Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Bermain Game 21++++


__ADS_3

"Kamu mau gaya apa kalau kita melakukan itu?" kali ini Alice sengaja menggoda Neo, karena dia ingin tahu gimana reaksi pria ini.


"Gaya yang belum pernah kita lakukan."


"Oh ya. Kalau gitu aku akan dapat apa setelah memuaskan kamu?"


"Apapun yang kamu suka akan aku berikan." yang diucapkan Neo selalu seperti dulu, pria ini selalu menepati janji setelah melakukan hal berbau ranjang.


Tapi memang mereka sudah lama tidak melakukan hal itu, karena mereka selalu di sibukkan dengan pekerjaan dan baru sempat berduaan sekarang.


"Gimana kamu mau kan?" tanya Neo yang meminta izin kepada Alice, Alice tersenyum lalu mengangguk menyetujui permintaan Neo.


Neo menyerang Alice di bagian bibir, bibir yang sangat menggodanya sejak lama. Apalagi bibir ini masih sama seperti dulu, sangat manis bagaikan gulali. Sentuhan lembut yang diberikan Neo membuat Alice mengikuti apa yang dilakukan Neo.


Lelaki tampan ini terus mencium bibirnya sampai suara kenikmatan muncul begitu saja, "Emm... Ahhh..." Alice memandangi Neo saat pria ini melepaskan ciumannya.


Baru saja dua detik Neo segera menyerang Alice kembali, kali ini bukan bibir lagi melainkan bagian area sensitif Alice. Yaitu daun telinga dan juga leher jenjang Alice, wanita ini sangat sensitif di bagian tersebut makanya dia ingin Alice masakan kenikmatan terlebih dahulu dalam pemanasan.


"Ahhh... Neo..."


"Ya sayang. Aku suka kau sebut namaku..." balas Neo yang mendengar kalimat des@han Alice yang begitu nyaring.


"Lakukanlah sekarang aku sudah tidak tahan lagi." Alice sudah seperti seorang pelacur yang meminta pria untuk melanjutkan kegiatan panas, Neo dengan senang hati melakukan apa yang diucapkan Alice.


"Baiklah sayang akan ku lakukan untukmu." baru pemanasan saja membuat Alice tidak bisa menahannya, apalagi mereka sudah melakukannya mungkin Alice akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Neo kembali mencium bibir Alice dengan begitu ganas, lelaki itu terus mencium dan mengecap bibir lembut Alice. Apalagi lidah mereka sempat masuk ke dalam, untuk menyatukan bagaimana rasa dari penyatuan mereka di dalam rongga mulut.


Tak hanya itu saja tangan nakal Neo mulai beroperasi mencari apa yang dia inginkan, lelaki itu mulai mencari sumber ternyaman di bagian tubuh Alice. Kemeja yang digunakan Alice sangat pas untuk di buka, apalagi kemeja ini sangat mudah untuk dimasukan melalui tangannya.


"Ahhh.... Jangan lakukan itu Neo...." Desis Alice dengan kuat, ia sempat menahan tangan nakal Neo tapi lelaki itu mulai menepis tangan kekasihnya.

__ADS_1


Neo turun ke bagian tubuh Alice, dia mencari benda kenyal di tubuh Alice. Dua buah dada besar itu satunya dikeluarkan oleh tangan Neo, sedangkan satunya ia sapu dengan lidah nakalnya.


"Eughh... Emmm... Ahhhh..."


"Sial ini benar-benar gila." batin Alice yang merasakan sentuhan lembut Neo, dia tidak bisa memikirkan bagaimana keadaannya sekarang. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah kenikmatan yang diberikan Neo.


Neo terus memainkan buah dada besar Alice, apalagi bagian inilah yang sangat dia sukai dari tubuh alice. Terus menerus menyentuh tubuh Alice membuat wanita cantik ini mendes@h sangat hebat, mungkin kalau tidak ruangan tertutup mungkin karyawan di sini bakal risih mendengar des@han mereka berdua.


Neo membawa tubuh Alice ke dalam kamar, ia menggendong tubuh Alice masih dalam kegiatan berciuman. Ciuman mereka masih menyatu tanpa terlepas sedikitpun, sampai di kamar Neo merebahkan tubuh Alice di ranjang. Dan membuka seluruh tubuh Alice, membuat tubuh wanita ini sudah telanjang bulat.


Seakan seperti melihat majalah atau poster wanita dewasa, karena seluruh tubuh Alice sama persis dengan poster wanita dewasa.


"Kamu seksi sekali sayang." ucap Neo saat dia sudah berada di ranjang menghampiri Alice, Alice yang mendengar kalimat itu tersenyum dengan meletakan kedua tangannya di leher Neo.


"Itu pasti. Karena cuman kamu yang bisa mendapatkan ini semua, apa kamu rela lelaki lain merasakan tubuhku ini?"


"Jawabanku tidak. Karena aku tidak suka kamu bersentuhan oleh siapapun selain diriku, aku ini pencemburu dan posesif jadi jangan harap lelaki manapun bisa mendapatkan kamu." Neo segera menyerang Alice kembali setelah mereka sempat mengobrol, barulah adegan panas itu terulang kembali.


Sedangkan di sisi lain Jackson mengantar Lyona pulang, di dalam mobil Jackson terus menyentuh tangan Lyona dengan manja apalagi ia sempat dibawa belanja untuk senang senang.


"Makasih ya pak sudah membelikan apapun yang saya inginkan. Bapak baik banget sama saya, apa bapak tidak takut kalau nanti Bu Amara akan mengetahui ini semua." Lyona menatap Jackson saat lelaki itu sibuk menyetir.


Jackson melirik Lyona dengan mengelus rambut Lyona dengan lembut, "Buat apa saya takut lagian masih ada kamu di sini, jadi saya tetap bersama kamu apapun yang terjadi."


Lyona memeluk tubuh Jackson dengan sekujur tubuhnya ingin muntah, untung saja dia hanya menjalankan tugas setelah tugas ini dia akan mengambil bagian harta yang dimiliki Jackson. Karena dia tidak mungkin tidak mengambil harta yang dimiliki Jackson.


"Sudah sampai." ucap Jackson yang melihat Lyona memejamkan mata, ia tersenyum saat wanita itu sudah tertidur.


"Sayang bangun kita sudah sampai di rumahmu." kata Jackson kembali dengan membangunkan Lyona dengan lembut, mendengar tubuh ada yang membangunkannya Lyona membuka mata.


Ia melihat kalau dirinya tiba di rumah dengan Jackson terus menatapnya, "Ya ampun kamu kelelahan sekali sampai tidurnya nyenyak gitu."

__ADS_1


"Ya karena aku terlalu senang belanja sama kamu. Lain kali aku tidak akan merepotkan bapak lagi, sekali lagi makasih banyak ya pak."


"Jangan panggil saya bapak Lyona. Ini di luar kantor panggil saja yang lain, lagian saya sangat tidak suka dengan panggilan kamu itu." timpal Jackson yang sibuk menatap Lyona.


"Baiklah, akan saya pikirkan panggilan apa yang cocok untuk bapak." Lyona mengambil barang belanjaannya di kursi belakang, "Kalau gitu saya duluan pak kita ketemu lagi di kantor."


Jackson mengangguk dan membantu Lyona membuka pintu mobil, Lyona melambaikan tangan saat pemilik mobil itu mengikuti apa yang dilakukan Lyona. Lalu mobil itu pergi dari hadapan Lyona barulah wanita masuk ke dalam rumah.


"Huff... Cepek sekali jalan dengan cowok brengsek itu, tapi lumayan juga bisa aku manfaatkan kalau kaya gini. Kan aku bisa dapat untung dari tugas yang diberikan Alice." ucap Lyona yang melihat belanjaannya yang sangat banyak dia sofa.


"Gampang juga manfaatin pria itu, aku kira di itu pintar ternyata lebih bodoh dari apa yang aku pikirkan selama ini." kata Lyona yang sibuk membuka satu persatu belanjaannya.


Amara yang mendengar pintu apartemen terbuka melihat sosok lelaki masuk, biasanya Jackson tidak pernah pulang selarut ini tapi sekarang pria itu mulai mencoba pulang malam.


"Apa pekerjaan kamu sebanyak ini sampai pulang malam terus." Amara sudah sangat marah melihat Jackson pulang terlambat terus.


Dia tidak habis pikir kenapa Jackson sangat menyukai mengurus kantor dari pada di rumah, "Kamu ini suami baru pulang sudah dimarahin, kamu ini istri aku apa bukan. Bukannya sambut suami pulang malah marah marah gak jelas."


"Aku marah karena aku khawatir sama kamu."


Jackson membuka sepatu dan juga kaos kaki, ia menyimpan sepatu itu ke rak saat telinganya terus mendengar ocehan Amara. Entahlah sekarang Amara seperti nenek nenek yang kekurangan uang, tapi selama ini uang tidak pernah kurang sebenarnya apa lagi yang wanita ini mau selain uang.


"Jackson aku lagi bicara sama kamu kenapa kamu diam aja." erang Amara yang menarik tubuh Jackson, membuat lelaki itu hampir mendorong Amara kalau wanita itu tidak menahan berat tubuhnya.


"Stop ya Amara. Aku ini baru pulang kerja malah kamu marah marah gak jelas, apa kerjaan kamu selama ini hanya ngomel terus. Aku ini capek bukannya buatin aku kopi atau apa malah dikasih ocehan dari mulut kamu itu." balas Jackson yang tidak terima diperlakukan buruk seperti barusan.


"Ya gimana aku gak marah sama kamu, kamu aja selalu pulang telat dengan alasan kerja. Apa satu hari ini kamu sibuk berduaan dengan sekretaris baru kamu di kantor."


"Jaga mulut kamu Amara, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Lyona dia hanya sekretaris biasa seperti kamu dulu. Tapi sekarang kenapa kamu mudah cemburuan, seharusnya kamu ngertiin posisi aku. Kamu tidak seperti Alice yang percaya sama suaminya, sedangkan kamu malah ngomel-ngomel gak jelas bikin pusing aja." lontar Jackson yang pergi setelah berdebat dengan Amara.


Jackson tidak peduli apa yang dikatakan Amara, walau sebenarnya dia jenuh mendengar ocehan yang keluar dari mulut Amara. Amara kesal dengan sikap Jackson selama ini, mungkin dia sangat ketakutan kalau Jackson akan berpindah hati ke sekretaris baru itu.

__ADS_1


__ADS_2