Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Kematian Damian


__ADS_3

Meski katanya akan menjadi pasanganku di masa depan, tapi kalau dirawat oleh gadis muda begini, apalagi murid ku sendiri rasanya agak...


Benar, aku benci semua yang ada di dunia ini, seorang yang pesimis, aku menjadi guru hanya untuk menyambung hidup, itu saja.


“Permisi! Selamat pagi!”


Seseorang memekik dari pintu depan, membuat kami yang sedang menikmati makan pagi jadi terkejut, aku bahkan hampir tersedak. Jarang sekali ada orang yang mengunjungi rumah, apalagi pagi-pagi sekali seperti ini. siapa?


Elia berdiri dari kursi dan pergi keluar, tetapi aku juga ikut penasaran, jadi aku mengikutinya.


Seorang kurir paket berdiri di depan, lalu mengeluarkan sepucuk surat dari tasnya, “Ada surat untuk tuan Damian Toma.”


“Untukku?” kataku, lalu kuambil surat itu dari tangannya.


Elia yang tak cukup pandai menyembunyikan rasa ingin tahunya, lantas menarik sedikit lengan kemejaku, “Dari siapa?”


Aku membisu, saat ku balik surat itu untuk melihat nama pengirimnya. Ternyata dari ayah. Setelah ku terima surat itu, kurir pergi dan kami kembali masuk ke dalam rumah. aku yang sudah kehilangan nafsu untuk melanjutkan makan pagi, langsung mengurung diri ke kamar. Sejujurnya aku penasaran dengan isi surat yang di kirim ayah. Terakhir surat yang ku terima darinya adalah saat dia mengatakan sudah melangsungkan pernikahan dengan Rinna. Dan sekarang berita apa yang ingin disampaikannya?


Ku sobek amplopnya lalu mulai ku baca tiap kalimat yang di tulisnya.


Pernikahan adik sepupu mu sudah di selenggarakan minggu kemarin, semua orang menanyakan kehadiranmu di sana. namun karena kamu memilih pergi dari keluarga Toma, dan sepertinya benar-benar tak memperdulikan ayah lagi.


Ayah merasa malu karena memiliki anak bodoh yang memilih tinggal di pegunungan di banding menjadi penerus keluarga. Sangat merusak hubungan keluarga yang bercitra baik, karena itu aku sebagai kepala keluarga Toma, demi menjaga citra keluarga dan nama perusahaan, ku putuskan untuk menganggap kamu telah tiada di muka bumi ini. itulah yang bisa kau terima, hanya ini lah satu-satunya bakti terakhirmu pada keluarga.


Bergetar sekujur tubuhku, hatiku pecah berkeping-keping saat ku baca surat darinya. Surat itu seketika jatuh dari genggamanku. Seakan aku tak memiliki sedikitpun tenaga walau hanya sekadar memegang sepucuk surat. Aku memang ingin mati, tetapi saat dia yang mengatakannya serasa leherku tertebas, dan nyawaku melayang saat itu juga. Seburuk itu kah aku di matanya? Tetapi apakah ayah pernah memahami diriku?


Dia bicara seakan semua adalah kesalahanku, dari kecil dia tak pernah memperhatikan aku sebagai putranya, aku menerima itu. Bahkan dia memilih menikah lagi, tidak kurang dari empat puluh hari sejak kematian ibu. Untuk apa? Karena ia haus kehormatan, haus kasih sayang dan perhatian sedangkan dia enggan memberikan itu semua bahkan pada putranya sendiri. Bagi ayah, aku ini lahir hanya untuk meneruskan perusahaan. Tidak lebih.


Ku rasa tuhan mengabulkan doaku untuk mati dalam waktu dekat. Terima kasih ku ucapkan pada nasib buruk kelahiranku. Aku bangga dengan diriku yang sekarang, semakin pesimis dan tak perduli lingkungan luar.


Sejak kedatangan surat itu, aku terus berdiam diri di kamar. Aku bahkan tak berangkat mengajar, termasuk memberi kelas tambahan pada Elia. Hanya membisu, mengurung diri, dan berbaring. Persis seperti yang di katakan ayah, aku telah tiada di muka bumi ini. mati...


“Pak Damian, makan malamnya sudah siap. Aku membuat sup pangsit, cocok untuk menghangatkan tubuh.”


“Pak Damian sangat menyukainya, kan?”


“Pak Damian?”


Elia terus memanggil namaku dari luar, dia mengetuk pintu kamar berulang kali. Namun, aku memilih diam, tolong pergilah Elia, Pergilah!

__ADS_1


“Pak Damian tidak keluar seharian, belum makan. jangan begini aku sangat khawatir.” Katanya dengan suara lirih.


“Pak Damian, tolong jawab aku.”


“Aku ingin sendiri, El.”


“Tapi, pak Damian masih belum makan.”


“Tolong biarkan aku sendiri! Pergilah!” kataku menegaskan. Nada bicaraku sedikit tinggi, sehingga Elia langsung terdiam. Mungkin aku melakukan hal yang sama seperti saat awal-awal dia di sini.


Akhirnya bunyi tangannya yang mengetuk pintuku menghilang, begitu pula dengan suara mulutnya yang terus memanggil namaku; pak Damian...Pak Damian... sangat memuakkan.


Di bawah cahaya lampu kamar yang remang-remang, aku terus memandangi sinarnya. Aku larut dalam perasaan tak karuan hingga tak kusadari ternyata hari sudah malam, Pantas Elia cemas.


Mataku jadi sangat segar, tak ada kantuk sama sekali yang datang. Mengapa surat ayah sangat mengganggu pikiran dan perasaanku, aku merasa begitu terluka saat dia menganggapku telah tiada. Padahal aku sudah terbiasa hidup tanpanya dan aku sudah terbiasa meutup diri tanpa ada gangguan dari orang lain, mungkinkah karena aku masih mengharapkannya?


Sungguh, kepalaku sangat pening, mual, dan sangat lemas. Sepertinya aku... tidak bisa tidur lagi. Sayup-sayup suara cicak dan burung masuk ke telingaku, ku rasa hari sudah semakin larut. Tidak ada Elia yang tidur di kasur bawah. Dia tidur di kamar pertama yang ku berikan padanya. Maaf Elia, aku merasa gagal pada diriku sendiri.


Ceklek


Aku mendengar pintu kamarku terbuka, ada langkah kaki seseorang masuk.


“Permisi pak Damian, aku bawakan makanan. Kalau benar-benar tidak makan dari tadi, nanti bisa sakit.”


aku tidak bisa menjawabmu, tubuhku berat sekali Elia. Aku tidak lapar, tapi aku kepanasan, sangat tidak nyaman. Aku kesulitan bernafas, hingga kemudian ada tangan lembut yang menyentuh keningku. Tangannya sangat dingin sehingga menyejukkan ku. Seketika itu pula, baru kurasakan kesejukannya, tangan itu malah pergi, dan bunyi langkah kakinya sangat kuat, seperti seekor kuda yang berlari cepat.


Aku membuka mataku perlahan, saat tak lama kemudian ada kain basah yang menempel di keningku. Penglihatanku sedikit kabur, tapi aku bisa melihat sosok Elia, istri kecilku. Ini kamu sungguhan kan? Atau hanya khayalanku saja.


“Jangan Khawatir Pak Damian, pasti akan segera sembuh.”


Hari ini jadi sangat berat, lebih berat dari biasanya. Dan Malam semakin kelam tenggelam dalam kesunyian tak berbintang, masih membekas dengan jelas kalimat yang di tulis oleh ayah. Ku akui dengan tegas, bahwa aku sangat sakit karenanya. Aku masih mengharapkan keluarga, aku masih mengharapkan perhatian ayah. Memangnya siapa yang terima jika orang tua nya se-egois kamu?


Orang yang sudah mati, jangan coba-coba menyentuhku. Berkatmu pernikahan ku dan Rinna berjalan lancar, belum lagi jika Rinna hamil dan memiliki anak, aku tak perlu repot membagi warisan untuk kalian. Biar dia yang ambil alih, biarlah kamu enyah dan mati dalam kesendirian. Anak tidak berguna. Sungguh kebahagiaan kami akan sangat indah.


Ku buka paksa kedua mataku, aku tak mau terbayang terus. Berhentilah ayah, jangan menghantui pikiranku juga.


“Mati..”


“Aku ingin mati.”

__ADS_1


“Pak Damian!”


“Benar, seharusnya aku memang mati. Tak ada lagi yang bisa di harapkan lagi dari hidupku, dan tak ada yang mengharapkan ku. Sial, aku juga ingin menghilang, tahu.”


“Sebaiknya, tidur dulu lagi pak Damian.”


Elia... mengapa kamu menatapku begitu? Menatapku begitu iba. Jangan kasihan padaku Elia. sebab, yang perlu di kasihani di sini adalah kamu sendiri, bukan aku. Kamu terpaksa menuruti perintah ayahku yang tidak masuk akal, untuk menjadi pengantin seorang guru yang terbuang.


“Elia, maafkan aku. Kamu jadi ikut terlibat. Lihat, berapa banyak orng yang akan bersedih kalau aku mati? Tentu tidak ada yang menganggapku penting. Ha ha ha!” aku terlihat sangat payah, tertawa hanya sekadar untuk menenangkan diri. Jadi, bagaimana caranya aku mati? Gantung diri, tenggelam, atau minum racun? Mati membawa dendam sambil melihat dunia. Benar-benar cocok untukku.


Puuk puk puk


Elia menepuk kedua pipiku, hingga ku alihkan pandangan kembali menatapnya. Matanya yang coklat menatapku tegas, seperti memancarkan kemarahannya atas ucapanku.


“Apa ada yang lucu?”


“Menurutku tidak ada satupun yang lucu dari ucapan pak Damian!”


Ku tepis tangannya, aku tak mampu menahan melankolia, “Kalau tidak tertawa, aku susah melampiaskannya.” Aku diam sejenak mengambil nafas, mataku menoleh ke arah surat yang ku letakkan di atas meja. “Ayah kandungku mengatakan bahwa aku sebaiknya mati.”


Tap


Elia meletakkan jarinya di bibirku, sehingga aku menghentikan ucapanku, “Jika memang ucapan mu bisa membuat mu menangis, maka berhentilah! Jangan lagi diucapkan.”


“Meski diberitahu hal yang sangat menyakitkan, untuk apa pak Damian menambah luka sendiri?”


Tatapan matanya membuat jiwaku bergetar, Elia lantas memeluk tubuhku. Dan kepalaku jatuh tenggelam dalam rengkuhan dadanya, “Tidak usah di tahan, luapkan saja biar lega. Tidak apa-apa. Kalau menangis bisa membuat tenang, maka menangislah.itu lebih baik dari pada terus berputus asa dan menyerah untuk hidup.”


Dia menggosok punggungku lembut, sehingga hatiku jadi sedikit lebih tenang. Aku tak mampu menahan kesedihan, air mataku membendung begitu dalam. manik bening itu keluar membasahi pakaian tidur Elia.


“Sudah-sudah, pasti berat, ya? Tidak apa-apa.”


Untuk kali ini saja, jangan lepaskan dekapanmu Elia. Biarkan aku memelukmu juga, aku ingin menangis di bahu yang tepat. Di kesunyian malam yang damai, Ku peluk erat tubuhnya tak ingin ku lepas...


...****************...


Haloo.. ini author 🙋


Ini sudah bab ke 10 cerita pasangan pengantin, guru dan siswi hehe. tidak terasa sudah sampai sini ya perjalanan kita, terimakasih sudah mendukung kami selalu kak (´༎ຶ ͜ʖ ༎ຶ `)♡

__ADS_1


author mohon maaf bila di "Pengantin 18 Tahun" ini, banyak terdapat kekurangan. harap di maklumi ಥ_ಥ


akhir kata author ucapkan salam kenal, dan mohon dukungannya selalu kak. bahagia selalu... author mencintai kalian semua..


__ADS_2