
Saat pria yang berada di ranjang terbangun, pria itu melihat sekeliling kamar. Yang pertama kali dia lihat adalah dirinya, tidak ada Amara di sampingnya.
Jackson yang tidak melihat keberadaan Amara memutuskan untuk pergi ke toilet, barulah ia mencari keberadaan wanita itu. Ia tersenyum melihat Amara berada di dapur, seperti sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi sayang." sapa Jackson memeluk pinggang ramping Amara, Amara yang tidak membalas pelukan darinya dibuat bingung oleh sikap Amara.
Jackson memutuskan untuk membalikan tubuh Amara, di sana ia melihat Amara sedang menangis saat wajah dan matanya mulai sembab.
"Hai sayang. Kamu kenapa? Kenapa wajah kamu sembab begini." ucap Jackson menyentuh wajah Amara lalu tangan Jackson menghapus jejak air mata.
"Kamu kenapa bohongin aku, kenapa kamu tidak bilang kalau semalam kamu tidak ke pesta rekan bisnis kamu. Melainkan ke klub malam bersama dengan sekretaris pribadi kamu."
Mendengar ucapan Amara membuat dirinya terkejut, bagaimana bisa Amara mengetahuinya. Atau jangan-jangan Lyona yang memberitahu Amara.
Amara menatap Jackson saat melihat suaminya diam, "Sayang, kamu kenapa diam aja. Harusnya kamu jelasin semuanya kenapa kamu malah diam, apa benar kamu pergi ke klub malam bersama dengan sekretaris kamu."
"Nggak honey! Kemarin aku datang ke tempat rekan bisnis bersama dengan Revan, lalu ternyata aku kepikiran untuk pergi ke klub. Karena banyak masalah di kantor, jadi aku meminta Revan untuk kembali. Tapi aku tidak tahu kalau aku bisa bertemu dengan Lyona, apa dia yang mengantarkan aku pulang?" kata Jackson membuat Amara mengangguk.
"Tapi kenapa di tubuh kamu banyak tanda merah seperti kamu habis melakukan itu dengan wanita lain." ucap Amara kembali yang menanyakan tanda merah yang berada di tubuh Jackson.
Saat pergi ke toilet memang dia sempat melihat seluruh tubuhnya terdapat tanda yang dikatakan Amara, tapi dia tidak tahu siapa yang membuat tanda itu. Apa semua ini ulah Lyona, kalau memang dia kenapa wanita itu melakukan hal nekat ini.
"Sudahlah sayang jangan kamu pikirkan lagi, lagian tanda itu aku tidak tahu berasal dari mana. Aku mana mungkin melakukan hal itu sama wanita lain, sekarang kita makan jangan berpikir yang macam-macam." tutur Jackson yang menyakinkan Amara dengan menangkup wajah Amara menggunakan kedua telapak tangannya.
Amara mengangguk, barulah mereka berdua sarapan bersama di meja makan. Sedangkan Lyona mulai melakukan aksinya kembali, dia sengaja memakai pakaian atasan putih dengan rok abu-abu yang terdapat belahan di bagian paha.
Di tambah lagi dengan penampilan yang sedikit berbeda, Lyona mengambil kunci mobil barulah ia pergi menuju kantor Jackson. Sangat sempurna dan perfek atas penampilan yang kini dilakukan Lyona, apalagi dia memakai parfum yang sengaja menarik lawan jenis.
Jackson tiba di kantor, ia melangkah ke dalam perusahaan. Banyak karyawan pada memberikan sebuah sapaan untuknya, tetapi Jackson hanya menjawab dengan mengangguk. Lelaki gagah dan tampan itu tiba diruang kerja, di sana ia melihat ada satu cangkir kopi yang tidak pernah diletakan di meja.
__ADS_1
Saat Jackson ingin memanggil OB tiba-tiba saja Lyona masuk, ia membawa jadwal kerja yang harus Jackson lakukan hari ini.
"Maaf pak saya lancang sudah memberikan kopi untuk bapak. Saya tidak tahu apakah bapak suka atau tidak kopi buatan saya." ujar Lyona membuat Jackson terfokus akan penampilan Lyona yang semakin cantik.
"Jadi kamu yang membuat kopi ini?"
"Ya pak. Tapi kalau bapak tidak suka saya bisa minta OB untuk mengganti minuman bapak." timpal Lyona, saat Lyona ingin membawa cangkir berisi kopi Jackson menghentikan Lyona.
"Tidak usah kamu bawa lagi Lyona, saya akan hargai usaha kamu. Tapi kalau kamu mau buatkan minuman untuk saya kamu kasih tahu saya, nanti biar saya beritahu kamu apa yang saya suka dan tidak saya suka."
"Baik pak."
***
"Kamu hari ini cantik sekali Lyona, saya sampai tidak bisa fokus dengan penampilan kamu pagi ini." ucap Jackson yang memuji penampilan Lyona di saat pria itu sudah berada di kursi kebanggaannya.
Lyona tersenyum malu, "Bapak bisa aja."
"Jangan merubah penampilan kamu karena ini membuat daya tarik perusahaan saya, apalagi semenjak ada kamu perusahaan saya semakin banyak yang ingin mau bekerja sama." tutur Jackson membuat Lyona tersenyum.
Mulailah pekerjaan yang akan mereka lakukan, tetapi Jackson yang semakin hari tidak bisa menahan dirinya sendiri saat melihat penampilan Lyona. Berbeda sekali saat Amara yang menjadi sekretaris pribadinya dulu, dulu Amara tidak seperti Lyona tapi kali ini Revan tidak salah pilih sekretaris.
Dia senang mendapat sekretaris seperti Lyona, "Lyona tolong kamu keruangan saya sekarang." ucap Jackson yang menghubungi Lyona melalui telepon.
"Baik pak." Lyona meletakan kembali telepon tersebut, lalu ia berdiri untuk merapikan penampilannya lebih dulu barulah dia melangkah keruangan Jackson.
Tok! Tok!
"Masuk." ucap Jackson saat mendengar suara ketukan dari luar, ia sudah menebak kalau Lyona yang akan datang secara ruangan mereka tidak terlalu jauh.
"Ada yang bapak butuhkan ke saya?" tanya Lyona yang sudah berada di ruangan Jackson.
__ADS_1
"Saya mau minta tolong pijitin kening saya Lyona, entah kenapa hari ini saya pusing sekali apa mungkin gara-gara semalam saya terlalu banyak minum."
"Bisa jadi pak. Soalnya saya yang mengantar bapak pulang." balas Lyona yang melangkah ke meja Jackson.
"Tapi apa kamu bilang ke istri saya kalau saya mengajak kamu ke klub malam?" tanya Jackson menatap Lyona saat tatapan mereka saling bertemu.
"Tidak pak, saya mana berani bicara seperti itu yang ada nanti saya merusak rumah tangga bapak."
Lyona mulai memberikan sebua pijitan lembut di kening Jackson, Jackson yang merasakan sentuhan itu mulai nyaman apalagi wanita ini sangat pandai memberikan kenyamanan.
"Saya suka sekali dengan sentuhan kamu ini Lyona, andai saya sudah mengenal kamu lebih lama mungkin saya akan mempertahankan kamu di kantor ini. Tapi masalahnya kamu baru menjadi sekretaris pribadi saya." ucap Jackson tanpa membuka mata, lelaki tampan itu masih menikmati apa yang dilakukan Lyona.
"Bapak ini bisa sekali muji orang, selain bapak seorang CEO bapak bisa menyenangkan hati orang lain ternyata. Saya baru tahu bapak orangnya seperti ini." kata Lyona terus menyentuh kening Jackson dengan lembut.
Tiba-tiba saja Jackson membuka mata, dia menghentikan pergerakan tangan Lyona membuat wanita cantik itu terheran.
"Kenapa, pak?" tanya Lyona yang penasaran kenapa tangannya tiba-tiba dihentikan.
"Sudah cukup pijitnya Lyona lebih baik kamu bantu saya."
"Bantu apa pak." Jackson memutar kursi yang dia duduki menghadap Lyona, sekarang dia bisa fokus dengan wajah dan keindahan Lyona.
Matanya terus memperhatikan seluruh tubuh Lyona sampai dia tidak tahu harus berkata apa lagi, mungkin lelaki yang menatap Lyona akan mengatakan sempurna. Dialah wanita sempurna yang pernah dia temui, Lyona sangat sempurna di matanya sampai ia tidak bisa bicara lagi.
Jackson menyentuh tangan Lyona dengan menarik tangan tersebut, membuat Lyona yang merasa tangannya di tarik jatuh ke tubuh Jackson. Pria itu meminta Lyona duduk di pangkuannya dengan tatapan masih tertuju pada wajah Lyona.
"Hari ini kamu cantik sekali Lyona, sebentar lagi waktu jam istirahat bagaimana kamu tetap di ruangan saya saja."
"Tapi pak. Saya takut kalau nanti istri bapak datang dan melihat kita berada di posisi yang seperti ini." timpal Lyona yang meletakan kedua tangannya tepat di leher Jackson, seperti orang sedang memeluk tubuh kekasihnya.
"Kamu gak usah takut dia tidak akan datang kemari. Lagian buat apa dia datang yang ada saya akan usir dia dari sini."
__ADS_1
"Bapak ini jahat sekali." tutur Lyona terus meraba tubuh Kekar Jackson, walau begitu dia sangat jijik dalam posisi yang seperti ini.
"Astaga kalau bukan karena rencana Neo aku tidak mungkin melakukan hal kotor ini. Maafkan aku Draco aku tidak terpaksa melakukan hal ini." batin Lyona terus membayangkan wajah tunangannya.