Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Melalui Taburan Sebuah Serbuk


__ADS_3

Neo dan juga Alice memperhatikan apa yang dilakukan Lyona, mereka melihat percakapan mereka di layar monitor. Apalagi sekarang Jackson seperti menyukai keberadaan Lyona, sedangkan wanita itu merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Jackson.


"Apa kamu yakin dengan rencana ini?" Neo menatap Alice dengan memberikan sebuah pertanyaan, mendengar pertanyaan itu membuat Alice menoleh.


"Sudah kamu tenang aja Lyona pasti berhasil melakukan rencana ini." balas Alice yang menyakinkan Neo kalau rencana yang dia buat akan berhasil.


Di layar monitor Alice dan juga Neo terus memperhatikan gerak gerik mereka berdua, sampai dimana Jackson seakan menginginkan sesuatu di tubuh Lyona. Walau begitu Lyona harus mengorbankan dirinya bukan mengorbankan tubuhnya.


"Aku harap kamu tidak mengorbankan tubuh kamu Lyona, aku tidak mau sampai draco salah paham mengenai kamu." batin Neo yang mengkhawatirkan kondisi Lyona saat ini.


Saat Jackson ingin mencium bibir Lyona tiba-tiba saja sebuah ketukan terdengar, membuat Lyona bernafas lega dengan adanya ketukan tersebut.


"Pak, sepertinya ada yang ingin bertemu dengan bapak." ucap Lyona menatap Jackson, sedangkan pria ini sibuk melihat wajahnya.


"Biarkan saja Lyona saya tidak ingin siapapun mengganggu kita."


Ketukan yang ketiga kalinya membuat Jackson geram, apalagi posisi seperti inilah momen dimana dia bisa bermesraan dengan Lyona. Tapi ada saja yang mengganggunya.


"Sudah pak, lebih baik bapak lihat siapa yang datang siapa tahu penting pak." kata Lyona, akhirnya Jackson berhasil di pujuk walau butuh waktu yang lama.


Lelaki itu melangkah sambil merapikan penampilan, saat pintu terbuka ia melihat Revan datang bersama dengan Amara. Amara datang di saat Lyona berada di ruangan kerja, tapi dia tidak mungkin mengusir Amara lebih dulu.


"Kamu ini kenapa lama sekali buka pintu ruangan kamu, memangnya kamu di dalam ngapain aja dan sama siapa." kata Amara yang menatap Jackson dengan curiga.


Jackson sempat melirik Revan, sedangkan Revan yang ditatap seperti itu menaikan kedua pundaknya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, kalau bicara jujur nantinya Amara akan mengobrak-abrik kantor ini.


"Sayang kamu kenapa melihat kearah Revan terus, apa mungkin kalian berdua sedang merencanakan sesuatu dari aku." tutur Amara membuat keduanya bingung, kebingungan yang mereka berikan seperti menutupi rasa gugup di hati keduanya.


Tanpa bicara lagi Amara masuk dengan paksa, melihat itu mereka berdua masuk secara bersamaan. Di sana Jackson bisa bernafas lega, untung Lyona masih menyadari keberadaan Amara mungkin kalau tidak sudah dipastikan kantor ini akan menjadi kapal pecah.


"Gimana aku tidak bohong kan? Lagian buat apa aku sembunyikan sesuatu dari kamu, kalau mungkin ada itu pasti hadiah untuk kamu."


"Aku gak percaya, aku yakin kamu menyembunyikan selingkuhan kamu. Dan sekarang dia bersembunyi untuk menghindari aku." timpal Amara, Amara terus melangkah untuk mencari keberadaan selingkuhan Jackson.

__ADS_1


Tapi satupun tidak ada orang yang berani masuk, apalagi ruangan ini sepi dan kosong. Mana mungkin tidak ada orang yang masuk, apalagi tempat ini sangat pribadi.


"Gimana sekarang kamu sudah percayakan?" kata Jackson membuat Amara menatap suaminya, dia juga mencari sesuatu di balik mata Jackson.


Tetapi dia tidak menemukan apapun, karena Jackson sangat pandai menyembunyikan kebohongan yang kini dia lakukan sendiri.


"Tapi kenapa kamu lama sekali buka pintunya."


Jackson menyentuh pundak Amara saat mereka berdua sama-sama berjarak dekat, "Sayang dengerin aku ya. Aku tidak akan mungkin mengkhianati kamu, aku akan tetap setia sama kamu."


"Tapi..."


"Sudah jangan tapi-tapian mulu yang ada kamu curiga mulu sama suami kamu sendiri."


Mau tidak mau Amara mempercayai ucapan Jackson, yang dia heran dimana Lyona berada kenapa wanita itu cepat sekali menghilang.


***


"Untung aku bisa sembunyi dengan cepat kalau tidak aku tidak tahu nasibku seperti apa nantinya." batin Lyona yang mengelus dadanya, Lyona segera keluar dari ruangan Jackson.


Dia tidak mau nantinya Amara menemukan keberadaannya, "Maafkan aku Alice aku gagal sama ide kamu ini."


Alice yang mendengar ucapan Lyona melalui alat pendengar menjawab, "Tidak apa. Tapi lain kali kamu harus lebih ganas dari apa yang kamu lakukan barusan, aku melihatnya seperti kaku tidak ada pergerakan yang menggoda dari kamu."


"Maaf, aku belum terbiasa menggoda pria. Lain waktu aku akan mempelajari cara menggoda pria dengan benar." balas Lyona membuat alat pendengar itu terputus.


"Kamu mau melakukan rencana apa lagi supaya idemu itu tercapai." kata Neo yang tiba-tiba datang membawa sebuah kantung, kantung itu berisi makanan yang sempat dibeli Neo.


"Aku ingin menghancurkan Jackson melalui sebuah rayuan, aku mau mengajarkan Lyona bagaimana caranya merayu pria dengan benar."


"Tapi apa menurut kamu itu sangat berlebihan sampai melakukan hal kotor itu." timpal Neo yang meletakan makanan lalu dia fokus dengan apa yang mereka bahas.


"Ya mau gimana lagi ini satu-satunya cara untuk menghancurkan Jackson, aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan Neo."

__ADS_1


Neo menghela nafas saat mendengar perkataan Alice, "Baiklah kalau itu mau kamu, tapi aku tidak mau rencana ini merusak masa depan Lyona."


"Ya kamu tenang aja dia akan baik-baik aja."


Sejujurnya Neo sedikit mengkhawatirkan Lyona, bagaimana bisa Alice memiliki rencana gila ini. Apalagi mengorbankan Lyona, tapi mau gimana lagi rencana ini harus dilakukan kalau tidak apa yang mereka rencanakan akan terbuang sia-sia.


Alice meminta Lyona untuk saling bertemu, mereka berdua tiba di cafe terdekat rumah Lyona. Di sanalah mereka akan bertemu untuk membahas rencana selanjutnya, sekarang mereka bertiga sudah berada di satu meja dengan minuman berada di depan mereka.


"Apa yang akan kamu rencanakan selanjutnya, saya siap untuk mengikuti apa yang kamu perintahkan." ucap Lyona yang menatap Alice, sedangkan Neo mengkhawatirkan kondisi Lyona.


Lyona dan juga Neo menatap Alice dengan bingung, mereka berdua tidak tahu apa yang diberikan Alice yang pasti pemberian ini ada gunanya untuk Lyona.


"Itu obat untuk Jackson dan juga untuk kamu, obat ini sangat penting untuk kamu supaya kalau nanti Jackson melakukan sesuatu ke kamu. Kamu tidak mengalami namanya hamil, kamu harus meminum obat itu setiap Jackson ingin melakukan sesuatu sama kamu. Takutnya tubuh kamu akan menjadi imbasnya, aku tidak mau masa depan kamu hancur gara-gara rencanaku ini." lontar Alice yang menjelaskan fungsi dari obat ini.


"Apa kamu yakin dengan ucapan kamu itu Lice?" Neo sempat menatap Alice dengan menanyakan sebuah pertanyaan apakah ucapan Alice bisa dipegang.


Alice menatap Neo kembali, "Aku yakin." lalu dia beralih menatap Lyona.


"Baiklah kalau kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan, aku tidak akan khawatir dengan rencana berbahaya ini." timpal Lyona, Lyona kembali meneguk secangkir kopi begitupun dengan Alice dan juga Neo.


Selesai bicara mereka bertiga memutuskan untuk pergi dari cafe, sedangkan Lyona memulai rencananya kembali. Mungkin obat yang diberikan Alice akan berguna untuknya, dia malah senang saat tahu fungsi obat ini dari teman dekatnya yang seorang dokter.


"Mungkin Alice melakukan hal ini supaya aku tidak kehilangan masa depanku, aku bangga dengan Alice walau sudah disakiti dengan suaminya dia masih memiliki rasa manusiawi." batin Lyona yang memandangi obat yang sempat diberikan Alice.


Lyona sengaja datang lebih awal dari pada Jackson, dia tidak keruangan pribadinya melainkan ke pantry karena ia harus melakukan cara untuk memuaskan Jackson. Lyona sempat meminta seseorang untuk mematikan cctv di pantry, dia tidak mau siapapun melihat rencananya.


Sebelum memulai rencana Lyona sempat melirik ke sekitar, takutnya ada orang lain yang melihat gerak-geriknya. Setelah aman barulah Lyona masuk ke dalam pantry, seperti biasa Lyona membuatkan kopi susu kesukaan Jackson.


Apalagi pria itu sangat menyukai apa yang dia buat, tidak lupa dengan obat yang diberikan Alice. Ia mengambil obat itu di dalam kantung, Lyona membuka bungkusan obat tersebut dan di masukan ke dalam minuman. Setelah masuk beberapa menit obat tersebut larut ke dalam air bersamaan dengan tangan yang terus ia aduk.


Suara dentingan sendok terhenti, lalu sebelum membawa kopi buatannya ia sempat tersenyum puas. Mungkin rencana kali ini akan berjalan dengan mulus, sedangkan di balik layar Alice tersenyum puas dengan kecepatan yang dilakukan Lyona.


Walau begitu dia sangat senang akan tugas yang dilakukan Lyona, dia merasa kalau Lyona sangat ahli melakukan tugas ini.

__ADS_1


__ADS_2