
"Ka-kamu yang membawaku ke kamar?" tanya Alice menatap Jackson yang sibuk meletakan sarapan.
"Memangnya siapa lagi kalau bukan saya." Jackson memberikan bubur hangat itu ke pangkuan Alice, Alice yang melihat sikap Jackson hanya bisa menatap bingung.
Ini pertama kalinya melihat Jackson bersikap manis seperti ini, dia sudah mengenal pria di hadapannya ini dari pemilik tubuh yang kini dia tinggalkan. Dulu Alice si pemilik tubuh ini berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Jackson, mungkin sudah bertahun-tahun mendapatkan perhatian itu kini pria itu memberikan sikap manis terhadap Alice.
Entahlah apakah memang perhatian ini untuk pemilik tubuh atau memang untuknya, Jackson yang merasa Alice hanya menatapnya saja tanpa ada tanda-tanda untuk sarapan.
"Ada apa? Kamu kenapa menatapku seperti itu." kata Jackson membuat lamunan Alice sirna, Alice dengan cepat menggeleng dan melahap sarapan yang dibuat Jackson.
"Selesai dari kantor saya langsung pulang." ucap Jackson membuat Alice menghentikan sarapan.
"Tumben banget ini cowok mau pulang, apa dia lagi kesambet sampai pulang ke rumah. Biasanya Jackson sibuk dengan Amara tanpa memperdulikan Alice." batin Aurora masih melihat kearah Jackson, pria itu kini sibuk memandangi handphone yang sudah berdering.
"Lice kamu denger ucapanku, kan?" Alice mengangguk cepat saat lelaki itu kini menatapnya.
Pria yang kini awalnya duduk di atas ranjang bersama dengannya, sekarang sudah berdiri sambil menyimpan kembali handphone itu. Lalu lelaki itu tersenyum sambil menyentuh puncak kepalanya.
"Yasudah kalau gitu saya ke kantor dulu. Kamu hati-hati di rumah, kamu hari ini jangan kerja dulu saya gak mau kamu kenapa-napa. Tunggu saya pulang nanti saya kembali bawa sesuatu untuk kamu." ucapan Jackson membuat Alice tidak bisa bicara apa-apa lagi, dia hanya menjawab dengan anggukan saja.
Walau begitu dia juga bingung kenapa pria ini berubah secepat itu, apa semalam pria ini ketiban sesuatu sampai amnesia. Atau memang otaknya lagi kumat aja sampai bersikap manis terhadap Alice.
Yang lebih parahnya lagi kepergian Jackson membuat Aurora tidak bisa bergerak sama sekali, saat merasakan bibir lelaki itu menempel di keningnya. Alice menyentuh keningnya saat mengingat bagaimana Jackson menciumnya tanpa memiliki rasa bersalah.
"Sadar Aurora! Sadar. Kamu di sini untuk balas dendam bukan jatuh cinta dengan pria itu, ingat kamu bukan Alice melainkan Aurora." Aurora dengan cepat menggeleng saat perkataannya itu membuatnya semakin menggila.
__ADS_1
Gimana bisa dia jatuh cinta dengan seorang Jackson yang notabenenya suami dari pemilik tubuh ini, sedangkan dia hanya masuk ke tubuh Alice untuk membantu balas dendam wanita itu. Tapi entah kenapa malah dia yang baper dengan sikap Jackson.
Amara yang melihat kedatangan Jackson segera menghampiri pria itu, dia memberikan sebuah ciuman tepat dibibir Jackson. Amara melepaskan ciumannya saat merasa kalau Jackson tidak membalas ciuman yang dia berikan.
"Sayang kamu kenapa gak balas ciuman dariku." protes Amara saat tidak mendapatkan jawaban dari Jackson, dia melihat pria itu segera duduk di kursi kerja.
"Ish! Sayang kamu ini kenapa diam aja." ucap Amara kembali dengan perasaan kesal, tetapi Jackson tidak peduli dengan Amara.
Dia malah mengingat adegan dimana dia mencium kening Alice, kejadian itu diluar dugaannya saat melihat wajah Alice yang begitu cantik. Apalagi saat tidur bersama dengan wanita itu, dia merasa nyaman saat tangan Alice memeluk tubuhnya.
Amara yang melihat sikap kekasihnya berubah kesal dia tidak tahu Jackson lagi memikirkan apa sampai pria itu senyum-senyum sendiri, "Sayang."
Jackson tersadar saat mendengar suara Amara yang mengganggunya, "Ini masih pagi Amara kamu kenapa teriak-teriak. Kamu pikir ini hutan yang seenaknya main teriak."
***
Amara yang merasa dicuekin bergegas pergi, dia mulai merasa kalau sikap Jackson mulai aneh. Dulu pria ini selalu membalas apa yang dia lakukan, tapi barusan pria itu malah tidak membalas apapun mengucapkan kata-kata romantis saja tidak.
"Ish!! Sebenarnya Jackson lagi mikirin apa coba, apa jangan-jangan Jackson sedang mikirin Alice wanita sialan itu. Kalau memang Jackson memikirkan Alice lihat saja aku akan merebut Jackson kembali." batin Amara dalam hati saat tubuhnya sudah diselimuti dengan amarah.
Alice memang tidak diperbolehkan bekerja tetapi dia masih bekerja di rumah menggunakan laptop, wanita itu sangat sibuk mengetik dengan jari lentik yang kini sangat lihai di keyboard laptop tersebut.
Selama Alice sibuk bekerja dia mendengar suara handphone berbunyi, Alice menghentikan pekerjaan dan fokus suara handphone. Di sana dia melihat ada satu notifikasi pesan dari Jackson, pria itu memberikan sebuah pesan mengenai keadaannya.
Yang paling merinding saat melihat kalimat yang diketik oleh Jackson, "Pria ini sudah gila ya. Kenapa memberikan pesan seperti orang sedang jatuh cinta, apa dia tidak punya pekerjaan lain selain mengirimkan pesan menjijikan ini."
__ADS_1
Aurora merasa risih dengan pesan yang terus dikirim Jackson suami dari pemilik tubuh ini, dia tidak habis pikir kenapa pria ini sedikit gila dari biasanya. Diseberang sana Jackson yang sedang menunggu pesan dari Alice terus memperhatikan handphone, tanpa pria itu sadari dari luar jendela ruangan terdapat Amara yang menatap curiga.
Curiga terhadap kekasihnya itu, dari kejauhan Amara sudah menebak kalau Jackson sedang menunggu seseorang. Buktinya saja pria itu sibuk memandangi handphone dari pada memandangi berkas pekerjaan.
"Ish! Sebenarnya Jackson lagi lihat apa sih sampai fokus begitu, lagian kenapa dari tadi pria itu terus tersenyum atau jangan-jangan Jackson lagi sibuk chating sama Alice. Kalau gitu aku tidak bisa tinggal diam, aku harus melakukan cara untuk membuat Jackson kembali kepadaku." batin Amara terus memperhatikan Jackson dari jauh.
"Sayang, kamu jadikan antar aku ke salon." ujar Amara yang melihat Jackson keluar dari ruangan, dia juga sempat menatap sekitar takutnya ada orang yang mendengar dan melihat mereka berdua.
Jackson melirik Amara, "Maaf Amara saya masih banyak pekerjaan, lebih baik kamu saja yang ke salon sendiri. Lagian kamu terbiasa sendiri bukan jadi saya tidak bisa antar kamu."
"Tapi Jackson kamu sudah janji sama aku." kali ini Amara berusaha membuat Jackson ikut dengannya, karena dia tahu habis ini pasti Jackson akan menemui Alice.
Jackson yang melihat tangannya digenggam oleh Amara segera melepaskan tangan itu, "Jaga sikap kamu Amara kita masih di kantor nanti ada orang yang melihat bagaimana."
Amara melepaskan genggamannya saat Jackson terlihat risih saat Amara menempel, "Lagian kamu nolak ajakan aku. Baru kali ini kamu tolak ajakan aku biasanya kamu mau mengikuti kemauan aku."
"Itu dulu tapi sekarang saya tidak bisa, istri saya lebih butuh saya dari pada kamu. Sekali lagi saya minta maaf tidak bisa antar kamu ke salon."
Jackson pergi begitu saja tanpa memikirkan perasaan Amara, wanita itu yang dulunya dia utamakan menjadi diabaikan. Karena sekarang prioritasnya hanyalah Alice istrinya sendiri.
Amara yang melihat kepergian Jackson merasa kesal dengan sikap Jackson, jujur ini pertama kalinya Jackson menolaknya. Biasanya pria itu tidak pernah berani menolak apapun yang dia inginkan, tapi sekarang pria itu mulai berani menolaknya.
Cuman gara-gara wanita sialan itu, seharusnya dari dulu dia membunuh wanita itu saja tanpa dibiarkan hidup. Kalau seperti ini dia jadi kesusahan untuk mendapatkan Jackson, tapi tak apa masih ada keluarga Alice yang bisa dia manfaatkan.
"Lihat saja kamu Alice saya akan membalas perbuatan kamu, saya akan membuat kamu menderita seperti apa yang saya lakukan dulu." batin Amara dengan marah.
__ADS_1