Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Yang Mahal dan Yang Bermakna


__ADS_3

"Kamu Siapa?"


"Sudah lupa?" dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya kepadaku, "Aku Vania. masa tiap bertemu harus memperkenalkan diri terus. ingat aku tidak sulit, kok atau perlu bertukar kontak telpon?" katanya mengejek.


Vania, kini aku mengingatnya dari caranya memperkenalkan diri dan caranya bicara. aktif dan penuh seloroh. aku terkejut melihat dia tiba-tiba muncul di depan pintu rumahku. dia terus tersenyum, bagai matahari yang terik. mengenakan syal merah tua dan jaket kulit hitam di padu jeans biru. dia membawa kotak besar di bungkus kertas kado mengkilat berwarna biru, yang entah apa isinya.


"Orang tua ku sedang pergi ke luar kota. kembali lagi saja besok lusa." kataku dingin.


"Siapa yang mengatakan aku ingin menemui orang tua mu? aku justru ingin langsung menemui kamu." katanya, kemudian menyodorkan kotak besar tadi kepadaku, "Selamat ulang tahun!!!"


aku menatapnya, dengan tatapan tajam dan wajah datar. yang pasti haluan apa yang membuat gadis ini datang, ia bahkan tahu tentang ulang tahunku sampai membawa kado sebesar ini. di tengah semua itu, dan semua kenyataan ini, aku merasa murung dan gelisah. entah karena apa...


"Kamu pria tua yang kaku, tidak mengajakku masuk dulu? dasar! jadi laki-laki sepertimu pasti sulit, ya. mau ku lunakkan tidak?"


aku diam sebentar, sambil mengernyitkan dahi ku tatap ia setengah mengintrogasi untuk memperjelas jalan pikirannya saat ini.


"Hahaha aku cuma bercanda, kamu pikir serius ya? aku cuma mau memberikan kado." katanya lagi, dan kembali menyodorkan kotak besar bawaannya.


Ku ambil itu dari tangannya, "Baiklah, Terima kasih. kalau begitu, sana pulanglah!"


"Langsung diusir? hmm aku kecewa sekali. tidak bisa mengobrol sebentar saja?"


"Tidak."

__ADS_1


auranya yang tadi menyala-nyala seketika redup saat ia menundukkan kepala karena menanggung rasa kecewa yang mendalam. bukan tak menghormati, hanya saja aku sedikit sungkan sebab aku merasa tak terlalu akrab dengannya. bagaimanapun juga ayah adalah orang yang lebih masuk akal untuk ia temui di rumah ini.


dia berbalik arah untuk kembali ke mobilnya, nampaknya mobil biru yang terparkir di depan ini.


"Tunggu sebentar!" seru ku padanya.


"Ada apa?"


"Kamu tahu dari mana soal ulang tahun ku?"


"Kalau ku katakan aku tahu sendiri, pasti kebohongannya terlalu terlihat kan?" jawabnya sambil tersenyum simpul, "Mama muda mu yang menelpon ku tadi pagi, ayahmu juga yang mengundang ku untuk menemui kamu jika ingin mengucapkan ulang tahun. orang tua mu baik sekali, ya? mereka mengkhawatirkan kamu karna merayakan ulang tahun sendirian sebab mereka berada jauh sekarang, di luar kota."


Aku sedikit terkejut, meskipun aku sudah menduga dari awal bahwa mereka lah yang memberi tahu dan mengundang gadis ini ke sini. masih belum jelas, tetapi aku akan memastikan apa maksud dan tujuan mereka di sini. yang pasti, aku tidak boleh ceroboh sampai salah ambil langkah, jangan terlalu dekat... aku merasa ada yang menjanggal tentang ini.


"Baiklah, sekali lagi Terima kasih. pulanglah, sudah malam."


ia mengikuti perintahku, kemudian dia menghilang di balik pintu mobilnya yang mahal. "Hei!! aku pulang dulu yaa?! selamat ulang tahun!! Dadah!" katanya sambil melambaikan tangan setelah kaca mobilnya terbuka, kemudian pergi menjauh.


"Pak Damian?"


di waktu yang tepat pula, muncul Elia dari belakang menepuk lenganku.


"Eh, oh iya?!"

__ADS_1


"Apa baik-baik saja? kalian terlalu lama di luar, jadi aku menyusul. di mana tamunya?"


"Sudah pulang. katanya ada urusan lain, dia hanya mampir untuk memberikan kado ini."


"Wah, besar sekali. apa isinya ya?"


"Entahlah, ayo masuk dulu. aku sudah lapar."


Kami segera kembali ke meja makan, lalu ku nikmati hidangan makan malam khusus untuk hari ulang tahun yang mengharukan ini. hingga tibalah saatnya, Elia senyum-senyum kecil padaku sambil sesekali melirik ke arah kotak kado dari Vania tadi yang ku letakkan di pojok ruangan.


"Pak Damian, isinya apa? boleh di buka tidak?"


aku tersenyum, sebab dia lucu sekali. ia tak bisa menyembunyikan rasa keingintahuannya, dan ini lah sifat yang ku sukai darinya, tak ahli berpura-pura.


"Boleh, biar ku bawakan ke sini, kita buka sama-sama."


dia tertawa lebar, hingga tawa itu tiba-tiba memudar sesaat setelah kotak itu kami buka. tatapannya jadi nanar dan sedikit pilu, melihat patung Phoenix yang gagah dalam pahatan yang begitu detail. hasil Seniman yang nampaknya di buat khusus dan terbatas. tak ada copyannya lagi di mana pun.


"Ada apa Elia?"


"Hadiahnya bagus sekali, sangat mewah."


"Menurutku, Biasa saja," kataku. "Kado lukisan di koran dari Elia, tidak kalah bagus. ini mau langsung ku pajang, setelah beli bingkainya. biar tidak kotor."

__ADS_1


"Terima kasih pak Damian, aku akan berusaha juga agar tahun depan bisa membelikan kado yang lebih baik lagi dari sekarang."


aku terharu sekali mendengar ucapannya, "Terima kasih," aku berbisik setelah mendekapnya.


__ADS_2