Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Meninggalkan Penjara ku, Menjemput Asa


__ADS_3

Sabtu, genap dua hari sudah aku mengurung diri di Kamar. Sepanjang empat puluh delapan jam itu tidak ada seulas senyum-pun di wajah ku. berulang kali aku menelpon ayah untuk kembali dan menemaniku menjemput Elia, tetapi nihil.


Makanan yang dimasak di meja hampir tak ku sentuh kecuali barang satu dua suapan saja. Beberapa rekan dan sekretaris ku di kantor menelepon menanyakan kabar ku, karena tidak masuk bekerja dan dari balik pintu kamar aku bisa mendengar suara bibi Hera yang memanggilku mengantarkan makan, ku jawab seperlunya saja. Satu dua orang staff kantor juga datang bertandang untuk meminta tanda tanganku di laporan tetapi aku menolak menerima dan menyuruh bibi Hera atau Rinna mengatakan bahwa aku sedang sakit. 


“Ayah, aku ... Maksudku apakah ayah bisa pulang lebih awal? aku ingin ayah mendampingiku dan mengharap restu darimu." kataku perlahan sambil memegang telpon genggam kepada ayah yang sedang berada di jauh sana, hampir dalam sehari lebih dari empat kali ku telpon ayah untuk tujuan yang sama dan tentu dengan respon yang sama pula.


aku memandang kosong bintang yang memutar di langit yang legam malam ini. ayah diam saja. Aku yakin suaraku jadi terngiang-ngiang daripada suara presentase dalam perjalanan bisnis ayah dan aku tahu ayah sebetulnya sudah tahu kehendak ku saat namaku terpajang di layar ponselnya, hanya memilih untuk mengabaikan ku.


"Ayah …"


"Tidak. aku tidak mau ikut. aku malu. Mau ditaruh di mana muka ayah?" jawab ayah ketus tapi dengan nada tak berdaya.


Aku yang terdiam. Sudah berulang kali ayah mengatakan hal yang sama kepadaku, malu. Semenjak aku datang ke rumah ini dengan membawa dua koper besar dan satu tas jinjing, tidak pernah sekalipun ayah tidak mengatakan kata itu. Ia malu karena memiliki menantu dari keluarga yang jauh berada di bawah taraf ekonominya, dia merasa Elia tak pantas menjadi bagian dari keluarga Toma dan berkeras tidak mau menuruti kata-kata ku untuk menerima pernikahan, juga merestui cinta kami. Ia malu akan dibicarakan oleh teman-temannya dan keluarganya tentang rumah tanggaku yang dianggapnya aib, yang akan dianggap sebagai kegagalannya juga.


Semenjak aku kecil, aku sudah menyadari bahwa keluargaku bukanlah keluarga yang ‘harmonis’. Orangtua-ku memang menjalani pernikahan yang awet dan jarang bertengkar tapi juga jarang berbicara dengan lugas dan natural. Kami adalah keluarga yang tampak sangat indah untuk orang luar, disiplin, teratur, anak-anak yang rupawan dan berbaju bagus, dan aku sadar kami memang diatur untuk tampak baik di luar, dari fisik, dari kebendaan yang bisa dilihat dan dinilai orang lain, tapi dari dalam, dari hati dan jiwa, kami diabaikan secara total. Kedua keluarga orangtuaku juga sama seperti itu. semua di penuhi kebohongan dan formalitas, sampai aku tak tahu apa itu rasa.

__ADS_1


"Kamu dengar kata-kata ayah?" tiba-tiba suara ayah meninggi. Aku terkejut dan sadar dari lamunanku. "Malu, malu tahu tidak. Nama mendiang ibumu akan tercoreng di keluarga!"


"Ayah, apakah ayah tahu apa sebenarnya makna keluarga? apakah ayah tahu bagaimana ikatan dan hubungan antara suami dan istri, ayah dan anak, ibu dan anak? ayah terlalu kaku dan formal andai ayah mau membaur dan tidak selalu keras, ayah mungkin akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang. maaf ayah, aku tidak akan menceraikan Elia!" kataku lebih tenang dan sejujurnya hampir frustasi karena harus menjelaskan untuk entah berapa ribu kalinya.


"Dia itu hanya pengantin untuk merawat mu sementara saja, bukan benar-benar sebagai istrimu. suatu saat juga kamu akan terbiasa, cinta itu bukan sesuatu yang abadi Damian! semua itu akan hilang sama seperti barang yang kamu beli, akan lenyap atau memudar seiring waktu."


"Tentu saja aku tak akan terkejut dengan jawaban ayah! karena itulah pula ayah menolak anak yang di kandung Rinna. sebab ayah tak menghayati hubungan dan ikatan antara ayah dan anak. tak ada cinta, karena itu hidup ayah suram dan formal. sungguh menyedihkan. hari Kamis depan aku izin pamit ayah, pesanku jagalah Rinna dan anaknya. mau laki-laki atau perempuan mereka tetap anakmu juga."


Aku tidak sanggup menahan geram dan kecewa yang berlomba ingin keluar dan segera masuk kembali ke kamarku. Sakit sekali rasanya diperlakukan seperti wayang dan orang tua ku sendiri yang menjadi dalangnya. Sudah cukup aku meragukan diriku sendiri selama berpuluh tahun, dan kini saat pertama kali aku dan Elia menginjakkan kaki di rumah ini. Saat itu aku merasa persis seperti yang ayah sampaikan, aku selalu bertanya apakah ini salahku, salahku di mana, dan aku berusaha keras memperbaiki diri.


"Aku akan pergi dari sini sebentar lagi, mungkin tak akan bisa mengawasi mu selalu, tetapi aku berharap agar kamu menjaga adikku. aku menyayanginya lebih dari yang kamu pikirkan. jika ayah belum bisa menjadi orang tua yang baik, setidaknya kamu yang menjadi ibu penuh kasih. jika ayah belum bisa menerima anak itu, setidaknya dia memiliki ibu yang tidak melakukan yang sama. ubahlah pola pikirmu, jangan biarkan perlakuan jahat orang lain membuatmu jadi pribadi yang keras." Kataku dingin kepada Rinna dan menunggu reaksinya. Beberapa menit berlalu tanpa ada reaksi, aku kemudian menyeret koperku dan keluar dari rumah. Dengan mata buram bersimbah kekecewaan yang tidak terkirakan, aku memencet nomor telepon Donny untuk membantu mengantarku ke desa.


Ini adalah terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah ayah ku, apapun yang terjadi aku tidak akan kembali kecuali jika dalam hal tertentu saat dia merestui hubunganku, tidak tinggal hanya sekedar datang saja. Setelah ini aku akan menghadapi semua dengan berani dan aku tidak akan mundur untuk memperjuangkan Pernikahanku dengan Elia meskipun syarat darinya tak bisa ku penuhi, aku datang tanpa orang tua, sebab mereka tega menjadikan anaknya sekadar bahan pameran belaka. 


Entah sudah berapa lama aku berjalan, kakiku terasa sakit dan udara dingin menusuk-nusuk dadaku meski aku sudah menggunakan jaket tebal. Aku memutuskan untuk menunggu Donny dan Vania di halte bus. Saat duduk, aku seperti dilepaskan dari beban yang sangat berat dan udara di sekitarku terasa begitu nyaman. Aku menarik nafas yang dalam, seakan menghirup semua kekuatan dari semesta dan menghembuskan dengan perlahan, memberikan kelegaan yang luas di dalam dadaku. Ya, aku adalah manusia bebas dan tidak akan ada yang bisa merebut kebebasanku itu. Tidak ada lagi.  Mobil Donny datang setengah jam kemudian. Dengan senyum aku menyambut mereka berdua dan mereka sedikit bingung. Aku menaiki mobil, menutup pintu dan melaju, meninggalkan penjaraku, menjemput asa. 

__ADS_1


sesampainya di depan Rumah Elia, aku berjalan sambil kembali membawakannya lily putih. rupanya di depan sana Elia sudah menungguku bersama kedua orang tuanya. aku mendekat dengan langkah berat, aku tak tahu betapa ia kecewa karena aku tak mampu memenuhi syarat yang di berikan olehnya. tetapi di belakang Donny menepuk-nepuk pundakku untuk menguatkan; "Jangan gugup, yang penting berusaha dulu."


"Selamat datang, pak. juga pak Donny, dan kak Vania, kan?" sambutnya ramah seperti biasa.


"Benar," balas Vania sambil mengulurkan tangan. tampaknya mereka baik-baik saja, meskipun pertemuan pertama mereka tidak baik-baik saja.


"Lalu di mana Ayah dan Mama, Pak?"


aku terdiam. membisu bagai patung.


"El-lia maaf, aku belum bisa memenuhi syarat dari mu. tetapi, aku harap kedatangan ku tanpa orang tua ini tak mengurangi penilaianmu untuk kembali padaku, Elia. Aku sangat mencintaimu."


"Pak... ayah dan mama masih belum bisa menerima ku ya? aku tahu kita saling mencintai, tetapi restu orang tua itu juga penting. dan bagaimana kita bisa mendapat restu itu jika orang tua pak Damian pun enggan datang menemani?"


...****************...

__ADS_1


yuhuuu..... author rindu, sebentar lagi kita ucapkan salam perpisahan pada a' dami yuuukkk (´∩`。)


__ADS_2