Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Menikah Diam Diam


__ADS_3

Jackson memang pria super licik yang pernah Aurora temui, tapi kelicikan pria itu sudah dia ketahui. Apalagi sekarang pria itu beralasan untuk menemui client di luar kota, berarti saat ini Jackson sedang menyiapkan acara pernikahannya dengan Amara.


Alice kali ini hanya diam memperhatikan kebohongan yang kini pria itu jalani, tapi Alice akan membongkar semua kedok yang Jackson lakukan. Alice sempat menugaskan seseorang untuk mencari bukti pernikahan Jackson dan juga Amara.


Mungkin Jackson pikir dia bodoh karena tidak berani melawan, tapi nanti ada saatnya kebohongan yang mereka jalani akan terungkap. Dan dia akan membuat kehidupan mereka berdua hancur, di saat mereka melakukan kejahatan kepada pemilik tubuh.


"Gimana sayang kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Amara dari balik telepon.


"Sudah kamu gak perlu khawatir semuanya sudah aku atasi, kamu tinggal nunggu aku di sana aku akan datang ke rumah orang tua kamu."


"Baiklah." Amara kini berada di dalam kamar dengan wajah bahagia, hari ini adalah hari kebahagiaannya dan rencana untuk mendapatkan Jackson berhasil.


Tapi Amara tidak tahu kalau sebenarnya Jackson setuju menikahi Amara untuk dijadikan istri simpanan, yang artinya pernikahan ini bukan pernikahan sah melainkan pernikahan sirih. Yang sewaktu-waktu kalau Amara macam-macam dia bisa meninggalkan wanita itu tanpa ke pengadilan.


Mendengar suara mobil Jackson Amara bergegas menemui pria itu, dia tersenyum melihat Jackson sudah memakai jas berwarna putih senada dengan kebaya yang kini dia kenakan. Pria gagah dan tampan itu berjalan kearah orang tuanya, mereka semua sudah disuguhi oleh satu orang laki-laki sebagai penghulu.



Aduh Amara bodoh sekali menikah dengan Jackson, aku kalau jadi Amara mana mungkin mau menikah dengan lelaki gila. Kaya gak ada cowok aja 🤣🤣


Tidak hanya itu saja Jackson juga membawa kedua orang tuanya, tepatnya orang tua yang sudah dia sewa untuk menyaksikan pernikahannya dengan Amara. Acara pernikahan yang mereka laksana akhirnya selesai, Amara tersenyum dengan status yang kini berubah.


Ya, Amara dan Jackson sudah resmi jadi suami istri tapi Jackson menjadikan pernikahan ini hanya pernikahan sirih. Yang disaksikan oleh orang sewaannya saja, tidak ada keluarga inti dalam pernikahan ini. Untuk resepsi Jackson sengaja tidak mengadakan itu, karena Amara takut kalau nanti ada orang yang tahu tentang pernikahannya.


Karena seluruh keluarga besar dan juga karyawan kantor hanya mengetahui istrinya adalah Alice bukan Amara, "Sayang, kita kan sudah menikah kamu mau tinggal dimana?" tanya Amara yang keduanya sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


Mereka berdua masih berada di rumah orang tua Amara, mereka sepakat akan menginap beberapa hari di sini untuk memutuskan akan mencari tempat tinggal.


"Mungkin untuk saat ini kita tinggal di apartemen kamu saja. Aku belum bisa memastikan untuk mencari rumah, tapi kalau ada kesempatan kita akan mencari rumah untuk kita tinggal." balas Jackson melihat Amara sudah berada di dekatnya.


"Tapi itukan apartemen aku, aku tidak mau kita tinggal di apartemen itu." ucap Amara yang menolak untuk tinggal di apartemen, saat mendengar penolakan dari Amara Jackson berdiri dari duduk dan berdiri menghadap Amara.


"Kamu lupa siapa yang beli apartemen itu? Apa kamu sudah lupa kalau rumah ini juga adalah pemberianku. Tidak mungkin kamu bisa membeli rumah semahal ini, kalau tidak dari bantuanku. Jadi kamu jangan berpikir akan hidup enak setelah menikah." seru Jackson yang menatap Amara dengan marah.


Tatapan marah yang diberikan Jackson membuat Amara mati kutu, baru kali ini Jackson menatapnya seperti itu. Biasanya pria itu tidak berani menatapnya seperti itu, tapi kali ini Jackson seperti bukan Jackson sebelumnya melainkan Jackson yang berbeda.


***


Malam harinya mereka berdua keluar dari kamar, membuat kedua orang tua Amara tersenyum melihat pengantin baru itu. Kedua orang tua Amara meminta Amara dan juga Jackson untuk makan malam bersama.


"Bapak sama ibu senang kalian sudah menikah. Jackson kamu sudah menjadi suami anak saya, kalian apa punya rencana untuk berbulan madu?" tanya ayah Amara yang sudah menjadi ayah mertuanya, lelaki paruh baya itu menatap Jackson dengan serius.


Pria seperti Jackson sangat pandai bermain lidah, pria itu sungguh pintar mengambil hati orang lain sampai orang tua Amara saja tergoda dengan ucapan Jackson.


"Baiklah kalau itu keputusan kalian bapak ikut saja." selesai ngobrol mereka semua kembali makan malam, selesai makan Jackson dan juga Amara memutuskan untuk masuk ke kamar.


Di sana Amara tersenyum melihat bagaimana Jackson memikirkan hal itu, dia baru tahu kalau Jackson akan berencana beli rumah baru dan bulan madu. Ini namanya sebuah keberuntungan untuknya, sudah mendapatkan Jackson dia mendapatkan harta yang dimiliki Jackson.


"Sayang, aku senang banget kamu memikirkan masa depan kita. Aku tidak menyangka aja kamu sudah menyiapkan semuanya untuk aku, aku jadi tidak usah khawatir dengan masa depan kita ke depannya." tutur Amara dengan memeluk tubuh Jackson dari belakang saat pria itu sibuk mengecek laporan kantor.


"Siapa yang mau beli rumah dan berlibur sama kamu, aku bicara seperti itu untuk menyakinkan orang tua kamu saja supaya orang tua kamu tidak ikut campur masalah rumah tangga kita." Amara melepaskan pelukan itu lalu dia datang untuk melihat Jackson dengan serius.

__ADS_1


Amara menarik kursi yang berada di meja rias, kini tatapannya menghadap Jackson yang kini sibuk menatap layar laptop.


"Tapi kamu yang bicara itu sama orang tua aku jadi kamu harus mengabulkan semuanya Jackson. Apa kamu lupa kalau aku ini sudah menjadi istri kamu, jadi kamu harus bertanggung jawab atas tugas kamu sebagai suami."


Mendengar ucapan Amara membuat Jackson menatap Amara dengan tajam, ia meletakan laptop itu dengan mencengkram leher Amara dengan kuat. Tangan panjang yang kini berada di leher Amara membuat pemilik tubuh itu meringis kesakitan.


"Aku peringatkan kamu sekali lagi, jangan pernah ikut campur masalahku. Aku menikahi kamu hanya sebatas pernikahan kertas perjanjian, dan pernikahan ini hanya pernikahan sirih bukan sah. Jadi kamu jangan sok belaga kalau kamu istri sah yang diakui negara, karena aku tidak ingin nama kamu tercantum dalam negara mengerti kamu." erang Jackson lalu tangan pria itu terlepas.


Amara menyentuh lehernya sampai batuk-batuk, cengkraman tangan Jackson sampai berbekas membuatnya sulit bernafas. Entah kenapa sikap Jackson mulai berubah, dulu Jackson tidak seperti ini tapi kenapa pria itu mulai kasar.


Jackson kembali menatap Amara saat wanita itu ketakutan saat melihat tatapan Jackson, "Aku ingatkan sekali lagi sama kamu, jangan pernah kamu mengatakan ini sama keluarga kamu. Sampai kamu bicara yang tidak-tidak tentang aku, aku bisa menuntut kamu ke pengadilan."


Jackson menyimpan laptop itu ke tempat semula, dia memilih istirahat di ranjang meninggalkan Amara yang masih terdiam di tempat duduk. Ini pertama kalinya Amara memiliki nasib seperti ini, kenapa dia harus menikah dengan Jackson kalau pria itu akan melakukan tindakan kasar.


"Tapi gak apa-apa Amara kamu bisa mendapatkan harta Jackson, kalau nanti dia berbuat kasar lagi kamu bisa mengambil semua harta yang dimiliki Jackson." batin Amara dengan menatap Jackson yang lagi tidur.


Sebelum tidur wanita itu mengambil obat untuk mengolesi bekas luka di leher, luka bekas tangan Jackson membuatnya perih apalagi pria itu sangat kuat mencengkram lehernya sampai nafasnya hampir putus.


Sedangkan di sisi lain Alice lagi sibuk di rumah Neo, pria itu sempat mengantarnya pulang tapi di perjalanan hujan deras. Jadi mereka sepakat untuk menginap di rumah Neo, membuat Alice menyetujui permintaan Neo.


"Maaf ya Lice rumahku sepi gini. Maklumlah aku ini masih lajang jadi seperti ini keadaannya." ucap Neo yang beranjak menuju dapur untuk mengambil dua minuman.


"Nggak apa-apa, lagian rumah ini cukup nyaman untuk kamu. Apalagi aku suka sama suasana rumah kamu." mendengar itu membuat Neo tersenyum tanpa sepengetahuan Alice, dia sudah menebak pasti Alice akan menyukai rumah ini.


Karena rumah ini adalah impian Alice, jadi dia membuatnya untuk wanita pujaannya. Ia sudah berjanji akan merebut Alice kembali, walaupun dia harus berhadapan dengan Jackson. Dia sudah bertekad untuk melawan Jackson, karena dia tidak ingin kehilangan Alice yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Di minum dulu Lice." ucap Jackson membuat Alice tersenyum.


__ADS_2