Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Seperti bayang-bayang


__ADS_3

Hari-hari berlalu, sejak kejadian malam itu. aku memarahi bibi Hera, karena terkesan sengaja pergi setelah aku dan ayah bekerja, dan kembali saat kami akan pulang. tak ada etiket untuk bicara pada kami, padahal selama ia pergi Elia lah yang mengerjakan tugasnya, licik sekali bukan? ku marahi ia habis-habisan, sekalipun aku sudah mengenal bibi Hera sejak kecil. mengapa tak jujur dan terang-terangan saja?


Sore ini, aku duduk di beranda kamar sambil membaca buku fiksi terjemahan. angin bertiup sepoi-sepoi. Di ujung langit sana matahari mulai tergelincir dan langit jadi jingga kemerah-merahan, Keharmonian alam yang begitu ku rindukan, tenang dan menyejukkan sekali. mungkin pula karena hanya ada aku dan Elia di rumah ini sekarang. dua hari yang lalu, ayah dan Rinna pergi ke luar kota. dan entah kapan akan kembali.


"Pak Damian benar-benar suka buku, ya?!"


Tiba-tiba Elia datang, sambil memelukku dari belakang.


"Iya."


soalnya sejak kecil, aku sering di tinggal sendiri oleh orang tua ku. Yang menemaniku saat itu hanya buku.


"ayah hari ini tanggal 18 Mei..."


"apakah ayah tau ini hari apa-"


"Damian, tanpa di beritahu pun aku sudah tahu ini bulan Mei. aku sibuk! sudah pergi sana!.."


memangnya apa yang ku harapkan? mereka semua, sama sekali tak ada yang peduli.


"Pak Damian?"


aku terbuai mimpi hingga ke ujung kaki, ku ingat kembali kelamnya hidupku sebelum ada Elia yang hadir. sayang, suasana begitu kelabu, dan ilusi kembali menghantui ingatanku. ketika ku dengar suaranya memanggilku, baru aku sadar, aku tak seharusnya berhenti di satu waktu. aku terhanyut mengenang peristiwa yang terulang tiap tahun. kesepian dan menyedihkan...


"Oh, Maaf"


"Ayo masuk, sebentar lagi gelap. mandilah dulu, lalu setelah itu turun ke ruang makan, ya?!"


Aku mengangguk, lalu bangkit menuju kamar mandi. usai mandi, ku bongkar lemari, mencari pakaian yang tebal dan hangat. dari luar angin malam terus menyerbu masuk. jam dinding menunjukkan pukul 7.00, aku segera turun ke bawah, menuju ruang makan seperti perintah Elia sebelumnya.


begitu sampai, aku segera mendekat dan berdiri di seberang Elia. mataku Menjelajah ke seluruh penjuru meja, ada yang berbeda malam ini.


"Makan malamnya sudah siap," sambutnya lembut sambil menunjuk makanan di meja makan, "Mie tumis, ikan bakar, nasi kepal, sup pangsit.. "


"Kok Banyak sekali... " kataku

__ADS_1


"Soalnya hari ini adalah hari ulang tahun Pak Damian!" dia tersenyum.


"Hah? Ke-kenapa bisa tahu?"


malam begitu khidmat, aku terkejut melihat dia tiba-tiba, sumringah di hadapanku dan mengatakan soal ulang tahun, aku masih belum percaya dia mengetahui hari lahirku, dia memasak makan malam hanya untuk mengingat dan merayakan hari ulang tahun yang tak pernah ku rasakan. ini di luar perkiraan ku.


"Kalau sudah jadi seorang istri, sudah wajar hal seperti ini bisa tahu. dan Kemudian, satu lagi... " balasnya, kali ini dia berbalik badan mengambil sesuatu yang ia sembunyikan di belakang badannya, gayanya laksana seorang pesulap yang sedang beraksi di depan penonton.


"ini bukan barang yang mewah, tapi ini hadiah ulang tahun dariku."


ku ambil benda itu dari tangannya, "Ini? gambar bunga edelweis di selembar halaman koran bekas?"


"Aku tidak begitu pandai menggambarnya, tapi.. Pak Damian suka membaca buku dan nuansa alam. jadi ku pikir cocok kalau dikasih ini." jawabnya malu-malu, "Maaf, aku hanya bisa memberi dari buatan tangan ku sendiri, aku tidak punya apapun untuk membeli barang mahal atau elegan yang unsurnya sama."


aku tersenyum, demikian pula dia. malam ini aku menyaksikan, sebuah maha karya dari Seniman amatir yang baru lulus SMA. aku terharu, terhanyut oleh pemikiran atas hadiahnya yang menggetarkan. jiwaku terasa penuh, seperti disihir oleh kekuatan magisnya yang memancar, ia selalu tahu bagaimana membuatku merasa spesial.


"Pak Damian?"


aku tersadar dari lamunan, "Ah, ya maaf. ini pertama kalinya untukku. tanganku sampai gemetaran."


dari tadi aku terdiam, bagai pelamun yang menyedihkan.


"Selamat ulang tahun." katanya sambil menggenggam tanganku.


"Boleh ku cium tangan pak Damian?" katanya memohon.


"Kalau aku menolak, makan malamnya akan kamu ambil lagi, karena kamu pasti akan memaksaku." aku pura pura keberatan padahal senang.


"Aku tidak memaksa."


"Lakukanlah," kataku.


"Sungguh?"


"Ya, sungguh."

__ADS_1


Dia mencium tanganku, lembut sekali. seakan dia mencium bukan hanya di punggung tanganku, tetapi seluruh jiwaku. aku gemetar, begitu dia menyentuh bagian tanganku itu, rasanya aku mendapatkan kado yang mengejutkan lagi.


Tahun ini aku tidak sendirian lagi, di hari ulang tahunku ini, ada....


Selamat,


kata yang pertama kali ku dengar seumur hidup. Entah kenapa, rasanya diriku di masa lalu juga ikut terselamatkan.


"Terima kasih, akan ku jaga baik-baik. selama-lamanya." ucapku sambil memeluknya, memeluknya dengan erat.


dia terpaku menatapku, aku jadi kikuk karena malu, "Maksudku gambarnya, Akan ku belikan bingkai untuk ini nanti."


Apa yang aku lakukan? Jangan-jangan Elia menganggap ku laki-laki mesum, atau aneh? Dari dulu sudah sering dianggap begitu, sih.


cuma..


Ini pertama kalinya aku mendapat hadiah ulang tahun.


momen ini membuatku jadi terhanyut, hingga tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu depan. kami jadi berbaur kembali.


"A-apa itu? sepertinya ada tamu."


"Tumben sekali, biar ku temui dulu." kataku, kemudian pergi menuju pintu depan.


angin menghambur ketika aku membuka pintu, laksana amukan maut, yang menghantam dengan hebatnya. seseorang berdiri di hadapanku sekarang.


"Kamu... siapa?"


"Sudah lupa?"


ku perhatikan baik-baik dengan mata yang menyipit, Rasanya aku mengenalnya, tapi entah siapa. hanya samar-samar, seperti bayang-bayang.


...****************...


Semuaanya....

__ADS_1


Semua diam, atau author sayang? hari ini ada Ujian Dadakan!!! 🤯


author mau tanya.. kado dari neng Elia sederhana tapi penuh makna (kata a' Dami sih), Kira-kira maknanya apa ya sampai a' Dami terharu gitu? 🤔😬


__ADS_2