
Alice meletakan kembali gelas itu, kini dia fokus dengan menatap wajah Neo. Wajah setampan ini membuat Aurora sangat menginginkan pria ini, apa dia bodoh menyukai Neo yang statusnya sudah menikah.
Di sini dia hanya membantu pemilik tubuh, tapi entah kenapa dia sangat suka kalau dirinya berada di tempat ini. Sejujurnya dia tidak pernah mendapatkan perhatian dari lelaki manapun, tapi di dalam kehidupan Alice dia mendapatkan itu semua.
"Lice, ada apa?" tanya Neo yang melihat Alice melamun sambil melihatnya.
Aurora menggeleng dan tersenyum, lalu dia kembali tersadar akan niatnya barusan. "Gak Aurora, kamu tidak bisa tinggal di sini lama-lama. Kamu harus ingat dengan janjimu kepada Alice, setelah misi mu selesai kamu bisa kembali ke dunia asalmu. Karena tempatmu bukan di sini Aurora."
Alice sama seperti dirinya yang tidak mendapatkan cinta dari seorang pria, tapi baginya Alice begitu beruntung dikelilingi orang-orang baik. Sedangkan dirinya harus berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Gimana hubungan kamu dengan suami kamu? Apa semuanya baik-baik aja." pertanyaan itu sontak membuat Alice tersadar, dia kembali menatap Neo yang kini sibuk menatapnya juga.
Alice tersenyum dengan hambar, apa dia harus bicara dengan jujur dengan Neo kalau sebenarnya Jackson sudah menikah lagi. Apa pria itu akan marah saat melihat orang yang dia cintai disakiti yang kedua kalinya.
"Alice, kamu kenapa diam aja. Kamu gak apa-apakan?"
"Aku gak apa-apa Neo. Semuanya baik-baik saja kamu tidak usah khawatir." balas Alice dengan menyakinkan Neo, tetapi Neo tidak mudah percaya dengan apa yang diucapkan Alice.
Dia tahu bagaimana Alice, mana mungkin wanita itu berbohong. Pasti sekarang Alice sedang menyembunyikan sesuatu darinya, makanya dari tadi wanita itu hanya diam.
Neo memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, sedangkan Alice hanya diam sambil menonton televisi. Neo menutup laptop itu kembali dan tatapan matanya mengarahkan Alice yang sudah terlelap.
Dia tersenyum melihat wajah cantik itu terlihat meneduhkan, Neo segera menghampiri wanita cantik itu. Sebelum membangunkan Alice ia terus mengamati wajah Alice dengan seksama, hidung yang mancung, bulu mata yang lentik dan bibir yang manis saat wanita ini mencoba tersenyum.
"Lice andai kamu tahu kalau aku masih berharap kamu menjadi milikku. Apa aku bisa merebut kamu kembali, setelah perjuanganku selama ini sia-sia."
"Mungkin dulu aku kalah mendapatkan kamu tapi sekarang aku ingin mendapatkan kamu kembali. Apa kamu setuju dengan keputusanku ini! Apa nantinya kamu akan marah denganku kalau aku berniat merebut kamu dari Jackson." batin Neo yang masih memandangi wajah Alice yang masih tidur.
__ADS_1
Neo refleks menarik tangannya saat merasa ada pergerakan dari tubuh Alice, saat Neo ingin menjauh tiba-tiba saja tangan Alice menahan tangannya. Membuat pria itu terdiam kaku sambil menatap Alice.
Neo tetap berusaha melepaskan tangan Alice yang masih berada di lengannya, tetapi wanita itu justru menariknya membuat tubuhnya ambruk. Untung Neo masih bisa menahan tubuhnya, karena dia tidak mungkin membuat Alice terbangun.
Alice yang masih belum sadar kalau Neo sudah berada di atas tubuhnya, sedangkan dia masih nyaman dengan mata terpejam. Kali ini Neo masih berharap kalau dia berhasil melepaskan tubuhnya, dan lagi-lagi gagal saat dia tidak sengaja menyentuh sesuatu membuat bibir mereka menyatu.
Neo melotot saat bibirnya berada di bibir Alice, rasanya jauh berbeda. Apa mungkin ini pertama kalinya ia merasakan bibir wanita, mungkin itulah yang terjadi pada dirinya. Semenjak kehilangan Alice dia tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun, kecuali membahas pekerjaan.
Tapi setelah Alice kembali di dekatnya, ia merasa kalau masih ada kesempatan untuknya. Mungkin ini satu-satunya cara untuk merebut Alice kembali.
Neo mencoba menggerakkan bibirnya untuk memainkan bibir Alice, dan dugaannya ternyata salah kalau Alice sangat menikmatinya. Sampai wanita itu membuka mata saat merasakan ada seseorang yang mencoba membangunkannya.
***
Awalnya Alice terkejut dengan kegiatan yang Neo lakukan di bibirnya, tapi lama kelamaan ciuman itu semakin dalam dan tersusun rapih. Sampai suara ******* dari bibir mereka terdengar, mereka sama-sama saling menikmati penyatuan itu sampai Alice tidak memikirkan bagaimana dirinya memiliki pasangan.
Alice meletakan kedua tangannya tepat dileher Neo, membuat lelaki itu kini berhasil membuat Alice masuk dalam kehidupannya. Saat ciuman panas itu hampir kelepasan Neo segera menghentikannya, dia menatap Alice saat wanita itu hampir kehilangan nafas.
"Maafkan aku Lice aku tidak sengaja menciummu." ucap Neo yang sudah bangun dari posisinya, lelaki itu malah duduk tanpa menatap Alice.
Alice bangun lalu ia duduk di atas sofa, sedangkan Neo masih duduk di lantai tanpa berani menatap kearahnya.
"Ada apa? Apa kau menyesal dengan kegiatan barusan?" tanya Alice yang kini menatap Neo, lelaki itu malah menyesal dengan kegiatan yang baru saja mereka lakukan.
Neo mencoba melihat wajah Alice, di sana Alice sama sekali tidak merasa bersalah dengan kegiatan yang baru saja mereka lakukan. Malah wanita itu bersikap biasa saja tanpa memiliki beban sedikitpun.
"Apa kau marah denganku?" pertanyaan singkat itu membuat Alice mengerutkan kening, apa laki-laki ini belum pernah berciuman sebelumnya.
__ADS_1
Itulah yang dipikirkan Aurora saat melihat wajah bersalah Neo, tapi baginya pria seperti Neo sangat lucu.
"Marah? Untuk ciuman barusan, begitu maksudmu Neo." Neo mengangguk dengan ucapan Alice, lalu wanita itu memilih duduk di samping Neo.
Alice tersenyum dengan memandangi ketampanan Neo, "Aku sama sekali tidak marah Neo apalagi dengan kegiatan kita barusan. Aku tahu itu adalah sebuah kesalahan tapi bagiku itu sebuah kebahagiaan untukku."
Kini tatapan Alice beralih menatap lurus tidak lagi menatap Neo, "Apa kamu tahu Neo, setelah menikah dengan Jackson aku tidak pernah merasakan kehangatan yang ada kekosongan dalam rumah tangga. Jackson sangat sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperdulikan aku."
"Makanya aku mohon sama kamu jangan merasa bersalah dengan kejadian barusan. aku tahu kamu tidak sengaja, dan aku tahu kamu menginginkan itu sejak lama bukan. Makanya baru sekarang kamu bisa merasakan hal itu."
Alice kembali menatap Neo saat pria itu menatapnya juga, lelaki yang kini menjadi sahabatnya malah akan menjadi bumerang dalam rumah tangganya. Seharusnya dia tahu kalau mereka berdua salah melakukan ini, tapi inilah kesalahan Jackson karena pria itu yang memulai duluan.
Mungkin kalau Jackson tidak bermain api mungkin dia juga tidak akan senekat ini, akhirnya mereka berdua sepakat untuk menjalin hubungan terlarang tanpa sepengetahuan Jackson. Apalagi Aurora berhasil membuat Neo menjadi miliknya, mungkin dia dengan mudah menghancurkan Jackson.
Walau dia tahu kalau dirinya membutuhkan Neo untuk membalas dendam, mungkin kalau Neo tahu pria itu akan marah kalau dirinya menjadikannya alat untuk balas dendam. Tapi tak apa yang penting balas dendamnya tuntas.
Sedangkan di tempat lain sepasang pengantin baru kini sedang menikmati sarapan bersama, dua hari tinggal di rumah orang tua Amara membuat Jackson kembali ke apartemen Amara.
Sekarang mereka sepakat untuk tinggal di apartemen, Jackson tidak peduli dengan keputusan Amara yang terpenting dia tidak mau mengeluarkan uang lagi. Semua biaya pernikahan yang sudah dia keluarkan, sudah cukup banyak apalagi kalau dia mengeluarkan uang lagi.
Jadi dia memutuskan untuk tinggal di apartemen tanpa pusing memikirkan tempat tinggal lagi, Jackson lebih cepat selesai sarapan dari pada Amara. Karena memang pria itu sengaja untuk kembali ke rumah.
"Kamu kenapa buru-buru sekali makannya bukannya sekarang masih hari libur." kata Amara yang sibuk menatap Jackson yang kini memandangi handphone.
"Aku mau ke rumah. Aku mau melihat keadaan istriku di rumah, apakah dia baik-baik saja atau tidak." urai Jackson tanpa menatap Amara.
"Tapi Jackson kita baru saja menikah, apa kamu tidak bisa beberapa hari saja tinggal di sini terlebih dahulu." ucapan Amara mampu membuat Jackson melirik Amara, wanita itu merasa ketakutan saat tatapan Jackson mulai mematikan.
__ADS_1
"Karena Alice lebih penting dari kamu." setelah mengatakan itu Jackson mengambil jaket dan juga kunci mobil, dia bergegas pergi dari apartemen.