
"Brengsek!" tangan Amara mengepal kuat dengan mengarahkan tangan itu ke tembok, "Sekarang dia sudah berani mengancam ku, lihat saja kamu Alice aku akan melakukan cara untuk menyingkirkan kamu." batin Amara dengan marah.
Alice sempat melihat Amara yang sudah selesai dari kamar kecil, wanita itu duduk kembali di samping ibu mertua. Selesai acara makan malam kedua orang tua Jackson menghampiri mereka berdua, saat mama Jackson memanggil anak sematang wayang.
"Jackson tunggu mama nak." panggilan itu seketika membuat keduanya berhenti.
"Ada apa ma?" tanya Jackson masih menggenggam tangan Alice, genggam tangan itu dilihat Amara.
Melihat itu Alice mulai menggoda Amara, dia semakin mempererat genggaman tangan itu supaya Amara kepanasan melihat keromantisan yang sengaja Aurora buat. Dan benar saja kalau Amara kepanasan melihatnya dekat dengan Jackson.
"Sayang kamu kan mau pulang gimana kamu antar Amara pulang, kasihan dia kalau pulang sendiri apalagi dia perempuan. Takutnya terjadi kenapa-napa di jalan." kata wanita itu membuat mata Jackson melirik Amara lalu melihat kearahnya.
Di sana Jackson memintanya untuk menyetujui ucapan sang mama lewat dari tatapan mata, walau begitu Aurora mengerti bagaimana pria ini meminta persetujuan darinya.
"Maaf banget ma aku dengan suamiku tidak terima ada orang lain masuk ke dalam mobil, kenapa gak mama saja yang antar Amara pulang. Bukannya mama sangat menyayangi Amara." ucap Alice menatap sang mama mertua membuat wanita itu tidak menyukai sikap Alice.
"Mama lagi ngomong sama anak mama bukan sama kamu."
"Tapi ma anak mama ini sudah menjadi suamiku jadi sama aja ini sudah menjadi urusanku. Kalau aku tidak mengizinkannya berarti mama tidak boleh maksa, kenapa mama tidak pesankan taksi online aja atau suruh supir pribadi mama untuk datang buat antar Amara pulang." usul Alice membuat papa mertua yang baru saja datang tersenyum melihat bagaimana Alice melawan istrinya.
"Benar kata Alice ma, kenapa Amara tidak pesan taksi online aja. Lagian dia sudah besar mana mungkin kenapa-napa di jalan, dia bukan anak kecil yang perlu di antar." lontar papa mertua yang membela menantu kesayangan.
Amara geram dengan wanita licik seperti Alice, gimana bisa semua keluarga Jackson pada mengikuti perkataan Alice. Sedangkan dia tidak ada yang membelanya di sini.
__ADS_1
Amara mengelus tangan ibunya Jackson, "Gak apa-apa ma. Lagian ucapan papa sama Alice benar kalau aku bisa pesan taksi online sendiri."
"Nah Amara saja mau pulang sendiri ma masa mama memanjakan wanita kesayangan mama." ujar Alice yang melirik Amara, dia memberikan sebuah senyuman untuk wanita tidak tahu malu itu.
Malam ini dialah yang menang dan suatu hari Amara yang akan hancur di tangan Aurora, "Kalau gitu kamu hati-hati ya nak. Kalau sudah sampai kamu hubungi mama."
Mobil orang tua Jackson lebih dulu pergi sedangkan saat Jackson ingin memintanya untuk masuk ke dalam mobil, Alice lebih dulu menghampiri Amara yang masih berdiri di sana.
"Sekarang kamu lihat 'kan siapa yang berpihak kepadaku. Kan aku sudah katakan sama kamu jangan pernah macam-macam denganku, kamu itu tidak sebanding denganku. Ingat status kamu di sini, karena wanita bayaran akan kalah dengan istri sah. Jadi lebih baik kamu sadar diri dari pada kamu sakit hati." selesai bicara dengan Amara Alice memutuskan masuk ke dalam mobil, dia sempat melambaikan tangan kearah Amara membuat wanita itu kesal.
***
Senyuman meledek yang diberikan Alice membuatnya ingin menghancurkan wanita itu, tapi dia masih menahan karena tidak mungkin kalau dirinya menghancurkan Alice begitu saja. Tunggu waktu yang pas untuk menghancurkan wanita itu.
"Hari ini kamu bisa membuatku seperti ini Alice, suatu saat aku akan menghancurkan kamu seperti debu." batin Amara dengan tatapan tajam bagaikan elang, amarah yang dipancarkan wanita itu sangat menakutkan.
Alice menatap Jackson saat melihat tangannya masih digenggam sempurna, genggam tangan itu masih menempel dan belum terlepas dari awal mereka masuk ke dalam mobil.
"Ehem!!! Tangan kamu tidak mau dilepas." kata Alice membuat Jackson melepaskan tangan.
"Maaf aku tidak tahu kalau tangan kamu masih aku genggam." Alice tidak menjawab ucapan Jackson dia malah disibukan dengan pemandangan dari luar jendela mobil.
Pemandangan di malam hari ternyata lebih indah dari pada di pagi hari, malam ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Seperti dia teringat dunianya sendiri, ia tidak tahu kapan dia kembali ke dunia asalnya.
__ADS_1
Rasanya sudah lama sekali tidak kembali ke dunia asal, tapi mau gimana lagi dia harus melakukan misi untuk menghancurkan Jackson dan juga Amara. Dia mau kalau mereka berdua merasakan apa yang dirasakan Alice si pemilik tubuh.
Tapi entah kenapa dia seakan tidak mau menghancurkan Jackson, apa ya dia merasakan hal yang sama seperti Alice atau memang dia jatuh cinta dengan Jackson. Itu tidak mungkin, mana mungkin dia mencintai pria seperti Jackson.
Di kehidupannya saja dia tidak percaya dengan laki-laki apalagi jatuh cinta, dia mana mungkin jatuh cinta dengan pria licik seperti Jackson. Apalagi pria ini sangat mengganggu hidupnya.
"Sayang kita sudah sampai." ucap Jackson membuat Alice tersadar, dia tidak tahu sudah berapa lama melamun memikirkan isi yang ada di dalam pikirannya.
Yang pasti itu sangat lama sampai dia tidak menyadari kalau mobil mereka sudah tiba, "Kamu tidak mau turun?" tanya Jackson melihat Alice masih diam tanpa bicara.
Alice memutuskan untuk turun dari mobil diikuti dengan Jackson, pria itu mengikuti langkah Alice kemanapun wanita itu pergi. Sampai Aurora yang merasakannya saja muak dengan suami pemilik tubuh ini.
"Kamu ini kenapa mengikuti ku terus. Bisakan jangan ngikutin kemana aku pergi." cetus Alice yang merasa kesal dengan tingkah laku Jackson, dia sudah sangat lelah melihat kelakuan Jackson beberapa hari ini.
"Aku kan ingin memastikan saja kenapa kamu galak banget, gak boleh galak sama suami kamu sendiri. Ingat aku ini suami kamu bukan orang lain."
Alice menghela nafas, "Ya aku tahu. Tapi kita sudah sampai di rumah, apalagi yang kamu pastikan Jackson."
Tanpa Alice pedulikan lagi dia lebih memilih ke kamar dan mengunci pintu, seharian dengan Jackson membuatnya sakit kepala. Apalagi saat mereka makan malam, dia selalu merepotkan dan membuatnya malu di depan ayah mertuanya.
"Menyebalkan sekali suami kamu Alice, lama-lama aku bisa gila menghadapi sikap suami kamu." protes Aurora membuat pemilik tubuh itu tersenyum melihat bagaimana Aurora sangat kesusahan menghadapi sikap Jackson.
"Maklum Aurora dia selalu begitu, tapi kamu harus ingat dengan janji kamu untuk membalas dendamku. Aku hanya memperingati kamu saja jangan sampai kamu jatuh cinta dengan Jackson, aku tidak mau kamu sampai terlena dengan ketampanan Jackson apalagi membuat kamu mengalami apa yang aku rasakan." kata Alice yang tiba-tiba muncul di saat posisi Aurora lagi membicarakan Jackson.
__ADS_1
"Kamu tenang aja Alice aku tidak akan jatuh cinta dengan suami kamu itu, setelah pekerjaanku selesai aku akan kembali ke dunia asalku. Aku tidak mau terus-menerus berada di dunia kamu yang ada aku malah gila berada di sini." urai Aurora membuat Alice mengangguk, barulah wanita itu pergi setelah menurutnya cukup bicara dengan Aurora.
"Secepatnya aku akan menyelesaikan tugas ini baru aku bisa cepat-cepat kembali ke dunia asalku." gumam Aurora dalam hati, barulah wanita itu memutuskan untuk istirahat.