Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Titik Kelemahan Jackson


__ADS_3

"Selamat pagi, pak!" sapa Lyona saat dia melihat kedatangan Jackson.


"Pagi." balas Jackson dengan memberikan sebuah senyuman, "Tumben sekali kamu sudah datang lebih awal."


"Ya pak, saya suka aja datang lebih cepat takutnya nanti di jalan macet. Kalau saya datang telat bapak akan memberikan sangsi untuk saya, jadi saya tidak berani melanggar aturan kantor." kata Lyona membuat Jackson tersenyum, dia juga sempat melihat minuman yang dibuat Lyona.


"Saya tidak mungkin menghukum kamu Lyona, lagian kamu ini sekretaris pribadi saya mana mungkin saya tega menghukum kamu." ujar Jackson yang sudah duduk di bangku kebanggaannya, lalu lelaki itu meminta izin kepada Lyona untuk meminum kopi buatan Lyona.


Lyona memperhatikan Jackson saat pria itu ingin mengambil minuman, lalu pria itu mengangkat gelas dengan meniup kopi tersebut. Setelah itu barulah Jackson meneguk kopi buatan Lyona, mungkin awalnya Jackson tidak merasakan apapun pada minuman itu.


Tapi lama kelamaan akan bereaksi setelah obatnya bekerja, Jackson menempelkan bibirnya dan menyapu bibir menggunakan lidah.


"Kopi buatan kamu enak juga saya suka dengan racikan kamu ini. Lain kali kamu saja yang membuat minuman untuk saya, saya akan meminta OB untuk tidak mengirimkan kopi lagi."


"Baik pak." jawab Lyona, wanita itu kembali menjelaskan jadwal kerja yang akan dilakukan Jackson. Itupun kalau nanti pria ini kuat, kalau tidak akan kembali dalam keadaan tidak berdaya.


Tepat jam makan siang Lyona diam memperhatikan gerak gerik Jackson, di dalam ruangan itu terdengar suara aneh membuat Lyona sedikit mengkhawatirkan Jackson. Lyona segera datang saat Jackson memanggilnya, hal pertama yang dia lihat adalah kekacauan dari pria itu.


"Lyona tolong saya. Tolong saya! Kenapa ruangan saya panas sekali." kata Jackson terus mengibaskan telapak tangan kearah wajah.


Seluruh tubuh Jackson sudah sangat berkeringat dingin, apalagi penampilan Jackson sudah sangat berantakan. Mungkin obat yang diberikan Alice adalah obat perangsang, obat ini memiliki tingkat tertinggi dari obat perangsang biasa.


Tapi buat apa Alice memberikan obat perangsang ini untuk Jackson? Itulah yang saat ini dipikirkan Lyona, apalagi dia melihat sendiri bagaimana kacaunya keadaan Jackson.


"Lyona tolong saya. Siapapun panggilkan seseorang." ucap Jackson saat lelaki itu terus meminta tolong kepada Lyona.


"Baik pak saya akan meminta seseorang untuk membantu bapak." Lyona pergi dari sana, bukannya mencari pertolongan dia malah memanggil dua wanita bayaran.


Wanita bayaran itu masuk ke dalam dia juga sempat memberikan sebuah tulisan di depan pintu ruangan Jackson, ketiga wanita itu menatap kearah Jackson yang sudah tidak berdaya. Sedangkan dengan samar-samar Jackson melihat ada tiga wanita cantik, yang duanya sangat seksi dan body lebih bagus dari Amara.


"Lakukanlah tugasmu itu." ucap Lyona seperti memerintah dua wanita bayarannya, dua wanita itu mengangguk dan melangkah mendekati Jackson.

__ADS_1


"Perlu saya bantu pak?"


"Tidak perlu saya menginginkan Lyona bukan kalian."


"Coba bapak lihat kami baik-baik, apa di antara kita ada yang sama dengan Lyona?" Jackson memperhatikan dua wanita tersebut, dan ternyata Jackson tersenyum melihat wajah Lyona.


Ternyata apa yang dia lihat hanyalah ilusi semata, karena Lyona yang asli lagi sibuk merekam adegan mereka. Jackson menarik tangan wanita itu dan menyuruh duduk di pangkuannya.


Jackson yang sudah tidak tahan membuka kancing kemeja, lalu pria itu segera menyerang wanita asing itu dengan ganas. Sedangkan Lyona merasa jijik dengan apa yang ia lihat, tapi mau gimana lagi ini akan menjadi barang bukti.


***


"Ahhh... Lyona kamu sangat nikmat..." kata Jackson yang mengeluarkan kalimat mendesah, apalagi Lyona sangat kaget mendengar namanya di sebut dalam adegan panas itu.


Mereka bertiga bermain secara bergantian, apalagi Jackson sangat ganas dibandingkan dua wanita bayarannya. Mungkin inilah kelemahan Jackson yang sebenarnya, dan dia akan melakukannya sendiri setelah melihat bagaimana ganasnya mereka bermain.


Telinga Lyona sangat panas mendengar kalimat itu, tapi dia masih bertahan melihat adegan panas tersebut. Setelah mereka puas Jackson lemas tak berdaya, tiga ronde mereka melakukan adegan panas ini. Membuat tangannya keram berada di posisi mereka.


"Luar biasa. Saya tidak menyangka kalian sangat ahli melakukan hal ini."


"Tapi kenapa kamu meminta kami melakukan hal itu, kenapa tidak kamu saja yang membuat pria itu seperti barusan." timpal wanita satunya yang menatap Jackson yang sibuk tertidur pulas.


Mereka bertiga sudah memindahkan Jackson ke kamar, karena adegan panas itu sempat berpindah ke kamar pribadi di ruangan ini.


"Apa kamu belum pernah berpengalaman melakukan hal ini?" tanya satunya membuat Lyona tersenyum, bukan berarti Lyona tidak pandai bermain namanya adegan ranjang.


Dia sudah sering melakukan hal itu, tapi dia sadar kalau negaranya dulu sangat liar dari pada negara yang sekarang dia tempati.


"Sudah kalian jangan banyak omong lagi." Lyona mengeluarkan sejumlah uang yang sudah dia bawa dan diberikan kepada dua wanita itu, melihat itu wanita bayarannya tersenyum puas dengan transaksi mereka.


"Itu uang untuk hasil kerja keras kalian, saya mau setelah ini kalian pergi jauh-jauh jangan menampakan diri dari hadapan saya. Apalagi sampai orang lain tahu tentang kalian, yang ada kalian akan mengatakan siapa yang menyuruh kalian melakukan hal ini."

__ADS_1


"Kamu tenang aja kami akan menjaga rahasia ini, terima kasih atas transaksi ini."


"Ya sama-sama." dua wanita itu akhirnya pergi dari kantor ini, dia melihat Jackson sebelum dia memutuskan untuk pergi.


Setelah pergi barulah Lyona kembali, di sana ia melihat Jackson sadar dan menatap kearahnya. Jackson tersenyum saat melihat Lyona datang, dia sangat senang sudah melakukan hal itu dengan Lyona.


Apalagi mereka bermain dengan ganas, "Ada apa, pak? Apa ada yang tidak nyaman dengan tubuh bapak?" tanya Lyona yang memberanikan diri duduk di pangkuan Jackson dengan menatap wajah Jackson.


"Aku tidak tahu apakah aku mimpi atau bukan. Aku bermimpi berhubungan badan denganmu, dan kita sama-sama menikmati kegiatan panas itu di ranjang. Apalagi saya mendengar kalimat indah di bibir kamu ini." Jackson menyentuh bibir Lyona dengan lembut.


"Memangnya kalimat apa saja yang bapak dengar dari mulut saya?" kali ini Lyona sengaja menarik Jackson untuk mengetahui apa yang dikatakan pria tampan ini.


"Kalimat yang sangat indah sampai saya sangat menyukainya." Lyona melihat dengan jelas bagaimana Jackson sangat senang dalam hal itu, tapi sebenarnya itu bukanlah mimpi melainkan nyata.


Tapi Jackson tidak menyadarinya karena dialah yang melakukan rencana ini, "Tapi bapak sekarang senangkan sudah melakukan hal indah itu dengan saya."


Jackson menatap Lyona dengan tersenyum manis, "Tanpa kamu bilang kamu sudah tahu jawabannya cantik."


Jackson mencium kening Lyona dengan lembut, apalagi pria ini seperti menyukai kehadiran Lyona. Awalnya Lyona ingin turun dari pangkuan Jackson tapi pria itu menolak, dia tidak mau Lyona pergi dari pangkuannya.


"Bapak tidak takut kalau nanti karyawan bapak atau yang lain tahu posisi kita ini?"


"Saya tidak akan takut dengan itu Lyona. Yang saya takuti kehilangan kamu, apapun di dunia ini mungkin saya akan berikan ke kamu. Tapi untuk kamu saya tidak ingin kamu pergi dan meninggalkan saya." kata Jackson yang kembali menatap Lyona.


Lyona tersenyum mendengar kalimat Jackson, dia sempat memeluk tubuh Jackson sambil bersandar ke tubuh kekar Jackson. Jackson yang melihat sikap manja Lyona sangat senang, apalagi wanita pujaan hatinya sudah berada di sisinya. Apalagi sekarang dia sudah melupakan keberadaan Amara, sedangkan Alice dan juga Neo tersenyum akan rencana mereka buat.


Kali ini rencana itu berhasil dan sebentar lagi Jackson akan hancur, selebihnya biarkan Lyona yang memainkan peran dalam rencana ini.


"Sekarang rencana kamu berhasil, apa kita tidak bisa melakukan adegan itu bersama?" Alice yang mendengar kalimat Neo menatap pria di depannya ini.


Tatapan Neo membuat sekujur tubuhnya merinding, bagaimana bisa Neo memberikan tatapan seperti itu. Seperti menginginkan sesuatu darinya, walau begitu dia tahu apa yang diinginkan Neo.

__ADS_1


__ADS_2