
"CK. Kenapa Draco bisa tertawa lepas dengan wanita itu, seharusnya aku yang berada di posisi wanita itu kenapa harus Lyona." batin Chika terus menatap kearah Lyona dan juga Draco, tiba-tiba saja seorang lelaki mengagetkan Chika.
"Lu bisa gak jangan ngagetin orang." cetus Chika melihat Syakil datang dan duduk di sebelahnya.
"Sorry gua gak sengaja. Lagian lu serius banget, sebenarnya lu lagi lihatin siapa sih kayanya fokus banget."
"Bukan siapa-siapa." balas Chika yang mengalihkan pandangan, saat Syakil tidak kepo dengan urusan Chika.
Chika mulai menatap Draco membuat Syakil kepo dengan arah pandangan Chika, "Jadi lu memperhatikan mereka berdua. Tapi gua saranin ya buat lu, jangan ganggu hubungan mereka nanti lu bakal sakit hati."
Chika menatap Syakil saat tiba-tiba saja pria ini tahu isi pikirannya, "Kenapa? Bukannya mereka belum menikah jadi gua berhak dong berada di antara mereka, lagian kalau belum menikah gua masih bisa merebut Draco dari cewek itu."
"Ya gua sih ngasih tahu lu aja. Lebih baik lu kubur dalam dalam perasaan lu itu, lagian masih banyak pria lain selain Draco. Sehebat apapun lu, di mata Draco tetap Lyona di hatinya. Walau lu berusaha memisahkan mereka berdua, mereka berdua akan kembali lagi." tutur Syakil yang sekarang menikmati minuman jus mangga.
"Tapi kan gua belum melakukan apapun, jadi gua berhak mendapatkan Draco. Walau harus memisahkan mereka berdua, yang penting gua berusaha sekuat tenaga mendapatkan Draco." tutur Chika yang sangat keras kepala untuk memisahkan mereka berdua.
"Terserah lu aja. Lagian gua udah kasih tahu lu, jangan salahkan gua kalau nanti lu bakal patah hati." Syakil berdiri meninggalkan Chika di pinggir kolam renang.
Draco membawa Lyona masuk ke dalam kamar hotel, mereka berdua menikmati secangkir coklat hangat di depan televisi. Keduanya sama sama menikmati coklat panas dengan saling berpelukan, dan seketika pandangan mereka tertuju pada pintu.
Siapa yang datang malam-malam begini. Lyona dengan Draco saling menatap saat terdengar suara pintu, keduanya seakan bicara lewat tatapan mereka.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membuka pintu, saat pintu terbuka di sana ia melihat Chika datang dengan memakai pakaian seksi. Mungkin pakaian ini terbilang membuat keduanya risih, apalagi di jam malam begini.
"Buat apa anda datang ke rumah orang di jam segini. Apa anda tidak punya kerjaan lain selain ganggu orang istirahat." yang mengucapkan kalimat tersebut adalah Lyona bukan Draco, karena dia malas berdebat atau bicara dengan wanita seperti Chika.
"CK, gua datang kemari bukan untuk lu tapi untuk Draco." Lyona melirik Draco saat mendengar ucapan wanita ini, sedangkan Draco tidak tahu harus mengatakan apa lagian dia tidak mengundang Chika datang.
__ADS_1
"Kamu yakin pacar saya yang mengundang kamu ke sini?" Lyona bertanya kepada Chika dengan melipat kedua tangannya, seakan dia sangat tidak menyukai keberadaan Chika.
"Ya. Tanya Draco saja kalau kamu tidak percaya." Lyona menatap Draco saat tatapan tajam itu seperti ingin membunuh mangsa di depan mata, Draco yang melihat tatapan tajam yang diberikan Lyona seakan takut dengan ancaman yang akan dilakukan Lyona nanti.
"Gak sayang aku mana mungkin ngundang Chika ke rumah, lagian buat apa dia ada di kamar kita. Kalau kamu gak percaya cek handphone aku, dan tanya ke Syakil kalau masih curiga sama aku." Draco terus menggoyangkan lengan Lyona untuk mempercayai ucapannya.
Sebenarnya Lyona percaya dengan ucapan Draco, tapi dia sama sekali tidak mempercayai wanita di depannya ini. Lagian mana mungkin Draco membohonginya demi wanita tidak tahu malu ini.
"Sekarang kamu denger kan ucapan Draco, sekarang kamu keluar dari sini jangan sampai aku panggil penjaga keamanan untuk mengusir kamu dari sini." kata Lyona yang mengancam Chika supaya pergi dari hadapannya.
Chika yang diusir secara tidak manusiawi seperti barusan segera pergi, sedangkan Lyona langsung menutup pintu dengan keras membuat Draco terkejut atas kelakuan Lyona.
***
Di sisi lain Jackson sedang menunggu kabar dari Lyona, sudah seharian ini Lyona tidak menghubunginya. Dan ini hampir membuatnya gila tanpa kabar dari sekretaris pribadinya itu.
"Lyona sebenarnya lagi apa kenapa dia belum ngasih kabar." batin Jackson terus menatap handphone yang berada di dekatnya.
Dia tidak tahu siapa pria itu sebenarnya, selama bersama dengan Lyona wanita itu tidak pernah cerita tentang pria ini. Apa mungkin Lyona selingkuh dengannya, atau memang dia saja yang merasa ketakutan kalau suatu saat akan ditinggalkan oleh Lyona.
Perasaan kesal, cemburu yang ada di hatinya Jackson memutuskan untuk keluar dari aplikasi Twitter. Ia sudah tidak ingin melihat apapun dia dunia media.
Tiga hari berada di Bali, Lyona memutuskan untuk kembali. Seharusnya dia seminggu berada di sini, tapi dia sudah janji dengan Jackson kalau dia akan pulang tidak lebih dari tiga hari.
Saat ini Draco sedang mengantar Lyona ke bandara, mereka berdua saling berpelukan saat pesawat yang akan dilakukan Lyona akan segera berangkat. Membuat Draco tidak rela kalau kehilangan Lyona, apalagi wanita ini akan pergi jauh entah sampai kapan bisa ketemu lagi.
Selama di pesawat Lyona memutuskan untuk tidur, tiga hari ini ia sudah lelah bersama dengan Draco. Apalagi liburan kali ini sangatlah menyenangkan dibandingkan liburan sebelumnya, mungkin karena liburan ini bersama dengan orang yang dia sayang makannya sangat menyenangkan.
__ADS_1
Tiba di Indonesia Lyona segera mesan taksi online, ia menunggu taksi online datang setelah beberapa menit taksi online itu akhirnya datang. Lyona masuk ke dalam mobil saat semua barang sudah masuk ke dalam bagasi.
"Akhirnya sampai juga." ucap Lyona yang sudah tiba di rumah, ia merebahkan tubuhnya di sofa empuk di ruang tamu dengan kelapa terus ia pejamkan.
Lyona membuka matanya kembali setelah dia mengingat sesuatu, selama di Bali ia belum ngasih kabar ke Jackson. Dia tidak tahu kenapa dirinya bisa lupa, pasti pria itu akan marah besar setelah tahu.
Lyona akhirnya mengirimkan sebuah pesan untuk Jackson, sedangkan Jackson menatap pesan tersebut saat dia sedang bersama dengan Amara di apartemen. Kali ini dia sedang berduaan dengan Amara di ruang tamu, entahlah ia sangat kesepian dan mengajak Amara untuk nonton bersama.
"Kenapa sayang." kata Amara yang melihat Jackson terus memandangi handphone.
"Bukan apa-apa." Jackson mematikan handphonenya kembali, Amara merasa kalau dirinya curiga terhadap Jackson tapi dia tidak punya bukti.
"Kenapa aku merasa kalau Jackson sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi sebenarnya apa yang disembunyikan Jackson sampai firasatku kuat sekali." batin Amara menatap film yang berada di layar televisi.
Sedangkan pikirannya tidak mengarahkan ke film melainkan kearah lain, sudah lama sekali Amara mencurigai Jackson tapi dia belum menemukan bukti apapun dari suaminya ini.
Amara yang mendengar Jackson sudah terlelap memutuskan bangun, ia ingin memastikan apakah kecurigaannya ini benar atau tidak. Kalau suatu saat kecurigaan ini tidak benar ia akan minta maaf dengan Jackson, tapi kalau nyatanya benar ia akan mencari tahu dan menanyakan ke Jackson langsung.
Dengan hati-hati Amara turun dari tempat tidur, ia mencari handphone Jackson untuk memastikan apakah ada bukti di sana atau tidak. Amara mengambil handphone tersebut, dan memastikan apakah Jackson sudah terlelap tidur atau hanya pura-pura tidur saja.
Setelah memastikan barulah Amara mengambil handphone itu, dan melihat bagaimana keseharian ini Jackson berada di kantor. Amara terus mencari keberadaan di handphone Jackson tapi tidak menemukan apapun di handphone ini.
Tetapi saat ia melihat pesan dari Lyona sekretaris pribadi Jackson membuatnya curiga, saat ingin tahu lebih jelas lagi Jackson dengan cepat merebut handphone itu membuat Amara terkejut melihat keberadaan suaminya.
"Buat apa kamu melihat handphoneku."
"Aku hanya memastikan apakah kecurigaanku ini benar atau tidak." Jackson menatap Amara tajam, apa selama ini Amara mencurigainya tentang dirinya ada hubungan dengan Lyona.
__ADS_1
"Jadi selama ini kamu curiga sama suami sendiri, aku sudah bilang kalau aku tidak melakukan apapun di belakang kamu kenapa curiga mulu. Lama-lama aku muak dengan tingkah laku kamu ini Amara, sekali saja jangan buat ulah mulu cepek aku lihatnya." erang Jackson kesal melihat sikap Amara.
"Ma-maaf." Jackson tidak peduli dengan Amara yang ia pedulikan hanyalah privasinya, Jackson kembali tidur saat merasa kalau Amara sedang ketakutan.