Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Semuanya Berakhir


__ADS_3

Demikianlah, akhirnya ayah dan Rinna kembali dari luar kota. tepat seperti yang di ucapkannya di telpon tadi pagi. dia membanting pintu depan dengan arogan, layaknya petarung yang siap menghantam penantangnya.


"Damian!!!"


Oh, betapa terkejutnya aku mendengar suara ayah! aku sedikit pekak, sampai reflek menutup rapat daun telinga ku.


"Apakah kamu tidak bisa sekali saja membuat masalah untuk keluarga? kamu tidak tahu siapa yang kamu buat menangis tadi?!"


"Jangan selalu menyalahkan aku, ayah! di mana kesalahan ku? dia marah karena tahu aku sudah menikah? itu kenyataannya, aku memang sudah beristri! menjaga perasaannya bukanlah tanggung jawabku."


aku masih belum percaya dia Kembali malam-malam begini hanya untuk memperingatkan tentang Vania. padahal aku memang sudah menerka, hanya saja waktunya terlalu cepat. apa yang di ucapkan Vania, tentang perjodohan itu nampak nya benar. atau bisa jadi salah. seandainya memang di maksudkan? dan seandainya tidak?


"Keterlaluan!!!"


"Kalian yang keterlaluan! merencanakan perjodohan, padahal tahu anak sudah berumah tangga!"


Sungguh membingungkan, terkadang orang tua ku tak bisa ku perkirakan apa yang mereka pikirkan dan lakukan. satu hal yang menyelamatkan ku dari kekesalan dan Amarah adalah meluapkannya. tapi, sebelum itu aku harus memastikan bahwa Elia tetap berada di sampingku, ku genggam tangannya Erat. agar ia tahu bahwa betapa besar cinta ku padanya, sampai aku akan melawan apapun yang mengancam.


"Rumah tangga omong kosong! dia itu hanya gadis penebus hutang!"


"Hentikan ayah!" kata ku tegas. "Jangan pernah sebut Elia seperti itu! ayah sendiri yang membawakan dia untuk menjadi pengantinku."


"Lalu apa susahnya menerima Vania? aku memperkenalkan dia sebagai istrimu yang sesungguhnya! kamu tinggal menerima dia sebagai pendampingmu, sama seperti kamu menerima anak ini!"


"Lelucon! aku bukan seperti ayah, yang menganggap Enteng pernikahan. satu wanita seumur hidup! itu prinsipku. dan aku mencintai Elia!"

__ADS_1


ayah terdiam, sambil sesekali memijit keningnya. sementara Rinna menyambutnya di belakang. kemudian membantunya duduk di sofa.


"Kamu harus sadar Damian! Kamu itu adalah penerus satu-satunya Toma! maka kamu juga harus mendapatkan pendamping yang sepadan. bukan gadis anak petani ini! Vania adalah orang yang paling cocok untuk mendampingi mu! Kamu pikir gadis seperti ini pantas di bawa untuk perjalanan bisnis?"


Ayah pun beranjak dari tempat duduknya, untuk menghampiri ku. dia menatapku tajam, meski tak membara seperti sebelumnya, "Dengarkan Ayah. kelak, kamu akan banyak berkomunikasi dengan orang-orang hebat. tentu saja tidak lepas dari keluargamu juga. bagaimana reaksi orang-orang jika tahu kalau kamu menikahi gadis miskin yang tidak memiliki pendidikan tinggi? Reputasi keluarga Toma akan hancur! akan ada jarak antara kamu dan rekan bisnis. mau bagaimana kalau sudah begitu? sia-sia semua ini! ayah susah payah untuk membuatmu terpandang, karena kamu adalah penerus. ini semua karena ayah sayang denganmu!"


"Hentikan! berhenti bicara ayah! ucapanmu barusan sangat menyakiti hati istriku. aku tidak perduli apapun tentang reputasi, Elia bukan sekedar seperti yang ayah katakan. dia lebih dari semua itu, dan semua orang... bisa menerima kehadirannya. tidak terkecuali, rekan bisnis, sanak, atau keluarga besar sekalipun. di mana pun aku berada, Elia akan ikut. siapa pun yang memandang rendah Elia, maka aku akan menjauh!" sergahku.


"Kamu benar-benar sudah buta. Aku tidak tahu lagi harus bicara apa! maksudmu kau akan pergi menjauh dari orang-orang yang merendahkan istrimu kan? Pergilah kalau begitu! kita memang tak akan pernah bisa berdamai, mau bagaimanapun caranya! kita tak akan pernah bisa menjadi Toma yang seutuhnya."


begitulah ayah mengungkapkan kekecewaannya.


ku pikir, dia adalah orang tua yang sekali pun bukan yang terbaik namun selalu berupaya untuk menjaga martabat dan nama baik keluarga dari dulu. meski dengan cara yang salah dan terkesan dengan pemikiran yang kuno. aku masih menganggapnya sebagai ayah, sekalipun sering merasa marah dan sakit menghadapi tingkah dan pemikirannya. tapi, aku harus mengalahkan rasa hormat itu dengan imbang, demi mempertahankan istri dan rumah tangga ku.


"Cukup! aku tidak perduli lagi! kamu meninggalkan keluarga ini saja, sudah selesai semuanya! tak ada yang bisa ku pertahankan."


ayah kembali duduk ke sofa sambil kembali berkali-kali memijat keningnya yang keriput. aku benar-benar dilema. di panggang rasa bingung yang amat sangat. aku tahu aku telah kurang ajar karena menentang, oh Tuhan, jauhkanlah aku dari prasangka buruk, hanya saja aku tak bisa terus tunduk jika kehendak orang tuaku salah.


"Terima Kasih. Ayo Elia kita bereskan pakaian."


...****************...


sesampainya di kamar, ku bongkar lemari, lalu ku masukkan satu persatu pakaian ke koper.


"Di mana hadiah gambar dari Elia? jangan sampai tinggal, itu kado yang paling berharga untukku." aku berkata pada Elia yang juga sibuk merapikan barang di meja.

__ADS_1


Tak lama Elia datang di hadapan ku, aku mendongak dan tersenyum saat ku lihat gambar yang ku cari berada dalam rengkuhan tangannya yang mungil.


"Oh itu, ternyata kamu menemukannya syukurlah. tapi kenapa di keluarkan dari bingkainya El? kemari, biar aku benarkan."


aku mengulurkan tangan, isyarat agar ia memberikan gambar itu padaku. dia tersenyum. namun, lain yang ku dapat, ia mengejutkan ku, dengan wajah datar. dia merobek gambar itu, merobeknya sampai jadi bagian kecil-kecil. tepat di hadapan ku.


"Elia!!! apa yang kamu lakukan?!"


"Dengan begini, semuanya berakhir."


Edelweis yang langka, lambang cinta sejati dan abadi, hancur jadi lembaran yang bertebaran di lantai. nampak semua hanya kata-kata....


...****************...


Halo ini author 🙋


sebelumnya author ucapkan Terima kasih kak, Terima kasih sudah mendukung kami sampai sekarang (ternyata Kita sudah sampai bab 60


(´∩`。))


mohon maaf karena kami sempat bolong-bolong update (p′︵‵。), akhir-akhir ini cuaca terlalu panas sampai menguras energi habis-habisan. author baru sadar rupanya ramadhan tinggal menghitung hari, dan hari raya akan tiba. tidak terasa, kita sudah berjuang sejauh ini ya?! author sampai terharu... dari awal puasa sampai mau lebaran. kita masih bersama untuk menemani aa dami dan Elia tersayang. Terima kasih untuk kakak, menyempatkan waktu sambil puasa. malam, pagi, siang untuk a' Dami.


Terima kasih sudah berjuang bersama, menemani dari nol sampai sekarang. kesetiaan kalian tidak bisa di ragukan lagi!!! hal yang tidak akan pernah kami lupakan, pokoknya selamat hari raya idul fitri untuk semua pacar online Damian (♡´▽`♡) semangat menjalankan puasa, kami mencintai kalian semua, silaturahmi nya online dulu, nanti kalau ada kesempatan, pasti A' Dami kasih kiss satu-satu. lopyuu semua, kami mencintai kalian....


kiss, kiss, kiss, muach..

__ADS_1


__ADS_2