
Ketika aku datang, betapa aku kaget bukan kepalang, karena Elia tergeletak lemah di lantai. Lalu Dengan sekuat tenaga, Ku tolong Elia, menggendongnya dan membaringkannya di kamar tidur.
tubuhnya berkeringat dingin dan kulitnya yang cerah menjadi pucat. Maka dari itu dengan bergegas aku berlari ke dapur menyiapkan semua perlengkapan untuk memberikan pertolongan pertama pada Elia.
Ku tundukkan kepala sambil mengompres keningnya dengan air hangat. sesekali dia mende*sah mungkin karena tak nyaman dengan kondisinya sekarang, tetapi aku berusaha tenang walaupun pikiran ku kalang kabut, akan ku coba lakukan yang terbaik.
Disaat akui sedang berusaha menolong Elia, malam mulai meraja di pertengahan, ia semakin larut namun Elia masih terus berkeringat dan mendengus, mendadak mendung tebal di langit dan hujan turun bagai kristal. sambil duduk di sampingnya, ku usap-usap pipi Elia agar membuatnya nyaman dan bisa tidur lebih nyenyak.
namun, Tiba-tiba saja hujan dan angin semakin marah seakan-akan rumah tempat tinggal kami terasa ingin runtuh. Akan tetapi aku tidak akan memikirkan keadaan di luar, yang terpenting bagi ku sekarang adalah Elia bisa tertidur dan keadaannya lebih baikan. aku memutuskan untuk kembali ke dapur, mengganti air hangat untuk mengompres dan membuatkan susu hangat untuk Elia.
Ketika hendak bangkit dari ranjang, Elia menggenggam tanganku seakan ia tak mengizinkan tangan ini lepas membelai wajahnya,
"Pak Damian...,"
"Pak Damian...,"
dia terus memanggil namaku dengan ekspresi wajahnya yang lemas, terseok-seok memohon agar aku tak meninggalkannya. ku balas genggaman tangannya, hingga kedua telapak tangan lain tuan itu saling tarik-menarik kuat dan erat.
"Aku di sini Elia?!" kataku pelan,
dia tak menjawab tetapi mengubah posisi tidurnya. kepalanya kembali menyandar di tanganku.
Ada rasa empatik saat ku pandangi sosok Elia kini, dia yang biasa ceria dan penuh semangat Tiba-tiba terbaring bahkan pingsan di lantai. Tak berapa lama kemudian akhirnya ku batalkan niatku kembali ke dapur dan kembali mengelus kening dan pipi Elia.
Ku perhatikan jam dinding, sudah hampir pukul 12 malam, ku tarik lalu ku buang nafas lewat mulut berulangkali menguap menahan kantuk. di dalam otakku seperti ada mobil berputar di jalan yang sama, tetapi yang menjadi perhatianku adalah rodanya, barangkali seperti itu lah kehidupan tak tertutup adanya perubahan biasanya aku kesulitan tidur, tetapi kini malah kesulitan bangun. mataku sampai berair menahan perih karena ku paksakan untuk terus terbuka dan sadar.
"Pak Damian?!"
__ADS_1
langsung ku naikkan kepala setelah ku dengar suara Elia yang memanggil ku kembali, rupanya tanpa ku sadari, aku hampir tertidur. segera ku geleng-gelengkan kepala agar kesadaranku cepat kembali.
"Aku di sini Elia. kamu perlu apa? apakah masih pusing? mau minum? atau makin tak Nyaman, biar ku antar ke klinik sekarang, ya? berobat."
"Aku mau Pak Damian... " katanya dengan mata setengah terbuka dan ekspresi penuh harap, "Aku mau tidur di peluk pak Damian!"
Aku diam sejenak, berulang kali ku pandangi dia yang menggenggam tanganku semakin erat, kepalanya yang tidur di pangkuan bagian samping paha ku, serta tangannya yang lain kini memeluk melingkari pinggang ku yang ada di sampingnya. dia terengah-engah, dan matanya kembali memejam menahan sakit.
Jangan Khawatir, aku akan selalu berada di sisimu.
benar, kalimat itulah yang pernah di ucapkannya padaku. bahkan saat aku sakit waktu itu pun, dia mampu merawat ku dengan baik, jadi mengapa permintaannya yang mudah begini saja aku harus pikir panjang?
akhirnya ku tarik tangan Elia dari pinggang ku, kemudian ku ubah posisi untuk tidur di sampingnya. dengan lembut dan hati-hati ku benamkan wajahnya di dadaku, dan ku kembalikan posisi tangannya yang memeluk pinggang.
sambil memandangi bintang yang menyebar di langit gelap dan hujan yang semakin menderas, ku elus-elus lembut punggungnya agar ia kembali tertidur. harum rambutnya dapat kembali ku cium saat kepalanya berada tepat di bawah wajahku. mereka menyatu begitu menenangkan pemandangan malam saat hujan dan aroma rambut Elia hasil dari shampoo dengan Ekstrak dari bunga.
akhirnya kami kembali tertidur, sangat menenangkan meskipun ini pertama kalinya kami tidur bersama di atas satu ranjang...
Aku tak bisa menyembunyikan risau yang menghantui, karena semalaman Elia terus mengigau dan berkeringat. jadi aku bangun lebih awal sambil menunggu pagi secepatnya, agar bisa segera menelpon dokter di klinik desa.
"Baik, Terima Kasih." kataku di telpon kemudian kembali lagi menuju kamar untuk melihat kondisi Elia.
ku perhatikan diri nya, nafasnya kini lebih tak beraturan dari semalam keningnya mengkerut seperti mengisyaratkan rasa sakit yang tak bisa di lawan.
"Pak Damian, Ada sisa sup pangsit kemarin sudah ku simpan di lemari pendingin. tinggal di panaskan saja untuk sarapan!" katanya dengan nafas yang lebih pendek.
"Pak Damian sudah mau berangkat kerja, kan?"
__ADS_1
segera ku raih keningnya, suhu tubuhnya lebih panas, dan wajahnya sedikit kemerahan. dia demam.
"Memang Sudah tidak terlalu segar seperti menu sarapan biasanya, tapi setidaknya cukup jangan sampai pak Damian tidak makan."
padahal keadaannya sudah seperti ini, tapi kenapa masih memikirkan makanan untukku?, kenapa masih memikirkan untuk merawat ku? satu hal untuk jawaban yang pasti; benar, aku ini hanyalah beban untuknya, aku ini hanya pria dewasa yang putus asa, yang malah merepotkan Seorang gadis belia untuk merawat ku.
"Permisi! Selamat Pagi tuan!"
pekik seseorang dari luar, lantas aku segera bangkit karena aku tahu itu adalah dokter yang tadi ku telpon.
"Silahkan Masuk," kataku.
Selagi dokter memeriksa keadaan Elia, aku duduk memperhatikan.
"Apakah dia pekerja di sini?" tanya dokter padaku, sontak membuatku terkejut, "Tolong jangan paksakan tenaganya, Anak ini sakit karena terlalu banyak bekerja, fisik dan mentalnya sudah terlalu lelah. jadi dia langsung tumbang di cuaca hujan begini! Apakah kau memaksanya bekerja dari pagi sampai malam? tolong ingatlah, pembantu juga manusia."
"Pembantu?"
"Bukan! Elia itu adalah... "
Dokter memarahiku, namun semua ucapannya tak dapat ku salahkan, Elia adalah istri tetapi orang lain pun mampu menilai bahwa aku memperlakukannya seperti pekerja, karena semua urusan rumah ku serahkan padanya, dan aku tak tahu menau.
saat dokter pulang, aku berdiri di depan kamar sambil merenung. membayangkan betapa kejamnya aku pada seorang gadis tak berdaya, ketakutan ku di awal kembali datang dan rasa ragu kembali menghantui hati dan pikiran ku.
Elia di beli ayah sebagai pengganti hutang, dan terpaksa tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. anak baik sepertinya berhak mendapat kebahagiaan. akan tetapi, kalau tetap bersamaku...
kelak dia akan menderita dan sulit disembuhkan.
__ADS_1
"Pak?! Pak Damian?"
lamunanku pecah saat ku dengar suara Elia memanggil namaku dari dalam. aku langsung bergegas masuk ke kamar, "Elia, kau sudah bangun?"