Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Cinta yang tak bisa di terka


__ADS_3

Dan malam ini, akhirnya setelah beberapa tahun berlalu, Rinna menampakkan batang hidungnya di hadapanku. dan pertama kalinya pula aku berada di bawah satu atap rumah dengannya.


begitu masuk, aku segera kembali ke kamar sedangkan ia di bantu oleh Elia menuju ke kamar tamu. Elia juga tak sungkan memanaskan air untuknya mandi. rupanya aku tak memperhatikan, bahwa Rinna datang kemari memang untuk menginap, bukan sekadar datang berkunjung saja. buktinya dia sudah membawa pakaian tidur yang di taruh nya dalam tas tenteng berwarna coklat itu.


mataku menjelajah ke penjuru ruangan, mencari-cari cara untuk bisa tidur nyenyak. karena bagaimanapun aku harus menyiapkan tenaga yang besar untuk bertani besok.


"Belum tidur?" tanya Elia, setelah kembali masuk ke kamar.


"Ya."


"Mau air minum? biar aku ambilkan."


"Tidak, aku hanya ingin tidur!" kataku malas.


ku dengar derap langkah kaki Elia mendekat. ia duduk di ranjang, tepatnya di sampingku. dengan senyum hangat dia mengambil kepalaku dan menaruhnya di pangkuan pahanya.


hal yang paling aku senangi, saat dia mengusap lembut kepalaku, mula-mula dari kening lalu ke kepala batas ubun-ubun. begitu tenang, sampai menghilangkan perasaan resah dan gelisah yang menggerayangi kepalaku.


"Terima kasih," katanya.


"Untuk apa?"


"Karena mengizinkan mama masuk dan menginap."


"Itu semua karena kamu. jika bukan, aku tak perduli meskipun hujan badai di luar." jawabku menghardik.


Elia tertawa kecil, sambil terus mengusap dahi ku.


"Tak apa, suatu saat nanti pasti luluh." ujarnya setengah berseloroh. "Dan Karena itu aku akan menjadi jembatan agar pak Damian mau membuka diri, tenang saja mama adalah orang yang baik."


"Oh, ya?"


"Perasaan dan firasat wanita itu jarang sekali salah. sungguh!"

__ADS_1


Aku hanya menjawabnya dengan tertawa kecut, sambil memejamkan mata. sentuhan tangan Elia mengalun lembut, sebuah sentuhan yang memberikan aku kenyamanan. di luar, angin malam yang basah terus berkitaran di ruangan yang kian menghitam. aku tidur di dalam pangkuan hangat istri kecilku, di temani usapan-usapan yang beranjak ke punggung saat aku berputar memeluk pinggangnya manja.


hampir saja terlelap dan tenggelam dalam bayang-bayang ilusi yang mulai datang. aku kembali teringat sesuatu, "Besok hari libur kan? aku harus bangun pagi, karena sudah waktunya memberi pupuk. tolong bangunkan aku lebih awal, aku khawatir kesiangan."


"Bagaimana, ya?" dia diam sejenak, berpikir. matanya menerawang ke atas, ke langit-langit kamar yang kelabu, mencoba untuk menggodaku. lehernya tak jenjang seperti perempuan elegan pada umumnya, namun tak mengurangi karisma lentiknya sebagai wanita.


bibirnya setengah terbuka dan dagunya runcing bagaikan tombak yang manis, dari bawah dapat ku pastikan dadanya tampak sempurna dan seimbang. dan di dalam dada itu terdapat seekor binatang yang bila di sentuh akan menggerakkan sepasang telinganya sampai kemerahan. binatang itu menggemaskan dan jahat sekali.


"Bagaimana, ya?" dia mengulang kalimatnya dan membangunkan ku dari lamunan.


"Jangan menggodaku," kataku malu-malu kembali menyergap pinggangnya, wajahku tenggelam di perutnya yang datar.


dia tertawa kecil, sambil berusaha menggelitik. aku seperti anak kecil yang menjadi mainannya. anak lemah tak berdaya yang ada dalam rengkuhan kuasanya. di saat begini, ingin sekali ku miliki dia walau hanya satu malam saja, namun lagi lagi kenyataan menamparku dari khayalan. Elia masih pelajar... hm.....


...****************...


"Kringg! Kriing...!"


dengan malas aku bangkit meraih jam weker di meja. akhirnya aku mampu memenuhi target, dengan usahaku sendiri bangun pagi-pagi. ku lihat Elia sudah tak ada di ranjang, hmm dia tak menepati janji!


Oh, betapa terkejutnya aku mendengar suara Elia! aku jadi sedikit gugup.


"Sudah," jawabku. "Kamu tidak membangunkan aku! padahal sudah ku minta untuk bangunkan."


"Aku baru mau bangunkan, makanya kembali lagi ke kamar."


aku menggosok mata lalu bangkit dari tempat tidur setelah Elia mengulurkan tangan agar aku segera bangun. dia menuntunku ke dapur untuk sarapan, namun sebelumnya dia membawaku dulu ke wastafel, cuci wajah dan sikat gigi seperti biasanya.


di ruang makan sudah ada Rinna yang duduk manis di sana, di depannya sudah ada lauk pauk dan susu. dia menopang dagu, dengan mata berbinar-binar dan malu-malu.


"Kalian mesra sekali! Mama suka melihat keharmonisan kalian, begitu manis." dia tersenyum. dia menatapku setengah menyelidik, mungkin agar aku menangkap isyarat hatinya. bagaimana seorang pria pesimis yang menutup diri bisa bergantung dan menurut pada seorang gadis yang di jodohkan? hebat sekali istrimu ini bukan? mungkin begitulah yang dia pikirkan.


Elia membalas senyumannya, dan aku hanya diam menatap makanan yang aku yakini Elia lah yang memasaknya. sepertinya ia mencoba resep baru pagi ini...

__ADS_1


dia menghidangkan menu itu di piring ku, dan aku segera melahap nya.


"Enak?" tanyanya.


"Hmm!" kataku singkat.


"Mama yang memasaknya, khusus untuk kita. aku sedikit terkejut saat mama sudah di dapur, mama bangun pagi sekali, lalu mengajakku untuk ke pasar dan memanggang daging ini. enak sekali, ya?"


seketika aku terdiam, dan berhenti mengunyah. wajar saja bila Menu ini nampak sedikit berbeda, rupanya Rinna lah yang membeli ini semua.


"Kenapa berhenti?"


"Aku lebih suka sarapan yang biasanya, lebih enak saat kamu yang membuatnya."


Rinna tertawa kecut, "Manja sekali... menggemaskan." katanya berusaha tegar.


"Bersikaplah yang baik. Makan saja yang ada, nanti siang baru aku yang masak. kalau pak Damian pilih-pilih makanan, lebih baik tidak makan sekalian." jawab Elia ketus.


pertama kalinya, ia marah padaku. dan menjawab ucapanku begitu dingin dan menusuk. aku terdiam dan langsung merasa bersalah. rupanya dia melihat sikapku yang kasar. tapi, yang lebih mengejutkan, dia juga melakukan yang sama. tetapi targetnya adalah aku.


aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kehendak Elia, dari pada ia semakin marah dan mendiamkan aku. ku raih garpu dan ku kunyah kembali daging itu juga meneguk susunya.


akhirnya setelah sarapan, aku beranjak dari kursi makan.


"Sudah mau berangkat sekarang?" tanya Elia padaku. Aku kembali duduk, karena Elia menahan tanganku di meja.


"Berangkat kemana? Bukankah hari ini libur?" timpal Rinna.


"Bertani, aku seorang petani sekarang. mencangkul dan menanam, itu lah pekerjaanku sekarang!" kataku.


"Bukankah setahuku kamu adalah guru sejak pindah ke sini?"


"Ada masalah, dan aku di pecat. mau tidak mau harus bertani untuk menyambung hidup."

__ADS_1


Suasana hening sejenak, Rinna mengepalkan telapak tangannya seakan ia begitu tersiksa melihat nestapa yang di alami anak dan menantunya. aku hanya menatapnya dingin...


"Damian, tolonglah dengarkan mama! kembalilah ke ayahmu, ya? dia akan membantumu bersama Elia hidup layak. bertani itu bukan hal yang mudah, itu pekerjaan berat dan butuh tenaga yang kuat. tolong pulanglah ke rumah, ayahmu tak mungkin diam saja."


__ADS_2