Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Wanita Seribu Muka


__ADS_3

"Kamu belum makan?"


Elia menjawab hanya dengan gelengan kepala.


"Sejak kapan?"


"Pagi tadi," jawabnya pelan. "Akhir-akhir ini, bibi Hera selalu pulang lebih awal dan kembali saat malam, katanya karena anaknya sedang sakit. mama sedang hamil, jadi tidak bisa bekerja berat. tentu saja selama bibi Hera pergi, aku yang menggantikan tugasnya."


aku menarik napas kuat-kuat dan kemudian menjawab, "Kemari lah."


Elia mendekat, lalu ku peluk ia dengan hangat. ku pejamkan mata, rasanya sedikit pahit dan sesak. betapa aku tak memikirkannya. sudah jelas, sejak awal kedatangan kami di sini baik Rinna atau pun ayah seakan acuh bahkan tak bersikap baik pada istriku, Elia.


"Elia?!"


aku membuka kembali mataku dan berbalik badan, tepat di hadapanku, wajah wanita seribu muka, Rinna. muncul dengan senyum terkembang seperti bunga yang baru mekar. hatiku marah sekali, sikapnya seakan tak terjadi apapun. sementara Elia yang ada di sampingku senyum-senyum kecil.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanyanya.


Rinna mendekat dan memeluk Elia juga. begitu terus, tak di lepas. sampai tubuhku terasa amat panas dan mataku melirik sana sini menahan rasa pusing dan marah yang membuat pikiran ku melayang-layang.


"Maaf ya, karena membuatmu kerepotan beberapa hari ini. mama merasa sangat bersalah, terutama jika sampai Damian salah paham." ungkap Rinna, di iringi irama ketukan kaki ku di lantai.


"Seandainya mama tidak sedang hamil, mama tak akan tega membiarkan kamu bekerja sendirian menggantikan tugas bibi Hera. Mama tak mau menghardik nasib malang bibi Hera karena anaknya tiba-tiba sakit. sekali lagi mama Minta maaf karena kamu jadi kerepotan."


sementara suasana sore yang ku harapkan ketenangannya setelah pulang, perlahan mengabur dalam tatapan ku yang mulai berat menanggung khayalan psikopat yang sedang menahan diri. sejenak ku tundukkan kepalaku, lalu ku angkat lagi dan tak lama kemudian keadaanku mulai segar. aku pun berusaha tenang kembali, atau mungkin berpura-pura tenang kembali.


"Ajaib!" Seruku. "Kamu perempuan yang luar biasa tebal muka! berapa pasang topeng yang ada di wajahmu sekarang?! Elia ini adalah istriku, bukan pembantu. Jangan perintah dia semau mu! jika memang bibi Hera ada halangan, seharusnya dia mengatakan pada kita terang-terangan. bukan hanya padamu saja. lagi pula, apakah kamu lupa? aku seorang guru, tidak sebodoh itu. jangan kira aku tak tahu yang sedang kamu pikirkan!!"

__ADS_1


"Memangnya, apa yang ku pikirkan?"


"Kamu pura-pura tidak tahu."


dengan hati-hati dan agak gemetar, ku letakkan piring makan Elia dengan sisa lauk seadanya, ku tegarkan langkahku sambil ku gandeng tangan Elia, ku tuntun ia naik ke kamar.


"Pak?! ada apa? kenapa membereskan pakaian begini?"


Aku diam, hanya tersenyum simpul kemudian melanjutkan memasukkan pakaian ke dalam koper.


setelah itu, aku bangkit dan berdiri di hadapan Elia. "Pakai jaket mu, ya. perjalanan kita jauh dan udara malam pasti akan sangat dingin." kataku.


dia terdiam sejenak, membetulkan jaket yang baru di ambilnya dari tanganku, lalu kembali berkata.


"Aku baik-baik saja Pak, lagi pula mama sudah mengatakannya kan? bibi Hera sedang sakit, aku pun tidak masalah bekerja rumahan begini, bukankah itu sudah biasa ku lakukan di rumah kita dulu, pak Damian sendiri yang lihat. jangan berpikir terlalu jauh, ya? aku baik-baik saja."


"Pakailah jaket mu dengan benar," tampik ku dengan sebal. "Aku tak akan mempercayainya lagi!"


"Jangan pak, aku mohon. Pak Damian dan ayah baru dekat kembali. hubungan keluarga kita mulai membaik, pak Damian sudah mulai meniti karir yang pantas di jalani. bukan bertani. jadi jangan hancurkan hanya karena aku membantu pekerjaan rumah."


biasanya kami saling mengerti dan menghargai. mungkin karena aku terlalu tenggelam dalam lamunanku, atau karena dia terlalu baik hati dengan semua orang dan keadaan. kami membisu. dia menggenggam tangan ku erat-erat untuk meyakinkan, sementara aku memandang karangan bunga yang di taruh tak jauh dari sofa samping jendela. semuanya masih tetap mawar, merah, putih dan Lavender dua tangkai.


"Elia, kamu membuat ku terbunuh sebelum aku mati," kataku pelan.


"Kamu adalah obat untuk kesedihanku, dan kamu pula lemah dari ketegaran ku. aku bisa mati jika ada yang memperlakukanmu begini, sedang aku hanya bisa diam tanpa berbuat apa pun."


sementara Elia tertunduk, aku kembali melanjutkan. "Kita pulang sekarang, ayo!"

__ADS_1


"Pak?! Pak?!"


kenapa aku mesti menerima perlakuan mereka pada istriku?


kenapa aku jadi gila begini?


kenapa aku harus kembali?


tepat di bawah tangga, ayah berdiri menatap kami tajam. menyembunyikan kedua tangannya di belakang pinggang. kami sempat berhenti di atas, dan saling tatap, hingga akhirnya aku dan Elia turun dan melengos di sampingnya begitu saja.


"Kalian mau kemana?" Rinna mendekat. "Elia?! Damian?!"


"Damian, kalau kamu marah karena Elia membantu mama di rumah. mama Minta maaf, mama menyesal karena meminta bantuan Elia untuk membuat kan minum tamu. lain kali mama tidak akan izin kan jika Elia mau membantu. apakah itu tidak cukup? kalian masih mau pergi dari sini? kalian akan pergi cuma karena Elia membantu mama menyiapkan minum?"


"Otakmu itu kosong! Jangan berlagak ini hal biasa dan seakan-akan Elia lah penyebab ini semua." kataku, lantas setelah itu ku tarik kembali tangan Elia menuju pintu depan.


"Damian!!!!" ayah memekik dari belakang sana. "Masalah kecil begini saja, tidak perlu di besar-besarkan. apakah kamu mau menyesal seperti dulu? membesarkan sesuatu yang tidak penting, pergi bertahun-tahun ujung-ujungnya tetap kembali."


"Aku tak akan pernah kembali lagi! seperti yang ayah tulis di surat waktu itu, anggaplah aku sudah mati! Jika tak ada yang bisa menerima Elia di sini, maka jangan harap, aku tunduk."


"Jaga Mulutmu, Baj!ngan!" kata ayah. "Kamu angkat kaki dari sini, ku pastikan Aku bisa mengambil apapun milik mertuamu, jangan pernah kamu lupakan, orang tua gadis itu berhutang besar padaku. bahkan anaknya saja tak akan cukup walau hanya setengah harga."


Bagaimana aku harus melewati intimidasi semacam ini? suami mana yang mampu? siapa yang sanggup melihat istrinya susah lagi? Dia sudah menemaniku sampai sejauh ini, tapi lagi-lagi... dia lagi yang harus tertekan.


bagaimana aku harus memutuskan?


aku terdiam lama, memikirkan betapa beratnya mendayung diantara dua karang. begitu beratnya, hingga seakan aku harus membagi persoalan hidup ini dengan langit-langit rumah yang kelabu asap.

__ADS_1


__ADS_2