
Alice tersenyum kecut melihat sikap Jackson, dia pikir pria itu akan berubah nyatanya semakin menjadi. Setelah Alice meninggalkan Jackson di ruang tamu, pria itu memutuskan untuk pergi.
Ia sudah menebak kalau seseorang yang baru saja menelpon Jackson adalah Amara, wanita sialan itu tidak pernah diam tanpa mengganggu rumah tangga Alice. Andai saja balas dendam ini dipercepat mungkin semuanya akan selesai, tapi dia tidak mau menghancurkan mereka berdua secara mudah.
Dia ingin Jackson dengan Amara merasakan kehancuran yang lebih parah dari Alice, karena baginya kehancuran Alice sangatlah mengenaskan dibandingkan kehancuran mereka berdua.
"Jangan salahkan aku kalau nantinya aku akan mengikuti semua jajak kamu Jackson. Kamu yang mulai lebih dulu kamulah yang akan hancur." batin Alice yang menatap Jackson pergi, pria itu bergegas pergi dari rumah ini meninggalkan Alice di sana.
Wanita cantik itu sempat mendengar percakapan mereka berdua saat ditelepon, saat Alice keluar dari kamar sehabis mandi dia ingin mengajak Jackson makan malam bersama. Tapi dia tidak sengaja melihat Jackson sibuk menelpon, akhirnya niat baiknya itu sirna.
Jackson yang buru-buru ke apartemen Amara segera mengencangkan injakan gas mobil, tepat berapa menit perjalanan akhirnya mobil itu tiba di sebuah apartemen. Apartemen yang lama dia tinggalkan selama satu hari, sedangkan di sana Amara masih membutuhkannya.
Jackson membuka pintu apartemen, Jackson dengan cepat mengangkat tubuh Amara saat dia melihat tubuh Amara sudah tergeletak di lantai. Dengan tubuh yang sudah tidak memakai pakaian, hanya handuk yang dililit di tubuhnya.
"Astaga Amara kamu kenapa bisa kaya gini. Aku sudah bilang sama kamu kalau butuh apa-apa bilang sama aku jangan seperti ini." oceh Jackson yang sudah meletakan Amara di ranjang dengan tubuh itu diselimuti.
"Maafkan aku Amara sudah ninggalin kamu, kalau aku tahu kamu kaya gini aku tidak akan mungkin pergi dari sini." ucap Jackson terus mengkhawatirkan keadaan Amara, dia dengan cepat memanggil dokter untuk memeriksa keadaan istrinya.
"Nggak apa-apa sayang aku yang tidak hati-hati." urai Amara yang menyentuh tangan Jackson untuk menenangkan suaminya.
"Sudah kamu istirahat dulu sambil nunggu dokter datang ke sini untuk meriksa keadaan kamu." kata Jackson yang dianggukin oleh Amara.
Sedangkan Amara tersenyum puas dengan rencananya ini, baru pertama kali melihat kekhawatiran dari wajah Jackson. Kalau dia tidak melakukan rencana ini mungkin Jackson masih ada di rumah itu.
"Gimana keadaan istri saya, dok?" tanya Jackson yang menatap dokter yang sempat dia panggil.
Dokter itu menyimpan alat periksa di tas lalu kembali menatap Jackson, "Istri bapak sudah tidak apa-apa dia hanya kelelahan saja."
__ADS_1
"Syukurlah." jawab Jackson dengan perasaan tenang, Jackson meminta Amara untuk istirahat sedangkan dia mengantarkan dokter itu ke depan.
Selesai mengantar dokter Jackson kembali melihat keadaan Amara, "Kamu kenapa tidak istirahat Amara." kata Jackson yang menghampiri Amara di ranjang.
Lelaki itu duduk di tepi ranjang dengan menatap Amara, "Aku tidak bisa istirahat kalau kamu tidak ada disamping aku Jackson, seharian ini aku selalu hubungi kamu tapi kamu kalah sibuk dengan istri pertama kamu."
Jackson menyentuh kepala Amara dengan lembut, "Maafkan aku Amara, hal seperti ini tidak akan terulang lagi. Aku janji akan mengutamakan kamu dari pada Alice istri pertamaku."
Amara tersenyum puas dengan ucapan Jackson, inilah yang dia inginkan. Karena dia tidak ingin diduakan, dia mau diutamakan dari pada Alice wanita sialan itu.
***
"Kenapa hatiku sakit merasakan hidup Alice, mungkin inilah yang dirasakan Alice sebelum aku datang. Tidak bisa dibayangkan berapa sakitnya saat seseorang sedang menunggu kedatangan suaminya, tapi suaminya sibuk dengan selingkuhannya. Tepatnya sekarang selingkuhan Jackson sudah resmi menjadi seorang istri." batin Aurora yang duduk menghadap jendela kamar.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Amara yang melihat Jackson mau pergi, tangan Amara berusaha menahan Jackson supaya pria itu tidak pergi lagi.
Tiga puluh menit akhirnya sarapan itu selesai dibuat, Jackson kembali ke kamar sambil membawa sarapan yang kini selesai dia buat. Sebuah bubur dan air putih untuk Amara, tidak hanya itu saja obat yang diberikan dokter sudah dia bawa juga.
"Sekarang kamu sarapan dulu baru istirahat lagi." kata Jackson yang berusaha membantu Amara bangun, dengan telaten Jackson menyuapi makanan ke mulut Amara.
Sampai Amara tersenyum senang melihat sikap Jackson kembali seperti dulu, sedangkan di sana Alice masih menunggu kedatangan Jackson. Tetapi sekarang tidak seperti itu, mulai hari ini Alice sudah tidak peduli dengan Jackson. Yang dia pedulikan hanyalah balas dendam.
"Sayang." ucap Neo yang melihat Alice tiba di kantor, lelaki itu langsung memeluk Alice dengan erat.
Tanpa sadar Neo merasa sikap Alice sedikit berbeda dari biasanya, wanita ini malah diam tanpa membalas pelukannya. Neo melepaskan pelukan itu dengan menatap Alice.
"Ada apa? Kamu tidak apa-apakan?" tanya Neo yang melihat wajah Alice muram, seperti ada yang disembunyikan dari Alice.
__ADS_1
Alice mengangguk, dia memilih duduk di kursi kerja tanpa ia pedulikan Neo yang selalu berada di dekatnya.
"Sayang kalau kamu lagi ada masalah cerita aja jangan diam, aku tidak bisa melihat kamu diam begini." kata Neo yang terus menggenggam tangan Alice, wanita itu menggeleng kepala.
Neo menggunakan satu tangannya untuk mengecek keadaan Alice, suhu tubuh Alice tidak apa-apa tapi kenapa Alice terasa lemas tak berdaya.
"Kamu yakin tidak apa?" tanya Neo kembali saat tatapan kekasihnya tertuju kepadanya, wanita itu mengangguk mengatakan 'baik-baik saja'.
Alice kembali bekerja dengan Neo terus melihat keadaan Alice dari jauh, dia yakin sikap Alice yang sekarang pasti ada hubungannya dengan Jackson. Kalau bukan pria itu siapa lagi yang akan melakukan ini sama Alice.
"Aku harus mencari tahu penyebab Alice seperti ini, kalau memang ini ulah Jackson aku tidak akan tinggal diam untuk membalas perbuatan mereka." batin Neo yang melihat sikap Alice masih sama, wanita itu walau fokus dengan pekerjaan tapi pikirannya tidak ada di sini melainkan di tempat lain.
Satu hari bersama dengan Jackson Amara merasa menang dari Alice, dia sudah menebak kalau wanita itu akan kalah. Sudah dia duga Alice tidak akan bisa menandingkannya, walau dia tahu Alice istri pertama Jackson tapi dialah yang diutamakan Jackson bukan Alice.
"Akan ku buat pernikahan kalian hancur, dan akulah pemenangnya. Karena aku tidak ingin terkalahkan oleh Alice, aku ingin menjadi satu-satunya milik Jackson bukan Alice." batin Amara dengan tersenyum mengejek, saat Jackson mulai sibuk bekerja di rumah dan dia sibuk memeluk tubuh Jackson.
Cerdik, licik itulah yang dimiliki Amara. Dia tidak mau siapapun memiliki Jackson termasuk dengan Alice, dia ingin dirinya yang menjadi satu-satunya pasangan dari Jackson bukan Alice.
Suatu hari Alice akan dihempaskan dari kehidupan Jackson dan dialah yang akan masuk kehidupan Jackson, seluruh harta yang dimiliki Jackson akan menjadi miliknya begitupun dengan seluruh keluarga Jackson dan keluarga Alice.
Di dalam hatinya ia terus tertawa kencang menatapi nasib Alice yang sebenarnya, membayangkannya saja ia sudah tertawa apalagi melihat kehancuran Alice yang nyata. Mungkin dia akan tertawa lebih keras dari pada orang lain.
"Sayang, boleh aku minta tolong sama kamu." ucap Amara yang memutuskan untuk melihat Jackson, lelaki itu masih sibuk dengan laptop yang berada dipangkuan Jackson.
"Katakan aja kamu mau apa." jawab Jackson tanpa melihat kearah Amara.
"Aku mau buah sama kue yang biasanya aku beli, kamu mau kan beli keinginan aku di tempat biasa." mendengar ucapan Amara Jackson segera menghentikan pekerjaannya, dia menatap Amara dengan senyuman lalu pria itu mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Baiklah." Jackson mengelus puncak kepala Amara sebelum pria itu pergi, Jackson mengambil kunci mobil barulah lelaki itu pergi.