
Rumah tangga ini memanglah baru berlayar, aku dan Elia sepakat untuk menjadi Nakhoda nya. beberapa bulan bahtera cinta ini berputar di luasnya arus kehidupan, angin badai selalu datang mulai dari masalah hati, ekonomi, hingga badai keluarga. semua sudah kami lalui dan hadapi. dengan segala permasalahan hidup itu, tek pelak kami adalah figur bagi manusia yang penuh gusar dan masygul.
sama seperti pasangan lainnya, tak semua berjalan mulus. bahkan ada juga yang hubungannya di tentang, orang tua tidak setuju, di jodohkan dengan orang lain, hadirnya orang ketiga atau tak kunjung di karuniai keturunan. dan kami sekarang menghadapi yang demikian. pernikahan kami tak mendapat restu, bagi ayah pernikahan kami hanya nikah paksa yang sementara. bukan suatu ikatan sakral yang berlangsung seumur hidup.
bicara tentang ayah, beliau memang tergolong manusia yang unik. kehidupan yang ia jalani tergolong begitu formal dan datar, ia begitu terikat dengan mitos mitos kepercayaan orang lama. tentang gender anak, tentang penghormatan dan kewibawaan. akan tetapi, semua itu tidak lantas menjadikan dia kepala dan pemimpin dungu yang menarik hanya karena kewibawaan dan karismatik nya. dia tahu, siapa pun mampu ia taklukkan dengan jiwa dan pikirannya yang tak kenal lelah memimpin dengan dua sayap; diktator dan kerja keras.
tetapi, dia tetap ayah... ayah yang membuatku ada di dunia ini.
aku tak sehebat dia. tapi, ku pikir aku tak ingin menjadi sepertinya, yang menganggap cinta hanya pemanis belaka. dan hari ini, aku tak ingin menjadi seperti dia, yang melewatkan cinta sejatinya begitu saja... aku akan menjemput jiwa ku yang sekarang berdiri di depan mata.
"Pak... ayah dan mama masih belum bisa menerima ku ya? aku tahu kita saling mencintai, tetapi restu orang tua itu juga penting. dan bagaimana kita bisa mendapat restu itu jika orang tua pak Damian pun enggan datang menemani?"
"Soal itu... " kataku menggantung kata-kata. hingga datanglah sambaran kata dari belakang sana.
"Maaf agak terlambat, aku sedikit kerepotan karna perut yang agak membesar."
Rinna datang dari belakang Vania dan Donny tak lama setelah kami sampai. dia berjalan tergopoh-gopoh sambil di bimbing dua orang yaitu bi Hera dan pak An.
"Mama?"
Rinna tersenyum dan setelah kedatangannya itu kami masuk ke ruang tamu Elia yang mungil dan rapi.
"Elia, maaf mama datang tanpa ayah. ayah masih di luar kota. bukan maaf untuk itu saja, mama juga minta maaf atas perlakuan mama yang kurang menyenangkan saat kamu datang. mama Minta maaf karena pernah menolak kehadiranmu secara halus, maaf karena kami belum menjadi mertua yang baik untukmu." Begitulah Rinna menjelaskan, aku sedikit terkejut, sebab ia menyampaikan begitu lugas namun juga lembut, kali ini aku tak melihat kebohongan ataupun niat jahat. aku merasakan ketulusan dari ucapannya.
"Mama menyesali kejadian ini, Damian tidak lah salah, mungkin maaf dari mu lebih cocok di pertaruhkan untuk mama dan ayah. mama tahu sudah sejauh apa kami merusak hubungan rumah tangga kalian, tapi, mama berharap ini belum terlambat. semoga kita dapat terus menjadi keluarga. mama memang sendiri, tapi tidak mengurangi niat untuk meminta maaf juga sebagai orang tua untuk menemani anaknya."
aku gemetar mendengar kebesaran hati Rinna yang tidak ku sangka, dia datang tanpa ku duga dan menyelamatkan kiamat ku yang hampir terjadi. hingga kini, tibalah saat istriku untuk memutuskan, apakah maaf darinya pantas untuk di berikan. apakah kami bisa bersama lagi?
__ADS_1
"jadi, Bagaimana nak? semua keputusan ada pada mu. ayah dan ibu tidak akan ikut campur, jangan pikirkan yang lain-lain. turuti saja apa kata hatimu." ucap ayah mertuaku yang duduk di seberang sana.
suasana agak hening sejenak, diiringi kedua tanganku yang saling beradu agar tidak mati rasa karena gugup.
"Aku memaafkan ma, aku ingin kita selalu bersama sebagai keluarga. pak Damian juga, aku minta maaf karena berbohong dan mengingkari janji yang kita buat. maaf, aku ingin kita kembali bersama-sama."
dia terisak, "Maaf karena pergi dari rumah, meninggalkan pak Damian sendirian."
hari terasa kian sunyi. angin bertiup mengitari ruangan ini, memberi sejuk di tengah ketenangan yang menghitam.
aku terharu, Rinna terharu, ayah dan ibu, juga Donny dan Vania. ku pandangi lagi dia. dia masih terisak dan mengusap air matanya dengan tangan. aku terharu, bukan oleh air matanya yang tengah kami saksikan, bukan pula oleh kecantikan dirinya yang sederhana namun menggetarkan, melainkan oleh kebesaran hatinya yang mau memaafkan dan meminta maaf dengan perasaan dan ekspresi yang murni dan rendah hati. rasanya aku tersayat bilah sembilu, sebagai penebusan dosa karena membuatnya menangis dan merasa bersalah.
"Syukurlah, Tuhan masih menghendaki kita bersama-sama. aku terharu dan sangat senang. semoga tak ada lagi masalah sulit yang datang. pernikahan dan hubungan keluarga ini dapat terus terjalin dengan langgeng."
demikianlah, peristiwa dramatis yang terjadi hari ini. akhirnya aku mendapatkan kembali hati Elia. dan Rinna, tidak. maksudku mama, mungkin semua belum tentu semudah ini jika tanpa kehadirannya yang meminta maaf secara tulus. untuk merayakan itu, kami makan bersama di rumah Elia, ayah dan ibu menjamu makan malam.
"Jangan pesimis terus, ingat kalau sudah begini susah kan? sampai bikin huru hara ke sana sini." bisik Donny padaku dengan nada mengejek.
aku tertawa geli, dan ku balas dia dengan berkata; "jangan lama-lama, ajak saja pacaran serius. nanti kena karma. bercanda-bercanda siapa tahu nanti malah jatuh cinta sungguhan. kapan lagi umbi sepertimu dapat bersanding dengan zamrud."
dia meninju perutku dengan sikutnya, dan kami kembali tertawa.
"Damian, aku pulang ya?! jangan pikirkan tentang ayah dan hutang mertuamu. biar aku yang urus. kamu dan Elia bagaimana? mau ikut atau... "
"kami akan tinggal di villa lagi, aku sudah mengumpulkan modal untuk kembali bertani, kebetulan ayah Elia juga mau membantu. beliau berpengalaman dalam dunia tani, aku akan belajar banyak darinya. jadi aku optimis bisa lebih maju dari sebelumnya."
"baiklah kalau begitu, syukurlah. kalau kamu dan Elia memerlukan bantuan, jangan pernah sungkan untuk menghubungiku."
__ADS_1
sebelum Rinna menjauh, aku masih ingin memastikan sesuatu hal yang memang sedari tadi ku tahan sendiri rasa penasaran itu.
"Kenapa, kamu mau datang ke sini dan membantuku?" kataku.
Rinna tersenyum menatapku, "Seperti yang kamu katakan, jika ayahmu belum bisa menjadi orang tua yang baik untukmu, maka kamu masih punya ibu yang akan terus mendampingi mu. mau bagaimana pun, kamu itu juga putera ku kan?"
aku terdiam bahkan hampir terisak, mendengar suaranya yang menganggap ku sebagai anak meskipun umur kami tidak jauh berbeda. "Hati-hati di jalan, jagalah adik ku dengan baik, jangan minum anggur, jangan menari dan kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku." kataku pelan dan sendu berusaha menahan diri. "Terima Kasih, Mama ...."
Rinna pergi setelah memelukku.
...****************...
dua hari kemudian, aku dan Elia telah kembali ke Villa. aku juga sudah membeli lahan lagi memperluas yang sebelumnya. setiap pagi hingga petang ayah menemaniku bertani, beliau sudah tua namun sangat kuat dan cekatan. aku mendapat banyak ilmu tani darinya. sangat bersyukur.
demikianlah hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun sulit itu ku lalui. tepat di malam terakhir musim salju dan hari pertama musim semi, Tuhan menghadiahkan aku anugerah terbesar dalam wujud seorang gadis. gadis yang anggun seperti bunga dan hangat seperti cahaya matahari pertama di musim semi.
dia berhati putih bersih, seperti kristal salju yang turun setiap musim dingin. dia membuatku tumbuh, membangkitkan kembali hatiku yang telah mati. dialah gadis yang bersinar di keramaian, dia yang mampu membuat orang tersihir dengan kekuatan gaib nya yang menyala-nyala di setiap kehadirannya.
dia bernama Elia.
Cerita ini berisi kesan-kesanku selama aku menjalani hidup, dengan bahasa dan pandangan yang sederhana, namun semoga bisa memberi kesan yang mendalam di hati orang-orang yang haus akan berbagai kisah yang memberi warna bagi kehidupan. semoga ada kesan dan pesan yang dapat di petik dari tulisan ini, dan mampu menjadikan motivasi yang membangkitkan gairah spiritual yang membaca. ku titipkan cerita ini... dan demikian pula ku akhiri...
..."Saat seseorang mencintaimu, mereka tak harus mengatakannya. Kamu akan tahu dari cara mereka memperlakukanmu."...
...- Sepasang merpati di musim semi ...
...(Elia Toma & Damian Toma)-...
__ADS_1