
Selama perjalanan Alice sibuk dengan dunianya sendiri, sedangkan Amara terus mencuri pandang saat Jackson sempat melihat kearah Amara. Lelaki itu seperti tersenyum melihat bagaimana persembunyiannya selama ini berjalan sempurna.
"Besok-besok kalau kamu mau antar aku pulang jangan bawa benalu di mobil. Kamu tidak takut nanti benalu setiap kamu bawa selalu membawa bencana." kata Alice sesekali melirik Amara dari kaca spion, mendengar sindiran yang diberikan Alice membuat Amara tidak terima.
"Maksud kamu apa Alice. Kamu menuduhku benalu dalam rumah tangga kalian."
"Kenapa kamu marah? Kamu merasa kalau kamu itu benalu? Kalau kamu merasa kenapa terus menjadi benalu dalam rumah tangga orang. Kamu tidak punya kehidupan lain selain menjadi benalu orang lain." tutur Alice membuat wajah Amara seketika memerah.
Memerah akibat menahan kesal saat mendengar ucapan Alice, Jackson menggeleng saat melihat Amara ingin membalas perbuatan Alice. Mungkin malam ini Alice menang tapi suatu saat dialah yang menang.
"Sayang, kamu istirahat duluan aja. Aku mau antar Amara pulang sekalian mau bahas urusan kantor, gak apa-apakan kamu ditinggal sendiri." kata Jackson melihat kearah Alice yang kini sibuk melepaskan sabuk pengaman.
"..." Alice tidak peduli mereka mau berbuat apa dibelakangnya, yang terpenting tujuannya untuk menghancurkan mereka berdua.
Tinggal menunggu waktu yang tepat barulah dia yang melawan, mungkin bukan sekarang waktu yang tepat untuk melawan mereka. Tapi suatu saat dia yang akan menang dalam permainan yang kini mereka lakukan.
Melihat Alice sudah pergi Amara pindah tempat, dia duduk di kursi depan sambil memeluk lengan Jackson dengan bersandar di pundak Jackson.
"Sayang, apa istri kamu tidak curiga kamu bicara seperti itu." ucap Amara tanpa menatap Jackson.
"Buat apa dia curiga, bukannya dia sangat mencintaiku seharusnya dia tidak tahu hubungan kita ini. Aku harap dia tidak tahu semuanya, jadi kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan." urai Jackson dengan mengelus rambut Amara, membuat kekasihnya merasa nyaman saat di dekatnya.
Mungkin mereka pikir Alice bodoh, dulu pemilik raga ini sangat bodoh sudah mencintai pria seperti Jackson. Tapi sekarang dirinyalah yang menempatkan tubuh Alice, mungkin tinggal menunggu waktu untuk membalas perbuatan mereka berdua.
"Jalani saja perselingkuhan kamu Jackson, aku tidak akan tinggal diam kamu menyakiti Alice. Aku akan membuat kamu hancur secara perlahan sampai kamu benar-benar merasakan apa yang dirasakan Alice." batin Aurora yang kini sudah berada diruang kerja Jackson, di sana dia sibuk memandangi foto Jackson.
Mereka berdua tersenyum bahagia saat keduanya tiba di rumah, mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan mengunci pintu tersebut. Amara melangkah menuju lemari yang berisi banyak minuman, satu minuman dan gelas sudah berada di tangan.
__ADS_1
Wanita cantik dan seksi itu melangkah menghampiri Jackson yang sibuk duduk di sofa, lelaki itu memejamkan mata menggunakan satu tangan itupun membuat Amara tersenyum melihat ketampanan Jackson.
"Maaf ya aku buat kamu kesusahan. Pasti kamu capek datang ke sini sehabis pulang kantor, apalagi kamu sempat jemput istri kamu." ucap Amara yang sibuk menuangkan minuman ke dalam gelas, Jackson membuka mata saat melihat kekasihnya sudah memberikan minuman.
Jackson meneguk minuman itu dengan satu tegukan, satu gelas yang sudah diisikan minuman habis. Amara kembali mengisi gelas kosong itu, membuat Jackson tersenyum saat gelas yang awalnya kosong terisi kembali.
"Minum yang banyak sayang, aku tahu kamu kelelahan makanya aku ajak kamu minum supaya tubuh kamu terasa enak."
***
Lagi-lagi Jackson menghabiskan minuman kedua yang diberikan Amara, Amara meletakan gelas di meja begitupun gelas Jackson. Dia mulai melepaskan jaket yang ia kenakan di tubuh, wanita itu mulai naik ke atas pangkuan Jackson.
Amara tersenyum melihat wajah tampan Jackson, wajah yang membuatnya menjadi candu. Apalagi pria ini sudah menjadi miliknya, walau hanya sekedar wanita simpanan tapi tidak apa yang penting pria ini sudah menjadi miliknya.
"Gimana sayang apa tubuh kamu sudah merasa enakan?" tanya Amara membuat lelaki itu mengangguk.
"Sekarang kamu sudah mulai nakal ya. Biasanya kamu tidak berani melakukan hal nakal ini." ujar Jackson melihat bagaimana Amara sudah tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya.
"Karena aku melakukan ini untuk kamu seorang, jadi aku tidak bisa menahannya kalau tidak sama kamu."
Dan Amara mulai menyerang bibir Jackson dengan ganas, membuat pria yang berada di sofa mengikuti arahan yang dilakukan Amara. Kekasihnya ini terus melakukan apa yang mungkin dia inginkan, sampai ciuman itu mulai tertuntun rapih dan beriringan dengan suara kecupan yang begitu seksi di telinga mereka.
Ciuman yang mereka lakukan masih terus dilakukan sampai Amara melepaskan jaket yang dipakai Jackson, seluruh pakaian Jackson sudah dibuang kesembarangan arah. Membuat pakaian itu entah terletak dimana, begitupun dengan Jackson dia mulai membuka semua pakaian Amara.
Sekarang keduanya tidak memakai pakaian hanya terlanjang bulat, walau begitu Jackson masih menggenakan celana kantor. Ciuman panas kini turun ke leher jenjang Amara, Amara semakin mendesah hebat saat sentuhan yang dilakukan Jackson begitu nikmat.
"Augh... ahhh..." ******* yang kini diberikan Amara mampu membuat gairah panasnya semakin meningkat, apalagi saat suara seksi dan kulit mulus Amara mulai menggoda gairahnya sebagai seorang lelaki.
__ADS_1
Jackson mulai mencoba mengubah posisinya, sekarang posisi mereka berada di atas sedangkan Amara di bawahnya. Posisi inilah yang sangat dia sukai, apalagi Amara mulai memainkan taktik nakal untuk membantu mengikuti irama yang kini dia ambil ahli.
Tenaga yang dimiliki Jackson seperti tenaga yang bukan milik Jackson, seakan-akan pria ini bukanlah Jackson melainkan orang lain. Karena tenaga yang diberikan Jackson membuatnya kewalahan, apalagi saat ini tubuhnya terasa digagahi secara langsung.
"Ahh... Jackson pelan-pelan~" desis Amara saat merasa Jackson mulai memperdalam kegiatan panas ini, kegiatan panas yang mungkin akan dilakukan sampai pagi.
Jackson sempat menghentikan kegiatan panas saat dia menatap wajah Amara, "Kamu suka dengan sentuhanku?"
Dengan wajah sayu Amara hanya bisa mengangguk, sungguh dia sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Sentuhan yang diberikan Jackson sangat nikmat, apalagi Jackson mulai mengagahi tubuhnya secara langsung tanpa pelan-pelan.
Permainan kasar yang dilakukan Jackson membuatnya terbuai, apalagi pria ini seakan tahu bagaimana kebutuhannya. Walau begitu dia sangat menyukai kegiatan panas ini.
Tanpa bertanya kepada Amara Jackson mulai melanjutkan kegiatan panas yang sempat berhenti, Amara mulai terbiasa dengan rasa sakit yang diberikan Jackson. Rasa sakit itu sudah menjadi rasa nikmat, karena Jackson sangat pandai bermain dalam hal ranjang.
Keesokan paginya Amara lebih dulu terbangun, dia merasa tubuhnya begitu sakit karena habis dihantam oleh Jackson. Tetapi pria itu seakan tidak memiliki rasa sakit setelah melakukan hubungan seksual dengannya.
Amara membalikan tubuhnya saat melihat wajah tampan Jackson yang tertidur, wajah tampan itu sudah menghipnotis dirinya menjadi seperti ini. Walau Jackson sudah memiliki seorang istri tapi baginya pria ini seperti masih lajang tidak kelihatan tua.
"Morning Honey." sapa Jackson dengan manis, saat dia melihat kekasihnya sibuk memandangi wajahnya.
Jackson kembali mencium bibir Amara dengan lembut tidak sekasar kemarin, mungkin ciuman ini terasa candu untuk mereka berdua. Apalagi mereka sudah melakukan hal seperti ini saat berdua saja.
"Gimana tidur kamu apa ada yang sakit?" tanya Jackson setelah melepaskan ciuman.
"Tidak ada. Mungkin aku kelelahan aja setelah digempur habis-habisan sama kamu." jawab Amara dengan tersenyum, membuat Jackson mengelus pipi tirus Amara.
"Maaf ya sayang aku melakukannya kasar, aku tidak tahan kalau tidak melakukannya. Kamu tahukan aku mana bisa main dengan lembut, seperti ada yang kurang kalau bermain lembut." kata Jackson yang masih memandangi wajah Amara.
__ADS_1
"Nggak apa-apa sayang lagian aku suka dengan sikap kasar kamu kemarin malam." perkataan Amara membuatnya tersenyum senang, dia kembali mencium kening Amara sebelum dia berangkat ke kantor.