Pembalasan Wanita Mematikan

Pembalasan Wanita Mematikan
Sebuah Rencana Mematikan


__ADS_3

Neo sudah bertekad untuk merebut Alice kembali, dia ingin menghancurkan Jackson supaya pria itu sadar kalau sikapnya sudah keterlaluan.


Neo melihat Alice sudah datang, wanita itu datang untuk menghampirinya dengan pakaian yang sudah dia berikan. Wanita itu duduk dengan mengambil segelas air putih, Neo tidak menyapa ataupun bicara. Ia hanya membiarkan Alice menenangkan diri, supaya wanita ini melupakan apa yang terjadi.


"Kamu yakin mau berangkat kerja?" ucap Neo yang melihat Alice yang sibuk sarapan dengan roti bakar.


"Ya. Aku harus melakukan kesibukan supaya aku tidak lagi memikirkan Jackson, aku tidak mau hidupku menderita saat mereka sudah menghancurkan perasanku Neo. Aku mau membalas perbuatan mereka mulai sekarang, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas perbuatan mereka." kata Alice yang sebenarnya ide yang awalnya sudah ia rencanakan tiba-tiba menghilang.


"Bagaimana aku bantu kamu untuk membalas perbuatan mereka berdua." timpal Neo membuat Alice menatap.


"Kayanya kamu tidak usah membantuku Neo, aku tidak mau kamu terlibat dengan masalahku."


Neo menyentuh punggung tangan Alice dengan lembut, "Lice, aku tidak mau melihat kamu sedih seperti kemarin. Jujur saat melihat kamu seperti itu hatiku sakit, aku mohon sama kamu izinkan aku membantu kamu untuk membalas perbuatan mereka berdua."


Aurora seketika sadar kalau dirinya sudah menjadi bagian dari Alice, raga yang awalnya masih ada jati dirinya sudah teralihkan oleh Alice.


"Baiklah." jawab Alice membuat Neo tersenyum.


Karena Alice sudah memberikan persetujuan dan mulai sekarang balas dendam ini akan dia lakukan, merebut Alice bukan lagi untuk sebuah rencana melainkan ia bersungguh-sungguh untuk merebut secara nyata.


Neo berjalan beriringan dengan Alice, semua karyawan di kantor seperti mengira kalau hubungan Neo dengan Alice seperti pasangan kekasih bukan lagi seorang atasan dan bawahan.


"Sayang apa kemarin kamu tidak keterlaluan dengan Alice. Aku rasa istri kamu itu sakit hati dengan perilaku kamu, aku tidak mau dia membenci kehadiranku." ucap Amara saat dia lagi sibuk memperbaiki dasi.


"Biarkan saja. Aku kesal dengan dia, bukannya ngajarin kamu masak dengan benar malah rasanya tidak sesuai dengan ekspektasi ku." Jackson menatap Amara saat dasi sudah selesai dibetulkan, keduanya saling menatap satu sama lain dengan Jackson memberikan sentuhan di wajah Amara.


Jackson terus menyentuh wajah Amara, entahlah kecantikan Amara semakin tiga kali lipat dari biasanya. Mungkin karena dia sadar kalau dirinya masih membutuhkan Amara dibandingkan Alice.


Saat Jackson ingin mencium Amara tiba-tiba saja handphone yang berada di saku celana berdering, Jackson melihat siapa yang mengganggunya. Dan ia mendapatkan sebuah pesan dari orang kepercayaannya, orang kepercayaannya mengatakan kalau dia sudah mendapatkan orang sebagai pengganti Amara.


Ia sempat meminta Amara untuk berhenti bekerja, karena dia mau Amara tetap di rumah dan menyambut ia pulang kerja. Dan sekarang orang kepercayaannya sudah mencari pengganti Amara sebagai sekretaris barunya di kantor.


"Siapa?" tanya Amara yang penasaran siapa yang menelpon Jackson.

__ADS_1


"Ini Revan orang kepercayaanku. Dia bilang kalau dirinya sudah mendapatkan pengganti baru kamu sebagai sekretaris pribadi aku di kantor."


"Pria atau wanita." ucap Amara kembali membuat Jackson menatap, apa sekarang Amara sedang mencurigainya sampai-sampai dia menanyakan hal itu.


"Wanita." balas Jackson yang menyimpan kembali handphone tersebut.


"Wanita? Kenapa tidak laki-laki saja yang sebagai pengganti aku, kenapa harus wanita. Aku tidak mau ada wanita lain yang menggantikan posisi aku." kata Amara yang menolak sekretaris baru yang baru saja dicari Revan.


Jackson menatap Amara membuat Jackson terkekeh melihat tingkah Amara, "Sayang dengerin aku ya. Dia tidak akan bisa menggantikan posisi kamu, kamu tetap menjadi utama di hidupku malah aku lebih menyukai kehadiran kamu dari pada Alice."


"Tapi aku takut kalau nanti kamu memilih dia dari pada aku." balas Amara yang fokus melihat wajah Jackson, sedangkan lelaki itu tersenyum dengan menyentuh wajahnya.


"Kamu tenang aja aku tidak akan seperti itu, kamu jangan berpikir macam-macam lagi. Sampai kapanpun aku tetap memilih kamu."


"Baiklah."


***


Sejujurnya Amara merasa takut kalau Jackson akan memilih wanita lain, kejadian dimana Alice di marahin dengan Jackson adalah perbuatannya. Karena dia tidak mau siapapun bersanding dengan Jackson, hanya dirinyalah yang bisa mendapatkan Jackson.


Pelaku utama yang memberikan wanita cantik dan seksi adalah Neo, dia mendapatkan wanita untuk membantu melakukan pekerjaannya. Selama wanita itu bisa bekerja sama dengannya, maka uang akan mengalir di tangan wanita itu.


Sedangkan wanita bayaran Neo, sudah berada di kantor milik Jackson. Target utama adalah pemilik perusahaan tersebut, sebelum memulai rencana Neo sempat bernegosiasi dengan Alice. Setelah wanita itu setuju barulah Neo bisa menjalankan misi.


"Gimana apa kamu sudah tiba di sana?" tanya Neo yang sibuk menghubungi wanita bayaran.


"Sudah bos. Saya sudah di tempat tujuan, bos tenang aja saya akan melakukan rencana saya."


"Bagus. Kamu harus ingat jangan sampai orang luar tahu rencana kamu dan tujuan kamu datang ke kantor itu." kata Neo yang sibuk dengan handphone, sedangkan Alice diam memperhatikan Neo.


"Baik bos. Saya tutup dulu bos pemilik perusahaan sudah datang." akhirnya panggilan mereka selesai membuat Alice penasaran dengan percakapan mereka berdua.


"Gimana?" tanya Alice membuat lelaki itu melangkahkan kaki kearahnya.

__ADS_1


"Kamu tenang aja semuanya akan baik-baik aja, dia dengan senang hati membantu kita. Kamu duduk manis aja anggap semuanya tidak terjadi apa-apa." ucap Neo membuat Alice mengangguk pelan, lalu Alice kembali minum.


Sedangkan Jackson sudah tiba di kantor disambut oleh orang kepercayaannya, kedua lelaki itu melangkah keruangan Jackson. Di sana seorang wanita sudah menunggu kedatangan Jackson, saat orang kepercayaannya membuka pintu.


Dia sempat terkejut melihat wanita cantik dengan body yang aduhai, dia senang mendapatkan sekretaris seperti wanita itu tapi dia takut kalau nanti Amara akan ngamuk-ngamuk kalau sampai tahu bentuk tubuh wanita ini sangatlah sempurna.


"Halo pak. Selamat pagi!" sapa wanita itu yang segera berdiri menyambut kedatangan Jackson, wanita itu juga sempat memberikan tangan untuk menjabat tangan pemilik kantor ini.


"Selamat pagi. Kamu sudah menunggu lama?" Jackson berjalan menuju tempat duduk, dimana Jackson menatap dan melihat dengan detail body yang dimiliki sekretaris barunya.


"Tidak begitu lama pak." Jackson mengangguk dan memberikan sebuah pertanyaan untuk sekretaris barunya.


Nama wanita ini adalah Lyona, namanya saja sangat indah bukan. Itulah yang ingin diucapkan olehnya, tapi dia tidak mungkin bicara seperti itu.


"Apa kamu punya pengalaman sebelumnya?" Jackson menatap Lyona saat tatapan matanya melihat berkas lamaran wanita ini.


Lyona menjelaskan secara detail tentang dirinya, dan dia juga menjelaskan bagaimana dia tertarik dengan perusahaan ini. Jackson dibuat tertarik dengan Lyona, tidak hanya cantik wanita ini ternyata pintar.


Mungkin kalau bisa dibandingkan dengan Amara, tidak sebanding dengan Lyona. Dia sangat menyukai sikap wanita ini dan kecerdasan yang dimiliki Lyona.


"Baiklah, mulai sekarang kamu sudah bisa bergabung di kantor saya." kata Jackson membuat wanita itu tersenyum.


"Terima kasih pak." Jackson meminta orang kepercayaannya mengantar Lyona keruangan baru, di sanalah wanita itu bekerja.


"Ini tempat kerja kamu Lyona. Kalau kamu tidak suka dengan ruangannya nanti kamu bisa bilang aja, saya akan melakukan apapun yang kamu perintahkan." ujar orang kepercayaan Jackson yang memandangi Lyona.


Wanita itu malah sibuk memperhatikan design ruangan yang akan ditempatinya lalu Lyona kembali menatap orang kepercayaan Jackson, "Mohon maaf pak kalau saya banyak komplain, apa saya bisa mengubah ruangan saya ini menjadi baru. Menurutku ruangan ini sudah cukup bagus, tapi aku rasa ada sedikit yang harus aku perbaiki."


"Oh tentu. Kamu mau yang seperti apa?" Revan mengangguk setuju dengan permintaan Lyona, ia akui kalau wanita ini sangat pandai segalanya.


Dia saja sudah tertarik dengan Lyona, sudah cantik, cerdas dan memiliki banyak wawasan. Dirinya saja kalah dengan wanita seperti Lyona.


"Pantas bos saya suka dengan kamu, saya akui kamu sangat luar biasa. Kamu cocok bekerja di perusahaan ini, semoga kedepannya kamu betah di perusahaan ini ya."

__ADS_1


"Baik pak terima kasih banyak." Lyona tersenyum menatap kepergian Revan, pria itu sudah cukup menghilang dari pandangannya.


__ADS_2