Dia mengambil obat sakit perut di kantung celana, obat berbentuk serbuk itu dimasukan ke gelas yang sudah berisi kopi.
"Makan tuh kopi, aku yakin besok dia bolak-balik ke kamar mandi. Kalau kaya gini dia tidak akan berani berselingkuh dengan Amara." Aurora tertawa saat membayangkan kejadian dimana Jackson akan bolak-balik ke toilet.
"Dia pikir aku ini pembantu yang bisa disuruh-suruh, enak aja aku ini Aurora bukan Alice yang gampang dipermainkan oleh pria seperti Jackson." batin Aurora, wanita itu berjalan ke tempat Jackson untuk memberikan kopi pesanan Jackson.
Jackson menerima kopi buatan Alice, pria itu sempat marah-marah hanya Alice kelamaan buat kopi. Wanita itu tersenyum sambil menatap Jackson, dia yakin pasti besoknya pria itu akan ke toilet. Itulah balasan darinya, mungkin dia akan tertawa puas saat melihat penderitaan Jackson besok.
Alice dengan cepat menggeleng, "Ya sudah kalau gitu aku pergi ke atas dulu, kalau kamu butuh sesuatu panggil aja."
"Hem." itulah jawaban yang diberikan Jackson, mungkin kalau bukan karena tugas dia sudah menghajar pria itu.
"Sabar Aurora! Kamu harus tahan emosi jangan sampai kamu melampiaskan emosi kamu, nanti rencana kamu berantakan." batin Aurora dengan mengelus dada.
Selesai mandi Aurora kembali ke lantai bawah, di sana dia melihat Jackson sudah menggunakan pakaian rapih. Dia yakin kalau pria itu ingin menghampiri Amara, siapa lagi kalau bukan Amara yang menjadi selingkuhan Jackson.
"Kamu mau kemana, Jackson?" tanya Alice yang melihat Jackson rapih, pria itu menatap Alice.
"Bukan urusan kamu." jawab Jackson tanpa memperdulikan Alice, pria itu pergi setelah mengambil kunci mobil.
__ADS_1
"Baguslah kalau pria itu sudah pergi, jadi aku bisa keluar untuk mencari bukti. Dan ini kesempatannya untuk mengetahui kelicikan mereka berdua." batin Aurora, Aurora mengambil kunci mobil dan bergegas mengikuti mobil Jackson.
Mobil yang biasanya dipakai Jackson tiba di salon, salon itu adalah langganan Amara saat bertemu dengan Jackson. Tidak hanya itu saja Amara selalu berpenampilan cantik dan seksi, membuat matanya selalu menyukai keindahan yang dimiliki Amara.
"Sayang kamu sudah sampai." kata Amara yang melihat sosok Jackson dari kaca, lelaki itu duduk di bangku tunggu sambil melihat penampilan Amara.
"Gimana penampilanku hari ini?" tanya Amara saat wanita itu sudah selesai memanjakan diri.
Cantik! Itulah yang dilihat dari mata Jackson, sangat pas dipandang olehnya. Tidak seperti Alice yang hanya bisa berpenampilan kusam tanpa pedulikan penampilan.
Jackson berdiri dan melihat kembali penampilan Amara, "Kamu tetap cantik di mataku Amara. Kamu ini paling bisa memberikan kesenangan untukku."
Amara tersenyum saat Jackson menyentuh hidungnya, mereka berdua bergegas keluar dari salon menuju mobil. Alice yang melihat mobil Jackson kembali mengikuti mobil itu.
Ternyata mereka berdua datang ke acara pernikahan, dia tidak tahu pernikahan siapa yang mereka datangi. Mungkin rekan kerja, pikir Alice saat melihat mereka berdua masuk ke dalam gedung tersebut.
Jackson dengan Amara saling bergandeng tangan saat mereka masuk ke dalam, kedua mempelai tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Gua kira lu berdua gak datang. Lu berdua cocok banget hari ini, sudah sesuai menjadi pasangan pengantin selanjutnya." ucap pengantin pria yang sesekali memberikan candaan untuk Jackson dan juga Amara.
Amara tersenyum tanpa menanggapinya dengan serius, wanita itu kembali memberikan selamat kepada pengantin wanita. Sedangkan di dalam mobil Aurora sangat lelah menunggu mereka keluar.
"Ini sudah hampir satu jam aku berada di mobil, kenapa mereka berdua tidak kunjung keluar." gerutu Alice di dalam mobil dengan kedua matanya masih melihat kearah luar.
"Sayang habis ini kamu mau kemana?" pertanyaan itu sontak membuat Amara menatap Jackson.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil dengan pria itu sibuk menyetir, "Aku tidak mau kemana-mana. Aku lagi mikirin ucapan teman aku barusan, aku sudah lama jadi pacar kamu tapi kamu tidak ada niatan untuk nikahi aku."
Jackson menghela nafas mendengar perkataan Amara, dia mengelus kepala Amara dengan lembut.
__ADS_1
"Kalau itu aku tidak bisa menjawabnya sekarang, aku butuh waktu untuk menikahi kamu. Aku tidak mau keluargaku tahu tentang hubungan kita apalagi Alice tidak tahu semuanya, takutnya Alice shock saat aku meminta izin untuk menikahi kamu." tutur Jackson sambil menatap Amara.
"Tapi kamu tidak perlu izin dari Alice, kita bisa menikah tanpa sepengetahuan istri kamu dan keluarga kamu." urai Amara yang kini melihat Jackson diam.