Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Ketakutan Pelakor


__ADS_3

Gimana tidak takut, ia sudah pernah bertemu dengan Lyona sekretaris baru Jackson. Dia akui wanita itu sangat sempurna dalam segi fisik, tapi dia tidak tahu apakah mereka hanya membahas pekerjaan atau yang lain.


"Ini tidak bisa aku biarkan, kenapa Jackson mulai membandingkan dirinya dengan Alice. Apalagi sekarang dia memiliki saingan yang sangat sempurna darinya." batin Amara yang merasa ketakutan kalau nanti dirinya akan bernasib sama dengan Alice.


Jackson sudah terlelap dalam mimpi, sedangkan Amara sangat penasaran dengan handphone Jackson. Selama dia menikah dengan Jackson ia belum pernah mengecek handphone Jackson, apalagi sekarang dia berhak tahu apa yang ada di dalam handphone tersebut.


Bukannya seorang istri harus tahu semuanya, jadi tidak masalah bukan kalau mencari tahu isi handphone suami sendiri. Amara mengecek keadaan Jackson, apakah pria ini sudah benar-benar tidur atau hanya pura-pura tidur.


Setelah memastikan barulah ia mengambil handphone itu, dia membuka pin sandi handphone Jackson dan tidak pernah berubah dari pin handphone milik Jackson. Dia juga mengecek kembali pesan yang sering dilakukan Jackson, tidak ada satupun yang mencurigakan tapi entah kenapa dia punya firasat kalau Jackson bermain api di belakangnya.


"Tidak ada yang mencurigakan dari handphone ini, tapi entah kenapa Jackson seperti menutupi sesuatu darinya." batin Amara yang menatap Jackson tidur, lalu dia meletakan kembali handphone tersebut.


Di sisi lain Neo dengan Alice bertemu dengan Lyona, mereka bertiga berkumpul di sebuah klub yang buka 24 jam. Klub tersebut adalah milik kekasih Lyona yaitu Draco, lelaki tampan itu lagi sibuk mengurus perusahaan di luar negeri.


Jadi selama lelaki itu sibuk mengurus bisnis Lyona yang menjalankan bisnis Draco di Indonesia, "Gimana Lyona apakah pacar kamu tahu rencana kita ini?" Alice menatap Lyona yang sibuk memakan buah.


"Sudah. Dia setuju dengan rencana kamu, asalkan saya tahu batasan kalau kehidupan saya punya dia." Neo dan juga Alice mengangguk dengan ucapan Lyona.


"Baiklah kalau gitu aku tidak khawatir lagi dengan rencana ini, takutnya rencana ini gagal di saat pacar kamu tidak tahu apa-apa."


"Dia bukan tipe orang yang seperti itu Lice. Dia sama seperti Neo, yang tidak pernah tertarik dengan wanita lain selain kekasihnya sendiri. Jadi aku beruntung mendapatkan Draco, walau hubungan kita tidak seperti orang lain yang setiap hari bertemu." ucap Lyona kepada mereka berdua.


Mereka bertiga serempak menatap satu lelaki yang membawa minuman pesanan mereka, lelaki itu menyusun pesanan di atas meja dengan pamit untuk kembali bekerja. Setelah itu mereka bertiga menuangkan minuman ke gelas masing-masing.


"Kamu sudah dapat apa saja dari Jackson?" Alice kembali bertanya setelah ia selesai minum, sedangkan Lyona meletakan gelas barulah menatap Alice.

__ADS_1


"Ternyata dia bodoh sekali Lice, dia mudah dimanfaatkan olehku. Buktinya saja dia rela mengorbankan waktu dan uang untuk membelikan apapun yang saya mau, jadi bolehkan aku memanfaatkan suami kamu itu?" Lyona menatap Alice saat dia seperti meminta izin untuk memanfaatkan Jackson.


"Kenapa kamu harus minta izin ke saya. Lagian Jackson sudah tidak peduli denganku, buat apa aku peduli dengannya. Yang aku pedulikan hanyalah balas dendamku bukan cinta atau hubungan kita lagi." tutur Alice yang sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Jackson.


"Jadi kamu sudah tidak ingin mempertahankan pernikahan kamu dengan Jackson?" tanya Lyona menatap Alice, dia sangat penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Alice.


Alice tersenyum lalu menggeleng, mungkin sekarang dia sudah tidak mencintai Jackson. Rasa cinta yang diberikan oleh si pemilik tubuh mungkin masih ada, tapi sekarang Aurora yang menempatkan tubuh Alice bukan pemilik aslinya.


***


Neo tersenyum mendengar jawaban Alice, dia ikut senang kalau Alice sudah berubah. Tapi yang dia tidak mengerti kenapa sikap Alice semakin hari semakin berubah, seperti bukan Alice yang asli melainkan orang lain yang menepati raga Alice.


"Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya, tapi semenjak kamu datang aku mulai jatuh hati dengan kamu bukan dengan Alice. Dan kamu juga membantu Alice untuk membalaskan dendamnya." batin Neo yang terus memperhatikan Alice lalu ia kembali minum.


Lyona kembali ke kantor setelah dia selesai berkumpul dengan Alice dan juga Neo, wanita cantik dan seksi itu datang dengan tertuju pada ruangan Jackson. Ia sama sekali belum melihat Jackson di ruangan, apa pria itu memang belum datang atau tidak datang ke kantor.


Wanita itu menatap Jackson yang sudah masuk ke dalam, Lyona yang mendengar apa yang barusan dikatakan Jackson bergegas untuk masuk. Lelaki itu dengan cepat mengunci pintu ruangan, dan mengunci tubuh Lyona menggunakan tubuh besarnya.


"Ada apa? Apa ada yang salah denganku?" tanya Lyona yang melihat Jackson terus memperhatikan dirinya.


Jackson tidak menjawab pertanyaan Lyona, dia masih menatap wajah Lyona yang begitu sempurna apalagi penampilan Lyona yang semakin hari semakin sempurna. Entahlah mungkin dia sangat menyukai penampilan Lyona dari pada penampilan Amara.


"Saya heran sama kamu kenapa setiap hari kamu semakin cantik, sebenarnya kamu ini memiliki kecantikan sampai mana membuat saya jatuh hati dengan keindahan yang kamu miliki." ucap Jackson yang terus memuji keindahan tubuh Lyona, tetapi Lyona sama sekali tidak tertarik dengan pujian Jackson.


Dia seperti muak dengan apa yang dikatakan Jackson, "Bapak bisa aja. Jangan buat saya salting pak kalau bapak tidak mau melihat saya berwajah merah setiap hari."

__ADS_1


Jackson menyentuh wajah Lyona dengan lembut, apalagi tubuh di bagian atas Lyona sangat harum. Membuat dirinya tidak fokus dengan apa yang ada di diri wanita ini.


Jackson menyentuh dagu Lyona, dia mengangkat sedikit dagu tersebut untuk dirinya bisa melihat dengan sempurna wajah cantik Lyona. Lyona tidak tahu harus melakukan apa supaya terlepas dari tangan pria ini, tetapi yang membuat Lyona terkejut adalah Jackson mencium bibirnya.


Apalagi pria ini seperti memperdalam ciumannya membuat Lyona tak ingin membalas apa yang dilakukan Jackson, tetapi Jackson seperti sengaja membuat mulutnya terbuka supaya ciuman itu semakin dalam.


Lyona tidak tahu harus menyukai ciuman Jackson atau merasa jijik dengan apa yang dilakukan bosnya, tetapi ia tidak peduli yang ia pedulikan hanyalah rencana balas dendam Alice dan juga memanfaatkan pria ini.


Jackson melepaskan ciumannya dan dia menatap Lyona saat melihat wanita cantik ini seperti tidak bisa bernafas. "Gimana apa kamu suka dengan kegiatan barusan?"


Lyona tersenyum lalu ia melingkarkan tangannya tepat di leher Jackson, "Sekarang apa aku boleh minta sesuatu sama kamu?"


"Apapun yang kamu inginkan akan aku berikan. Emang cantikku ini mau minta apa?" ucap Jackson yang mencubit hidung Lyona.


"Apa aku boleh liburan?" Jackson mengerutkan kening dengan ucapan Lyona, apa wanita ini merasa jenuh dengan semua pekerjaan.


"Baiklah aku izinkan kamu berlibur. Tapi setelah berlibur kita jalan-jalan berdua, bagaimana?"


"Boleh." Jackson tersenyum senang melihat wajah Lyona terlihat bahagia, apa lagi Lyona adalah wanita yang dia sayang selama ini.


Dan dia sudah melupakan keberadaan Amara yang sudah menjadi istrinya, yang ia pedulikan hanyalah Lyona bukan lagi Amara apalagi Alice. Tetapi Jackson tidak tahu kalau Lyona memiliki rencana licik yang akan dilakukan bersama dengan Alice dan juga Neo.


"Aku melakukan ini untuk membantu Alice dan aku akan memanfaatkan apa yang kamu miliki Jackson, setelah itu aku akan meninggalkan kamu seperti kamu pernah meninggalkan Alice." batin Lyona dengan tersenyum puas, apalagi kalau rencana yang mereka jalani berjalan dengan lancar.


Mungkin sebentar lagi Jackson akan hancur dan tinggal Amara yang merasakan apa yang dirasakan Alice, tidak mudah bukan untuk menghancurkan mereka berdua. Sekali masuk membuat rencana mereka lancar, dan sampai sekarang rencana itu masih mulus-mulus saja.

__ADS_1


Jackson tiba di rumah Lyona saat mereka sudah sampai tujuan, mereka masih berada di dalam mobil sambil Lyona terus memeluk lengan Jackson. Seperti orang yang sedang dimabuk asmara, itulah yang dilakukan Lyona tanpa Jackson memiliki rasa curiga sedikitpun.


__ADS_2