
Ku atur pernafasan saat aku menginjak kaki di sekolah. Nampaknya Elia sudah berada di kelas. Kemudian sesampainya di ruang guru, aku segera duduk untuk beristirahat menenangkan jantungku yang berdebar hebat. Baru sekejap aku mengambil nafas, Amanda datang mendekat ke kursiku.
“Selamat Pagi, pak Damian.”
“Pagi.”
Aku berusaha menjaga sikap, aku coba untuk profesional dan bersikap selayaknya rekan kerja, walaupun sebenarnya agak malas namun harus ku hargai kebaikannya yang tetap menyapaku meski sempat tertolak.
“Pagi ini agak mendung, guru-guru lain jadi datang agak telat. Pak Damian sendiri tumben sekali datang lebih awal?”
“Menghindari hujan.” Jawabku singkat, sambil mengumpulkan lembar jawaban kuis siswa kemarin saat aku tidak masuk sekolah.
“Menghindari hujan tapi pakai mobil.”
ku hentikan kesibukanku, kertas-kertas ujian siswa ku tanggalkan sudah. “Bu Amanda sengaja menghampiriku bukan sekedar untuk berbasa-basi seperti ini, kan?”
Amanda terus memandangiku sambil tersenyum simpul, “Kamu memang dingin seperti biasanya, pak Damian.”
kemudian tanpa gerakan yang dapat ku duga, dia meraih tanganku di atas meja dan menggenggamnya erat-erat. Aku yang merasa terganggu karena sentuhannya, menaikkan kepala ku ke atas menatapnya, kini kedua pasang mata kami bertemu. Dia menatapku tajam seakan memberikan aku tekanan.
“Apa yang kamu lakukan?” kataku seraya menarik cepat tanganku yang di pegangnya.
Dia jadi membisu, suasana menjadi hening dan sunyi. Dia kembali menatapku dengan raut muka kesedihan, sedangkan nada bicaranya di naikkan jadi lebih tinggi.
“Kenapa Damian? Apakah salah? Aku hanya menyentuh tanganmu, tetapi kamu seperti sangat jijik. Kamu sangat anti bersentuhan dengan orang lain. tetapi kamu malah berciuman dengan seorang siswi barusan.”
Oh, sialan. Bibirku memang kaku tetapi di dalam hati aku mengumpat berjuta kali. Baru pertama kali ku lakukan tetapi langsung ketahuan oleh orang lain, mengapa Amanda bisa tahu? Padahal tadi jalanan sepi. Aku mencoba untuk tenang, jangan sampai perempuan ini malah jadi bumerang yang menghancurkan aku dan Elia.
__ADS_1
“Kamu terlalu naif pak Damian, kamu bersikap seolah menutup diri dari lingkungan luar. Padahal aku sudah sampai sesabar ini untuk menghadapi kamu, aku bersikap layaknya seorang perempuan untuk mendekati kamu. Aku melihatnya barusan, aku melihatnya di mobil... kamu mencium seorang siswi.”
Aku terdiam, isi pikiran dalam otakku beradu mencari-cari alasan untuk menutupi hubunganku dan Elia. Berkali-kali aku mengutuk keadaan, mengapa aku selalu bernasib sial? Tetapi mengumpat saja tidak akan cukup. Yang harus ku lakukan sekarang adalah mencari jawaban yang tepat. Meski hening agak lama, akhirnya tuhan menganugerahiku sebuah jawaban tak masuk akal, sehingga selagi ide itu terlintas segera ku sampaikan dengan spontan.
“Kebetulan? Berciuman dengan siswi sendiri?”
katanya keheranan saat ku sampaikan semua kebohongan padanya.
“Ya, tepat sekali. Seperti yang kamu dengar barusan dari mulutku.”
“Meskipun awalnya aku hanya menolongnya untuk mengantar ke sekolah, lalu saat dia ingin berpamitan, aku malah tergoda.”
Lantas dengan penuh kecewa dia berdiri dari kursi. Mungkin jawabanku ini tak cukup masuk di akalnya, tetapi ya sudahlah yang penting aku ada penjelasan.
“Saat kamu pertama kali datang mengajar kesini, akulah yang membantu kamu mengenal lingkungan, bahkan hampir tiap jam kosong. Aku selalu mencoba akrab dengan mu, kita berbagi cerita meskipun kamu hanya diam. Apa kau ingat?” katanya dengan nada lirih sambil sibuk menyeka air mata.
“Tentu saja, kau tidak ingat lagi pula kau tidak pernah memandangku. Jangan kan untuk jatuh cinta, melakukan ciuman yang kebetulan itu pun tak pernah ku dapatkan darimu! Tetapi aku mengingatnya, karena aku sungguh-sungguh mencintai kamu.”
“Apa yang ingin kau katakan?” kataku sedikit menyandarkan tubuh, untuk mencari ketenangan, Amanda memang orang yang baik dan ramah tetapi sayangnya dia terlalu bawa perasaan, jadi membuatnya memuakkan.
Dia membalikkan badan dan menatapku kembali,
“Apakah kau...menyukai siswi itu?”
“Jika tidak.. kau tidak akan menciumnya! Seperti yang selalu kau katakan, tindakan bawah sadar manusia itu tidak bisa berbohong. Seperti kamu yang mengaku kebetulan mencium bibirnya.”
Benar, aku tidak berbohong soal itu. Ternyata dia benar-benar mengingat setiap kata yang pernah ku ucapkan. Dia kembali duduk di kursi depan mejaku.
__ADS_1
“Damian, kamu tidak boleh melakukan ini, cinta antara siswi dan guru itu tidak di perkenankan. Kalau orang-orang di sekolah ini tahu, kamu tidak akan pernah bisa mengajar lagi. Atau yang paling buruk kau bisa di tuntut wali siswa.”
Aku yang mulai muak, karena ucapannya berhasil menarik kembali ketakutan ku.
“Aku tahu tanpa harus kamu beritahu.”
“Kalau begitu, selama di lingkungan sekolah ini teruslah terlihat akrab denganku, kita mengobrol atau makan siang bersama. Harus ada, walau hanya ketika jam istirahat. Saat aku mendatangi mu, kamu tak boleh menolak. Kalau kamu setuju melakukan itu semua, aku tak akan memberi tahu tentang ciuman mu dengan siswi, pada siapapun. Aku akan menjaga rahasia ini baik-baik.”
Bam
Ku tatap dia tajam, “Apakah kau baru saja mengancam ku?”
“Aku memiliki fotonya.” Timpalnya.
Terbakar lah hatiku, Amanda berhasil mempermainkan situasi. Aku tak tahu harus berbuat apa, tanganku mengepal kuat-kuat.seandainya aku memiliki kuasa dan tak lagi memiliki hati, mungkin sebuah pukulan mentah sudah melayang ke wajahnya sekarang.
“Dan minggu besok, ayo kita berkencan. Aku akan menunggu kamu di pusat kota, ada film baru rilis kemarin, tema nya romansa sangat cocok untuk pasangan yang menghabiskan waktu bersama.”
Aku mengernyitkan dahi menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, “Untuk apa kamu melakukan ini semua?”
“Untuk mendapatkan cintamu.”
“Kemarin aku sudah menolakmu, dan kamu pun menyuruhku untuk melupakan perasaanmu. Lalu mengapa sekarang kamu malah mengatakan hal yang lain lagi? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku, kalau kamu tak ingin mendapatkan hambatan di tempat bekerja? Apakah itu semua tidak cukup?” kataku
“Tidak, kemarin aku terlalu cepat menyerah. Cinta itu adalah perasaan yang murni, dan aku ingin memperjuangkannya kembali sampai titik juang terakhir. Aku yakin jika kita banyak menghabiskan waktu bersama, perasaanmu akan tumbuh seiring waktu. aku pikir aku bisa melupakan mu setelah kamu menolak ku. Tetapi ternyata bayangmu begitu nyata, sehingga tak mudah untuk ku lepas begitu saja, hatiku masih sakit saat melihat kamu menyentuh orang lain, ku pikir aku ini masih sangat mencintai kamu dan cintaku ini sangat besar sehingga untuk patut ku perjuangkan.”
Perempuan ini tak waras, meskipun sikapnya ini mengingatkan ku dengan Elia, tetapi mereka tak bisa di samakan. Elia berjuang dengan ketulusan tanpa memanfaatkan apapun yang dapat menguntungkannya, dia hanya berbuat dan waktu pun memberi restu untuknya. Sedangkan Amanda? Dia salah paham bila mengatakan mencintai aku. Nyatanya dia lebih mencintai dirinya sendiri, dia akan berbuat apapun untuk mencapai kebahagiaan hatinya. tak perduli, apapun yang harus berkorban.
__ADS_1