
"Kau ini bisa gak jangan perawatan terus, aku jauh-jauh datang ke apartemen kamu malah sibuk mengurus diri kamu sendiri." ucap Jackson dengan nada kesal, Amara yang melihat kekesalan Jackson memilih duduk di dekat kekasihnya.
"Kamu ini kenapa datang-datang udah marah-marah aja. Aku lakuin ini untuk kamu juga sayang, lagian kamu 'kan suka aku tampil cantik seperti ini." kata Amara yang sudah melepas masker di wajah, lalu dia memilih untuk pergi buat membilas wajah.
Jackson menatap Amara yang sudah duduk di pangkuannya, melihat wanita itu sudah berada di atas tubuhnya dengan terus menggoda. Sikap menggoda yang dilakukan Amara sangat sesuai dengannya, tetapi hari ini dia sangat malas untuk melakukan itu.
Jackson dengan cepat menahan tangan Amara karena dia melihat kalau tangan nakal wanita ini sudah masuk ke dalam pakaian, "Aku tidak ingin melakukannya sekarang Amara."
"Why? Bukannya kamu sangat suka dengan sentuhanku." kata Amara menatap wajah Jackson saat tangannya sudah dilepas.
"Ya, tapi aku gak punya mood bagus untuk menyentuh kamu." Amara dengan kesal turun dari pangkuan Jackson saat pria itu memintanya untuk turun.
"Sayang, kamu ini kenapa. Kamu datang kemari bukannya dengan wajah segar malah kusut gitu." kata Amara yang sesekali tangan nakalnya digunakan untuk menggoda Jackson.
"Aku lagi kesal dengan Alice, dia sudah tidak peduli denganku lagi. Sekarang sikapnya sudah berubah dari biasanya."
Tangan Amara berhasil membuka kancing kemeja Jackson, "Bagus dong kalau dia berubah, lagian buat apa kamu peduli bukannya kamu tidak pernah peduli. Kenapa sekarang kamu malah peduli dengan istri kamu itu."
"Ya karena..." Amara mengerutkan kening saat ucapan Jackson terhenti, dia tidak tahu apakah ia sudah jatuh cinta terhadap wanita itu atau memang dia membencinya.
"Sayang." seru Amara dengan kesal, suasana Amara seketika berubah saat melihat sikap Jackson mulai aneh. Seperti memikirkan Alice wanita sialan itu.
Jackson tidak peduli dengan Amara yang marah kepadanya, Amara yang melihat itu sangat jengkel dengan Jackson. Bisa-bisanya Jackson memikirkan Alice disaat lagi berduaan, dan sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa untuk mereka berdua berpisah.
Sedangkan Alice sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai sekretaris, selama bekerja dia selalu kompeten dalam semua pekerjaan apalagi masalah client. Di hidup Aurora bekerja dinomor satukan, sedangkan membahas cinta saja tidak pernah dia pikirkan.
Malah dunianya terbalik, masuk ke dimensi lain membuat Aurora harus melakukan cara untuk membalas dendam dari pemilik tubuh. Karena dia ingin secepatnya kembali ke dunia asal, tetapi kalian dipikir-pikir kenapa keluarganya sangat menyukai Amara apalagi Tasya. Kakak kedua dari pemilik tubuh ini, apa mereka sudah menganggap Amara seperti anaknya sendiri atau bagaimana.
__ADS_1
"Ibuku sangat menyukai Amara saat suamiku pernah membawa Amara ke rumah, Jackson memperkenalkan Amara sebagai sekretaris barunya dan membanggakan wanita itu di depan keluargaku. Sampai aku sangat marah atas sikap keluargaku yang baik terhadap Amara."
Aurora menganggukkan kepala saat mendengar suara dari pemilik tubuh ini, dia sekarang paham kenapa Amara sangat gampang di percaya oleh siapapun. Apalagi sama Jackson, mungkin kalau dia diposisi Alice akan bingung harus melakukan apa untuk membalas perbuatan Alice dan juga Jackson.
"Tidak apa yang terpenting kamu sudah memberitahu soal masalah kamu. Kita ikuti saja alur yang dimainkan Amara, sampai waktunya tiba barulah aku yang akan turun tangan sendiri."
"Tapi kamu harus ingat Alice, kamu jangan pernah kasihani suami kamu lagi. Sampai kamu bersikap kasihan terhadap suami kamu aku tidak bisa membantu kamu lagi." batin Aurora membuat pemilik tubuh itu mengangguk.
***
Sebisa mungkin Aurora akan membantu Alice, karena dia ingin kembali ke dunia asalnya. Sudah lama sekali dia tidak kembali, mungkin hampir satu tahun lebih dia berada di tempat lain.
Selama di apartemen Jackson terus menyentuh tubuh Amara, mulai dari bawah sampai atas. Tubuh yang dimiliki Amara membuatnya sangat tergoda, apalagi ******* nikmat yang kini terdengar di indra pendengarannya.
Menurutnya sangat seksi saat melihat bagaimana Amara menerima setiap permainannya, "Ahhhh... Sayang... Lakukan lagi..."
Sangatlah hebat bisa bermain di waktu seperti ini, "Sayang... Kamu sangat nikmat.. aku sangat suka dengan penampilan kamu sekarang ..." desah Jackson gitu saja saat merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Selama bercinta mereka selalu melakukan berbagai gaya, keduanya tidak bisa dikendalikan satu sama lain dalam kondisi yang sudah dimabukkan dalam keadaan nafsu yang sudah membakar tubuh masing-masing.
Amara yakin kalau permainan yang mereka lakukan akan selesai sampai besok, Aurora sudah menebak kalau Jackson tidak pulang malam ini. Dia yakin kalau pria itu sedang berada di rumah selingkuhannya, kalian tahu ya mereka berdua ngapain di sana.
Menurut Aurora mereka sangat cocok, yang satu wanita murahan yang satunya doyan. Pria mana yang tidak mau diberikan tubuh secara gratis, semua pria pasti menginginkan tubuh wanita secara gratis tanpa imbalan. Itu yang Aurora pikirkan, karena dia yakin mereka sibuk bercinta.
"Bercintalah sepuas kalian sampai aku akan melakukan apa yang kalian perbuat kepadaku." batin Aurora dengan senyum mematikan, suara mematikan yang diberikan Aurora sangat mendukung dengan pemilik tubuh ini.
Pemilik tubuh ini malah mendukungnya untuk membalaskan dendam, walau begitu dia mau tahu reaksi semua orang atas perbuatan mereka selama ini.
__ADS_1
Victor sebagai kakak laki-laki pertama ingin tahu gimana kabar adik perempuannya, selama ini dia selalu diam tanpa membela sang adik tapi kali ini dia tidak akan tinggal diam melihat adiknya disakiti. Tasya yang baru saja keluar dari kamar menuju ruang keluarga, di sana ada orang tuanya yang sibuk ngobrol.
"Kamu mau kemana jam segini kamu sudah rapih banget." ucap sang ayah yang kini melihat kearah Tasya, dari ujung kaki sampai rambut penampilan Tasya sangat jauh dari biasanya.
Orang tua Tasya pada duduk memandangi Tasya saat mereka melepaskan pelukan, "Oh ini aku mau main ke rumah temanku yah. Temanku baru pulang dari Paris dia mengundangku untuk makan malam di rumahnya."
Mereka berdua mengangguk saat mendengar jawaban Tasya, "Baiklah, kalau gitu kamu baik-baik di sana jangan merepotkan orang lain."
"Itu pasti. Gak kaya anak kesayangan kalian yang selalu merepotkan orang banyak." setelah bicara seperti itu Tasya memutuskan untuk pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
"Sudah sayang jangan dengerin omongan Tasya." ucap sang istri saat melihat suaminya ingin membalas perbuatan Tasya, wanita ini terus menenangkan suaminya sampai pria di sampingnya ini berhasil dia tenangkan.
Sedangkan Tasya pergi menemui kekasihnya, kekasih kaya raya yang selama ini sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Selama dua tahun ini keluarganya tidak tahu kalau dia memiliki seorang kekasih, tepatnya menjadi seorang simpanan yang selalu dibelikan apapun yang dia inginkan.
Tasya melambaikan tangan saat melihat mobil kekasihnya datang, sebelum masuk Tasya sempat melihat sekitar dia tidak mau kalau sampai orang lain tahu kalau dia menjadi sugar baby. Yang orang lain tahu dia adalah anak baik-baik dari keluarga terpandang, sampai ada yang tahu pasti dia sudah diusir dari rumah.
"Sayang hari ini kita mau kemana?" tanya Tasya memeluk tangan kekasihnya.
Pria dewasa itu mengelus puncak kepala Tasya dengan lembut, "Kemana aja asalkan kamu bahagia."
"Sayang kita udah lama gak pergi liburan gimana kalau kita pergi liburan." kata Tasya yang melepaskan tangannya saat dia menatap wajah kekasihnya.
"Liburan?" ulang pria itu membuat Tasya mengangguk.
"Ya sayang. Aku bosan pacaran ngumpet-ngumpet kaya gini terus aku takut ketahuan orang apalagi keluargaku, apa kamu tidak mau menikahi aku saja." tutur Tasya membuat pria yang sibuk menyetir menghentikan mobil.
Dia menatap wajah kekasihnya dengan seksama, "Maaf sayang untuk permintaan itu aku tidak bisa. Aku tidak mau menyakiti perasaan istriku, kamu sudah sepakat kalau kamu mau jadi simpananku. Apa kamu lupa dengan perjanjian kita."
__ADS_1
"Ya aku tahu, tapi aku tidak mau jadi wanita simpanan lagi. Aku mau jadi istri kamu seutuhnya bukan keluar untuk menemui kamu di saat kamu butuh saja." urai Tasya yang memasang wajah cemberut.